38 - Izinkan Aku Bersikap Egois

1907 Kata
            Perasaan sedih ketika melihat seseorang yang dikenal tergeletak tidak bernyawa, sudah mulai menghilang di dalam diriku. Perang dalam waktu yang sangat panjang membuat banyak orang yang memiliki mimpi hancur seketika. Bagaikan kepulan debu yang tertiup angin.             Ketika perang itu berakhir, kota yang menjadi tempat tinggalku selama ini sudah memiliki banyak perubahan. Tidak ada perasaan nyaman dan kegembiraan yang biasa dirasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Merqopolish.             Aku yang saat itu mendapat gelar sebagai lulusan terbaik dan termuda dari sekolah sihir rasanya hanya seperti ledekan yang meninggalkan luka sayatan yang dalam di hati. Semua harapan yang diberikan oleh banyak orang hanya menjadi beban yang berat di punggungku.             Karena itu, ketika perang melawan iblis yang menggambarkan tujuh dosa besar akhirnya berakhir, dan kemenangan berada di tangan para Pendeta Suci akhirnya aku bisa bernapas lega.             Para Pendeta Suci itu membagi kekuatan iblis yang menggambarkan tujuh dosa besar menjadi ratusan keping, dan menyegelnya pada sebuah benda. Benda itu akan disucikan untuk menghilangkan kekuatan para iblis itu terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kebangkitan para iblis itu sekali lagi.             Akhirnya, tugas yang melelahkan itu selesai. Setelah memastikan semua benda yang menjadi segel kekuatan iblis itu disucikan, perang ini akan berakhir. Kota Merqopolish akan kembali seperti sediakala.             Tetapi kegembiraan sesaat itu langsung hancur berkeping-keping ketika anggota dari organisasi Penyihir Hitam tidak juga menyerah. Mereka kembali menyerang para penyihir dari Pendeta Suci yang sedang mengantar benda-benda itu untuk disucikan.             Padahal sebelumnya, pasukan khusus yang berhadapan langsung dengan para anggota organisasi Penyihir Hitam sudah memastikan tidak ada lagi anggota organisasi itu yang masih hidup. Tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Masih banyak anggota dari organisasi Penyihir Hitam yang sembunyi dan kembali menyerang di saat waktu yang tepat.             Sebagai salah satu anggota dari pasukan khusus yang berhadapan langsung dengan Penyihir Hitam. Lagi-lagi aku harus menyingkirkan mereka semua lagi. Tetapi, kali ini trik yang mereka gunakan lebih sulit dibandingkan sebelumnya.             Benda-benda yang menjadi segel kekuatan iblis itu mereka lempar ke ribuan dimensi lain di luar sana. Tidak hanya benda-benda itu saja, tetapi semua anggota dari organisasi Penyihir Hitam yang tersisa juga pergi menuju dimensi lain.             Karena itu. Aku sekali lagi mendapat ‘Misi Terakhir’ sebagai pasukan khusus. Aku dan tiga orang anggota dari pasukan khusus lainnya dikirim ke sebuah dimensi di mana ‘bumi’ masih menjadi planet yang bisa ditinggali oleh manusia.             ‘Bumi’. Dalam buku sejarah, planet itu digambarkan sebagai planet biru karena sebagian besar planet itu dipenuhi oleh air. Tidak ada sedikit pun kisah mengenai seorang penyihir, sihir, peri, iblis, mau pun hal semacamnya di sana.             Tetapi karena sihir tingkat tinggi distorsi waktu yang digunakan oleh salah satu anggota dari organisasi Penyihir Hitam melempar beberapa benda itu ke ‘Bumi’, kami juga harus mengejarnya sampai ke sana.             Sebuah portal dibuat untukku dan tiga anggota pasukan khusus lainnya untuk pergi ke bumi. Perasaan ‘takut’ sudah lama hilang dari diri kami. Sehingga kami dapat dengan mudah melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam portal dan dikirim menuju kehidupan yang seharusnya seseorang seperti kami tidak pernah ada.             Entah apakah itu karena ulah sihir dari distorsi waktu, atau peran tambahan yang terjadi karena kehadiran kami para penyihir. ‘Bumi’ yang seharusnya digambarkan dalam buku sejarah tidak mengetahui apa pun mengenai sihir dan semacamnya, ternyata tidak berakhir demikian.             Beberapa hari aku dan tiga anggota lain harus beradaptasi di planet yang tidak kami ketahui ini, sebelum akhirnya mulai berpencar untuk mencari keberadaan benda-benda terkutuk itu.             Selama beberapa hari itu pula aku tersadar, bahwa orang-orang yang tinggal di ‘Bumi’ menggunakan sihir dan semacamnya sebagai hiburan semata. Hal itu membuatku tertawa miris. Andai saja mereka tahu seberapa mengerikannya memiliki kekuatan sihir.             Orang-orang yang tinggal di planet ini membagi ‘Bumi’ menjadi tujuh benua. Aku menggunakan pengetahuan itu untuk memudahkan misi ini dan memilih untuk memeriksa benua Eropa dan Asia.             Mengingat seberapa berbahayanya benda yang terkutuk itu. Tanpa henti aku terus mencarinya di seluruh benua Eropa. Tetapi anehnya, seberapa keras pun aku mencari benda-benda terkutuk itu, tidak ada satu pun yang berada di Eropa. Di akhir, aku memilih untuk memeriksanya di benua Asia.             Benua Asia merupakan yang terluas dibandingkan dengan benua yang lain. Terdapat banyak negara juga di dalamnya. Tetapi, ketika mengunjungi sebuah negara yang memiliki nama ‘Jepang’ aku akhirnya mendapatkan reaksi yang cukup lemah dari benda yang menjadi segel iblis itu.             Tanpa basa-basi, aku langsung mengelilingi seluruh Jepang. Mungkin karena beberapa hari ini aku tidak cukup istirahat. Tidak, lebih tepatnya ketika perang itu dimulai aku tidak pernah memiliki istirahat yang cukup.             Ketika fokusku mulai menghilang, aku melihat seseorang yang entah kenapa bisa membuat jantungku yang rasanya telah lama mati kembali berdetak. Awalnya detak jantung itu terasa sangat pelan, tetapi semakin lama orang itu berjalan mendekat ke arahku, semakin cepat pula detak jantung itu terasa.             Ketika melihat wajahnya, perasaan aneh yang lain kembali muncul. Rasanya begitu sesak, namun terasa nyaman. Perasaan itu semakin lama berubah menjadi kesedihan.             Aku tidak pernah merasakan hal ini ketika melihat orang lain, terutama pada seorang gadis. Perasan aneh ini terasa seperti kembali mendapatkan sesuatu yang sudah lama hilang, dan aku tidak ingin kehilangannya lagi. Dadaku kembali terasa sesak ketika melihat ia tersenyum sambil melihat daun berwarna merah muda dari sebuah pohon yang berguguran.             Meski sudah berjanji untuk tidak berinteraksi secara langsung pada penduduk ‘Bumi’ untuk menghindari konflik yang dapat menghancurkan keseimbangan dimensi ini. Keegoisanku berhasil mengalahkan akal sehatku.             Awalnya gadis itu terlihat ketakutan, dan terlihat jelas kalau ia berusaha untuk menghindariku yang saat itu sedang duduk di trotoar. Tapi, aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Di akhir, aku bertanya padanya apakah ia percaya sihir.             Gadis itu terlihat sangat kebingungan, apa karena penampilanku yang aneh? Mungkin aku harus membuka tudung yang menutup wajahku ini ketika berbicara padanya?             Gadis itu akhirnya membalas pertanyaanku ketika aku sudah membuka tudung yang menutupi wajahku. Ah, tentu saja ia pasti curiga karena seseorang yang terlihat mencurigakan dengan wajah yang tertutup tudung berbicara padanya.             Ketika membalas pertanyaanku, mata berwarna abu yang seharusnya terlihat gelap itu anehnya malah terlihat bercahaya dan lebih indah dibandingkan dengan yang lain. Rambutnya yang berwarna hitam sedikit ikal tertiup dengan lembut oleh angin.             Entah apa yang kukatakan pada gadis itu. Tetapi di akhir ia ingin meninggalkanku karena ia harus pergi ke sekolah. Ah, apa di tempat ini juga ada sekolah? Apa sama seperti sekolah sihir di Merqopolish? Dengan cara apa aku harus membiarkannya tetap tinggal? Menjadi seseorang yang terlihat menyedihkan dan meminta tolong?             Tapi dia tetap pergi dan malah meninggalkanku sebuah kotak yang terasa cukup hangat. Ketika aku membukanya, aroma yang entah kenapa terasa sangat kurindukan menggelitik hidungku. Apa-apaan ini? Siapa gadis itu? Bagaimana aku bisa meninggalkannya ketika mengetahui semua ini? Mataku terasa mulai perih, sensasi yang telah lama hilang kembali terasa. Air mata yang sudah lama tidak menetes kambali mengalir dengan menyebalkan di pipiku.             Semakin lama, perasaan di dadaku ini semakin sesak. Di akhir, sebuah pemikiran muncul di benakku. ‘Aku tidak akan mungkin bisa meninggalkannya’. Karena itu, aku menunggunya untuk kembali.             Untung saja gadis itu kembali lagi ketika hari sudah cukup sore. Wajahnya kembali terlihat takut. Apa ia menganggapku sebagai seorang penguntit? Ah, dia melewatiku seperti tidak kenal aku sebelumnya. Apa aku harus kembali menjadi seseorang yang terlihat menyedihkan? Ah, aku akan melakukannya.             Dengan menggunakan rencana pura-pura kehilangan kesadaran, akhirnya gadis itu kembali mendekatiku lagi. Jika aku sadar sekarang pasti ia benar-benar akan ketakutan padaku, ‘kan? Apa aku harus terus pura-pura kehilangan kesadaran? Baiklah, akan kulakukan.             Untungnya, gadis itu tidak meninggalkanku sendirian atau memanggil petugas keamanan yang disebut sebagai ‘Polisi’. Gadis itu benar-benar baik dengan membawaku ke rumahnya dan merawatku. Apa peranku sebagai seseorang yang menyedihkan sangat bagus sampai ia percaya padaku?             Untuk membuat rasa percayanya lebih tinggi, di akhir aku memberi tahu sedikit informasi mengenai diriku dan juga tentang sihir. Gadis itu masih belum percaya, di akhir aku menggunakan sihirku untuk melakukan suatu hal yang cukup mudah. Tetapi ia menganggapnya sebagai sebuah trik sulap.             Akhirnya, aku menggunakan Flying Gearku untuk terbang. Aku yakin tidak ada trik sulap sehebat ini, ‘kan?             Gadis itu langsung percaya ketika ia mulai menaiki Flying Gear milikku. Aku langsung membawanya terbang menuju langit malam. Senyuman di wajahnya begitu cerah, bahkan sinar dari bulan saja terasa redup jika dibandingkan dengannya.             Setelah percaya padaku, di akhir ia menerimaku untuk tinggal bersamanya dengan alasan menjadi seseorang yang menyedihkan. Hari-hari yang dilalui bersama gadis itu cukup menyenangkan. Aku juga semakin dekat dengannya dan teman-temannya. Perang melawan iblis dan tinggal di Merqopolish rasanya seperti mimpi semata.             Tetapi lagi-lagi kebahagiaan yang kurasakan tidak berlangsung lama. Seorang anggota dari organisasi Penyihir Hitam entah bagaimana berada di sekitar sini. Berarti benda yang menjadi penyegel iblis itu juga ada di di sekitar sini. Sebelum melukai gadis itu, aku harus melenyapkan mereka semua terlebih dahulu.             Untung saja penyihir dari organisasi itu tidak terlalu sulit untuk dikalahkan. Tetapi tidak lama setelah mengalahkan penyihir itu, aku bisa merasakan kekuatan dari kutukan iblis tidak jauh dari sini. Kali ini, aku dapat menghancurkan benda itu dengan mudah karena kekuatan yang ada di benda itu masih terlalu lemah dan belum stabil.             Tetapi sungguh mengejutkan. Baru beberapa hari aku berada di Jepang, dan aku sudah menemukan salah satu dari benda yang memiliki kutukan iblis. Apa ada benda yang lain berada di tempat ini?             Entah aku harus berharap apa. Jika benda dengan kutukan iblis itu masih ada di Jepang, berarti aku masih bisa tinggal dengan gadis itu dalam waktu yang cukup lama. Tetapi kekuatan berbahaya itu sebisa mungkin harus dihindari. Seorang manusia biasa tidak bisa melawannya.             Sepertinya takdir lagi-lagi mempermainkanku. Semakin banyak hal yang bisa membahayakan gadis itu aku singkirkan, hal yang lebih berbahaya malah kembali datang. Bahkan kali ini ada seorang anggota organisasi Penyihir Hitam yang ternyata bagian dari keluarga Albeit. Penyihir dengan kemampuan yang menyulitkan. Masalah satu ini sepertinya akan sulit untuk dihilangkan.             Benda penyegel kutukan iblis kedua sekali lagi ditemukan di Jepang. Kali ini cukup berbahaya dari pada sebelumnya karena kekuatannya mulai stabil, bahkan sampai bisa mengendalikan seseorang.             Aku harus melindunginya dari semua bahaya ini.             Mungkin penyihir dari keluarga Albeit menyadari kalau aku memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Karena itu ia mencoba untuk melukainya, bahkan teman dekatnya. Kali ini aku terlambat sadar karena trik murahannya itu. Tetapi lain kali tidak akan terjadi lagi.             Tetapi penyihir dari keluarga Albeit bergerak lebih cepat dari pada dugaanku. Bahkan kali ini ia sudah menyiapkannya lebih baik dibandingkan sebelumnya.             Lagi-lagi aku telat menolongnya ketika ia berada di dalam kondisi yang membahayakan dirinya.             Lagi-lagi tubuhnya dipenuhi oleh luka.             Lagi-lagi semuanya karena keegoisanku.             Seharusnya dari awal aku memang tidak berbicara padanya.             Seharusnya aku membunuh perasaan asing ini ketika aku merasakannya pertama kali.             Tetapi, meski penuh luka dan tubuhnya yang kesakitan. Gadis itu tetap tersenyum padaku. Aku tidak akan bisa melupakan kata-katanya yang ia ucapkan dengan suaranya yang lembut itu.             “Jika aku kembali ke waktu di mana aku bertemu denganmu pertama kali, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Seberapa banyak pun kau memutar ulang waktu, aku akan tetap menolongmu.”             Kata-kata yang mungkin ia ucapkan telah menyelamatkanku tanpa ia sadari. Apakah aku masih boleh terus egois seperti ini? Apakah aku bisa mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh gadis itu?             Jika waktu kembali terulang, dan sekali lagi aku melihat gadis itu pertama kali di persimpangan jalan itu. Apa aku bisa berhenti dan berbicara padanya lagi?             Mungkin aku tidak bisa mengatakannya dengan percaya diri seperti gadis itu. Tetapi aku yakin, aku akan melakukan hal yang sama.             Jika suatu hari nanti aku harus berpisah dengan gadis itu. Setidaknya aku harus meninggalkan sebuah kenangan yang akan selalu ada di dalam ingatan gadis itu.             Setidaknya, izinkan aku yang bersikap egois sampai akhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN