37 - Bagai Layangan Putus

1755 Kata
            “Oi kalian berdua hentikan!” sahutku kencang sambil berharap di dalam hati kalau penyihir yang gila-gilaan menyerang satu sama lain ini berhenti.             Yang sedikit membuatku terkejut, ternyata mereka berdua benar-benar berhenti. Sebelum kedua penyihir ini kembali menyerang satu sama lain, aku berkata, “Bisakah kalian meninggalkanku di suatu tempat dan bertarung sepuas hati setelahnya?”             Baik Michiru maupun Kirishima belum ada yang mau bergerak sedikit pun. Akhirnya aku kembali melanjutkan, “Jika diingat baik-baik, bukankah aku hanya seorang manusia biasa yang kebetulan tinggal di Jepang yang kebetulan menjadi tempat benda terkutuk itu berada yang kebetulan mengenal kalian berdua dari kejadian itu, ‘kan?”             Kirishima terkekeh pelan. “Terkadang aku bingung dengan logikamu itu, Akari.”             ‘Permisi! Harusnya aku yang mengatakan hal itu tepat di wajahmu!’ batinku.             Michiru kembali mengulurkan tangannya. “Ini yang terakhir kalinya, Kirishima. Bebaskan Akari sekarang juga sebelum kau menyesalinya,” kata Michiru pelan.             Kirishima tersenyum tipis kemudian berkata, “Baiklah. Tapi lakukan dengan usahamu sendiri.” Setelah mengatakan hal itu, tubuhku langsung terdorong ke depan.             Sedikit terkejut dengan apa yang terjadi, sebelah kakiku yang berada di atas Flying Gear milik Kirishima kehilangan pijakannya. Sedetik kemudian, aku hanya bisa mendengar deru angin yang bertiup di kedua telingaku, dan melihat wajah Kirishima yang penuh senyuman serta wajah Michiru yang terlihat sangat panik dan pucat mulai menjauh.             Dengan cepat Michiru melesat ke arahku dengan Flying Gear miliknya. Tetapi, Kirishima yang melihat punggung Michiru terbuka lebar tanpa adanya perlindungan tidak ingin melewatkan kesempatan itu.             Dari bawah sini aku melihat Kirishima mulai menciptakan api di tangannya, dengan cepat aku berkata, “Michiru! Michiru belakangmu!”             Entah Michiru tidak mendengarnya, atau ia memang tidak peduli dengan apa yang kukatakan karena ia tidak menghindar sedikit pun.             Dengan melambaikan tangannya pelan, bola api yang ada di tangan Kirishima langsung melesat cepat ke arah Michiru. Akibatnya serangan itu mengenai punggung Michiru.             Aku hanya melihat wajah Michiru yang sedikit mengernyit, tetapi selain itu tidak ada yang ia lakukan. Michiru tetap melesat menggunakan Flying Gear miliknya untuk menangkapku yang masih berada di udara.             Aku berusaha menggerakkan tubuhku di udara yang terasa sangat berat karena hembusan angin ini. Tetapi karena aku tidak pernah memiliki pengalaman terjun bebas di udara, usaha untuk memutar tubuhku agar Michiru lebih mudah menangkapku malah memiliki efek sebaliknya.             Dengan mengerikan tubuhku malah menghadap ke bawah, melihat pepohonan yang berada di bawah sana semakin lama semakin dekat. Ah, apa bagian tubuhku bisa bertahan jika aku jatuh ke atas pohon dari ketinggian seperti ini?             Meski tidak melihat apa yang terjadi di atas sana, dari suhu yang tiba-tiba menjadi sangat panas, aku tahu kalau Kirishima pasti menyerang Michiru dengan bola api lagi.             “Akari! Tahan sebentar lagi!” sahut Michiru dari jauh.             Baru selesai aku mendengar kata-kata itu, rasanya tubuhku kembali terangkat dan kecepatanku jatuh mulai berkurang karena hembusan angin yang terasa tidak alami ini.             “Michiru!” sahutku kencang karena tidak tahan dengan perasaan takut yang membuat seluruh tubuhku menjerit ngeri.             Hembusan angin yang terasa tidak alami kembali kurasakan, tetapi kali ini angin itu tidak terasa lembut seperti sebelumnya. Angin kali ini terasa menusuk tajam ke balik kulit dan membuat tubuhku berputar-putar di udara, terasa seperti layang-layang yang talinya putus.             Oh, Dorothy! Apakah ini yang kau rasakan ketika kau masuk ke dalam pusaran angin p****g beliung?!             Sayangnya, putaran angin itu tidak membawaku ke Oz, tetapi menuju jurang yang terlihat lebih mengerikan dari sebelumnya. Ah, apa takdirku memang berakhir masuk ke dalam jurang?             “Michiruu! Aku tidak ingin mati mudaa!” sahutku kencang, lagi-lagi perasaan ngeri menggelitik seluruh tubuhku.             Ketika permukaan jurang itu terlihat semakin mendekat, angin lembut kembali menyelimuti seluruh tubuhku. Memperlambat kecepatanku jatuh dan mendorong tubuhku ke sisi jurang.             Rasa panik menguasai pemikiranku, meski tahu apa yang kulakukan ini konyol, tetapi jika bisa menyelamatkan hidupku aku tidak peduli! Aku menggerakkan tubuhku seperti berenang di udara, mencabik-cabik udara dengan kedua tanganku dan menendang-nendang udara dengan kedua kakiku.             Entah karena efek dari gaya perenang udaraku atau memang sihir angin dari Michiru, setidaknya tubuhku tidak akan terjatuh ke dalam jurang lagi. Sayangnya kecepatanku jatuh masih terlalu cepat, mungkin beberapa tulangku akan patah.             Aku menggertakkan gigiku untuk menerima benturan. Untung saja angin lembut itu kembali terasa, membuat kecepatan jatuhku menurun drastis. Tetapi tetap, benturan yang kurasakan sedikit keras. Kemungkinan di beberapa bagian tubuhku mulai memar.             Aku menggigit bagian bawah bibirku untuk menahan rasa sakit, kemudian sebisa mungkin menyeret tubuhku menjauhi ujung jurang. Mengingat kejadian sebelumnya, lebih baik aku menjauh dari jurang atau hal semacamnya untuk beberapa waktu.             Setelah merasa kalau aku masih hidup dengan menepuk beberapa bagian tubuhku, akhirnya aku mendesah lega. Dengan ajaib … tidak, dengan sihir Michiru aku berhasil menghindari mati muda. Aku langsung mendongkakkan kepalaku ke atas, melihat keadaan Michiru dan Kirishima.             Serangan yang dilakukan oleh Michiru lebih mengerikan dari pada sebelumnya. Mungkin karena aku sudah tidak berada di tangan Kirishima lagi, sehingga Michiru mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menyerang Kirishima.             Suara gemuruh petir dan gemercik api terus terdengar. Ke adaan di atas sana rasanya seperti melihat letusan kembang api ketika cuaca sedang badai petir.             Ledakan cahaya yang membuat seluruh langit terang benderang tiba-tiba terjadi. Bahkan aku yang saat itu langsung menutup mata dan menghalanginya dengan tanganku masih bisa melihat cahayanya.             Cahaya yang membutakan itu akhirnya menghilang. Untuk sesaat aku melihat sesuatu yang melesat lurus ke dalam jurang yang ada di depanku. Aku langsung kembali melihat ke atas langit.             Di sana, Michiru yang pakaiannya sudah berantakan baru saja mengusap mulutnya yang berdarah. Ia langsung membalas tatapanku.             Aku mengedipkan mataku sekali, kemudian melihat ke arah jurang yang ada di depan sana. Apa … apa tadi aku baru saja melihat Kirishima terjatuh?             Dengan wajahnya yang sangat khawatir, Michiru melesat cepat ke arahku. Bahkan sebelum kakinya menapak di atas tanah, ia sudah melingkarkan tangannya di sekitarku, memeluk dengan erat.             “Ey, aw! Michiru, sakit!” sahutku karena pelukan Michiru yang terlalu keras itu. Beberapa bagian tubuhku kembali meraung kesakitan.             Dengan gerakan kaku, Michiru langsung melepas pelukannya. Dengan hati-hati ia menarik dan melihat tanganku yang lecet di beberapa bagian, begitu juga dengan lututku.             “Mana lagi yang sakit?” tanyanya dengan wajah yang terlihat semakin khawatir.             “Punggung …”             Belum selesai aku menjawab pertanyaan itu, Michiru langsung berdiri dan menarik baju yang sedang kugunakan. Dengan cepat aku memukulnya keras. “Apa yang coba kau lakukan!?”             Michiru menatapku bingung sambil mengelus kepalanya yang baru saja kupukul. Seakan baru sadar apa yang akan dilakukannya Michiru langsung bersujud di depanku. “Maafkan aku, Nyonya! Tadi aku sedikit panik!”             Aku mendesah panjang dan melihat lukaku sekali lagi. “Ayo kita pulang, Michiru …”             Michiru langsung menganggukkan kepalanya cepat. “Ayo. Ayo kita pulang,” katanya pelan sambil menggendongku di tangannya.             “Maksudku ke villa Seika …”             Michiru tertawa pelan. “Baiklah,” katanya singkat. Sebelum akhirnya semua pandanganku kembali menjadi gelap.             .             .             Hal pertama yang kulihat ketika membuka mata adalah langit-langit kamar dengan ukiran stilir berwarna emas yang sangat indah dan juga tatapan dari khawatir dari Michiru.             “Akariiiii~” kata Michiru dengan suaranya yang menyebalkan seperti biasa.             “Michiru,” kataku dengan suara pelan yang terdengar serak. Jika aku tidak membuka mulutku untuk berbicara, mungkin aku tidak akan tahu kalau suara itu ternyata milikku.             “Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?” tanya Michiru.             Aku mencoba untuk bangun. Tetapi baru saja aku mencoba untuk menggerakkan tanganku, seluruh badanku langsung menjerit kesakitan. Aku harus menggertakkan gigiku lagi untuk menahan erangan.             Michiru langsung berdiri dari duduknya. “Jangan banyak bergerak dulu, Akari. Meski aku sudah menyembuhkan lukamu dengan sihir, tetapi kemampuanku tidak hebat.”             Aku kembali merebahkan tubuhku lagi. “Kenapa tidak bilang dari tadi?” kataku.             Michiru mengerutkan keningnya. “Aku hanya bisa menyembuhkan luka luarnya saja. Sehingga goresan yang terlihat tidak terlalu parah. Tapi rasanya pasti masih sakit.”             “Mmm,” gumamku menyetujui teori yang dikatakan oleh Michiru. “Bagaimana dengan Kazuyoshi? Apa dia baik-baik saja?”             Michiru menganggukkan kepalanya. “Setidaknya ia tidak terluka parah …”             “Syukurlah. Beberapa hari ini kita banyak merepotkan Kazuyoshi.” Aku terdiam sesaat, kemudian mengingat kejadian aku dan Kazuyoshi baru bertemu dengan Kirishima. “Ah, sepertinya Kazuyoshi sudah sadar kalau kau dan Kirishima itu bisa menggunakan sihir dari kejadian yang terakhir itu.”             Kening Michiru semakin berkerut. “Saat kau diserang di taman dekat sekolah itu?”             “Ya. Yang aku berbohong padanya tentang dia yang dirampok itu …” Aku mendesah panjang. Setelah repot-repot mengarang cerita untuk membuat alasan itu ternyata percuma.             “Maaf,” kata Michiru singkat. Wajahnya semakin terlihat bersalah dari pada sebelumnya. “Mungkin Kirishima benar. Seharusnya aku tidak bertemu denganmu. Jika aku tidak memanggilmu untuk meminta makanan saat melihatmu pertama kali, sepertinya hidupmu dan yang lainnya akan jauh dari bahaya seperti ini, ‘kan?”             “Apalah ini! Bukankah aku yang pertama kali memintamu untuk memperlihatkan trik sihir atau apalah itu?” kataku sedikit kesal pada Michiru yang terus menyalahkan dirinya sendiri.             Michiru mengedipkan matanya sekali, kemudian membalas, “Tapi tetap saja. Jika hari itu aku langsung pergi, mungkin—”             “Jangan bicara seperti itu, Michiru,” potongku cepat. “Jika aku kembali ke waktu di mana aku bertemu denganmu pertama kali, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Seberapa banyak pun kau memutar ulang waktu, aku akan tetap menolongmu.”             Wajah Michiru langsung berubah. Dari yang awalnya terlihat tampan menjadi sejelek bebek dengan mulutnya yang menahan tangis itu! Aku tertawa terbahak-bahak ketika melihatnya, tetapi langsung terhenti ketika merasa tulang rusukku terasa sakit.             “Sudah kukatakan jangan banyak bergerak terlebih dahulu!” kata Michiru kembali bangun sambil membantuku perlahan-lahan menyandarkan punggungku ke kasur.             “Habisnya! Wajahmu jelek sekali, Michiru!” kataku sambil menahan tawa lagi.             Dagu Michiru langsung berkerut. Wajah jelek itu kembali terlihat. Untung saja kali ini aku bisa menahannya lebih baik dari pada sebelumnya.             “Ah, bagaimana dengan Seika dan Tetsushi?” tanyaku yang baru ingat pada mereka berdua. Maaf, kalian berdua. Karena kejadian yang kualami sebelumnya sangat mengejutkan.             Michiru mengedipkan matanya berkali-kali. Kemudian memukul keningnya seperti baru mengingat sesuatu. Aku langsung menyipitkan mataku padanya. “Michiru … jangan bilang kau lupa pada mereka? Apa mereka masih ada di rumah kaca?”             Michiru langsung berdiri dari duduknya. “Kuharap begitu …”             “Kau harap begitu!?” kataku mengulang kembali apa yang baru saja ia katakan. “Bagaimana jika Kirishima kembali menyerang!?”             Michiru langsung mengepalkan kedua tangannya. “Tidak perlu khawatir. Meski aku tidak berhasil membunuhnya, dengan luka seperti itu ia tidak akan kembali dalam waktu yang dekat.”             Ah, wajah Michiru yang kembali terlihat mengerikan. Lebih baik aku tidak menyebut Kirishima dalam waktu dekat ini.             “Lagi pula bagaimana caranya kita kembali ke sini kalau Seika saja tidak tahu? Maksudku … pelayan yang bekerja di sini pasti akan mengabari Seika tentang luka yang aku dan Kazuyoshi alami, ‘kan?”             Michiru langsung memalingkan wajahnya, seperti menghindari pertanyaan dariku. Sekali lagi, aku menyipitkan mataku padanya. “Kau diam-diam membawaku dan Kazuyoshi kembali ke sini?”             “Hehe, aku akan menjemput Seika dan Tetsushi! Ah, sepertinya aku juga harus menghipnotis beberapa pelayan terlebih dahulu untuk membuat cerita … ah, betapa sibuknya aku!” kata Michiru yang langsung mengeluarkan Flying Gear dari dalam saku celananya dan terbang menuju langit malam.                           
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN