Ketika kembali terbuka untuk yang ke dua kalinya. Langit-langit kamar dengan ukiran stilir berwarna emas yang sangat indah masih ada di depanku, yang membedakan sebelumnya adalah tatapan khawatir dari Seika dan juga dua wanita yang menggunakan jas putih dokter serta delapan pelayan yang bekerja di villa ini.
“Akariiii~” sahut Seika langsung memelukku dengan erat.
“Ack! Seikaa, pelukanmu terlalu keras!” kataku sambil menepuk pelan tangan Seika yang sedang sibuk memelukku sampai mati.
“Nona Rizumu! Teman anda mengalami beberapa luka memar dan lecet di seluruh tubuhnya!” kata salah satu dokter itu. “Sebaiknya anda berhati-hati untuk tidak menyakiti teman anda secara tidak sadar.”
Seluruh tubuh Seika langsung kaku, dengan pelan ia melepaskan pelukannya dan menarik tubuhnya kembali. Wajahnya terlihat menyedihkan, dengan mata dan hidung yang sangat merah. Sepertinya dia sangat khawatir padaku, sepertinya alasan yang dibuat Michiru cukup mengerikan.
“Akarii … apa masih ada bagian yang sakit? Apa kita harus ke rumah sakit sekarang?” tanya Seika.
Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Tidak perlu, Seika. Lagi pula, dokter keluargamu itu benar. Aku hanya mengalami luka memar dan lecet di beberapa bagian.”
“Ta-tapi … bagaimana bisa seseorang yang melawan beruang dewasa secara langsung hanya mengalami luka memar dan lecet saja? Pasti ada luka lain yang tidak kau sadari!” kata Seika cepat.
Keningku langsung berkedut pelan. Tunggu, melawan beruang dewasa? Beruang dewasaaa?? Sepertinya aku harus berbicara empat mata dengan Michiru sehabis ini.
“Michiru hanya melebih-lebihkan, Seika …”
Seika langsung mengerutkan dagunya. “Meski banyak pelayanku yang terus berpatroli di sekitar hutan ini, tetapi pasti satu atau dua hewan buas menyelinap masuk ke dalamnya! Beberapa tahun lalu salah satu pelayanku juga pernah berhadapan dengan beruang dewasa secara langsung, Akari!”
Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Ternyata memang ada kejadian seperti itu dulu … “Lalu? Apa yang terjadi dengan pelayanmu itu, Seika? Pasti dia tidak apa-apa, ‘kan?”
“Dia kehilangan salah satu tangannya, Akari,” balas Seika pelan.
Michiruuu! Untuk sesaat kukira kau memilih alasan yang tepat, ternyata benar-benar salah!
Aku memaksakan senyuman pada Seika. “Mmm, aku sungguh tidak apa-apa, Seika. Yang harus lebih dikhawatirkan itu Kazuyoshi. Dia melindungiku dari serangan beruang buas itu!
“Dia tidak apa-apa, Akari. Hanya patah tulang di beberapa bagian,” jawab Seika tanpa ekspresi.
“Um, tunggu … bukankah keadaannya lebih parah dibandingkan denganku?”
Seika melipat tangannya di d**a dengan wajah yang terlihat sedikit kesal. “Hmph! Seorang lelaki tidak akan kesakitan hanya karena satu atau dua tulangnya yang patah!”
Ah, sepertinya Seika masih sedikit kesal karena Kazuyoshi tidak membiarkannya berpasangan denganku. “Seika … apa kau masih marah karena Kazuyoshi tidak membiarkanmu berpasangan denganku?”
Seika memalingkan wajahnya, tangannya masih melipat di dadanya.
Aku tertawa geli melihat Seika yang seperti ini. “Seika … jika saja bukan Kazuyoshi yang menjadi pasanganku, mungkin saat ini aku dan kamu yang terluka karena beruang itu, Seika. Setidaknya berterima kasihlah padanya, ya?”
Seika menurunkan tangannya perlahan-lahan. “Hmph, untuk kali ini aku akan memaafkannya karena sudah melindungimu, Akari!”
“Hehe, tentu saja!”
“Apa kau ingin beristirahat lagi? Oh, apa lebih baik kita pulang saja?”
Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Tidak perlu, aku sudah terlalu banyak tidur, Seika. Lagi pula aku masih ingin berlibur lebih lama. Bukankah masih ada dua hari lagi?”
Seika mengedipkan matanya sekali. “Um, sebenarnya Akari … kemarin kamu tidur seharian, dan baru sadar sekarang. Mungkin karena terlalu kelelahan …”
Kali ini giliran aku yang mengedipkan mata sekali. “Tunggu. Tidur seharian? Berarti hari ini itu hari senin malam?”
Seika menganggukkan kepalanya sekali.
“Berarti besok hari selasa dan hari terakhir kita liburan?”
Seika menganggukkan kepalanya sekali lagi.
Aku langsung memukul keningku pelan. Pantas saja Seika terlihat sangat khawatir! Untung saja dia tidak membawaku ke rumah sakit dan melakukan operasi besar-besaran.
“Ah, liburan panjangkuuuu …”
“Bagaimana jika aku menelepon kepala sekolah untuk memberi kita libur tambahan, Akari? Aku bisa melakukannya dengan mudah!” katanya langsung melambaikan tangannya ke pada salah satu pelayannya, meminta untuk mengambilkan ponsel miliknya.
“Tidak perlu!” kataku cepat sebelum pelayan itu memberikan ponsel Seika padanya. “Tidak apa-apa, masih ada besok, ‘kan? Lagi pula sekarang jam berapa?”
Seika melihat jam yang tertera di layar ponselnya. “Jam enam sore …”
“Berarti masih ada waktu untuk bersenang-senang lagi! Ditambah besok, menurutku liburan ini cukup panjang,” tambahku untuk meyakinkan Seika agar ia tidak jadi menelepon kepala sekolah.
“Apa kau yakin?”
Aku membalasnya dengan menganggukkan kepalaku.
“Jadi aku tidak perlu menelepon kepala sekolah untuk meminta liburan tambahan?”
Aku membalasnya dengan menganggukkan kepalaku lebih cepat.
“Baiklah kalau begitu … apa sekarang kau perlu istirahat lagi?”
Kali ini aku menggelengkan kepalaku. “Bukankah sudah kukatakan kalau aku sudah cukup istirahat? Lagi pula aku sudah tidur seharian, pantas saja tubuhku terasa kaku. Aku harus jalan-jalan sebentar, Seika.”
Seika memberikan ponsel miliknya pada pelayannya lagi. “Kalau begitu ayo kita jalan-jalan, aku akan membantumu.”
Aku tertawa geli pada Seika. “Seika, tubuhku hanya memar dan lecet sedikit. Aku bukan pasien patah tulang atau seseorang yang sedang hamil sembilan bulan.”
“Baiklah,” jawab Seika singkat. Tetapi ia tetap membantuku untuk berdiri layaknya seorang pasien yang mengalami luka serius. “Kau ingin jalan-jalan ke mana, Akari? Taman? Atau pantai?”
“Ayo kita ke kamar Kazuyoshi sebentar, Seika. Aku khawatir dengannya.”
Seika sedikit mengernyitkan hidungnya tetapi tetap menemaniku ke sana. Setelah mengetuk dua kali pintu kamar Kazuyoshi, Michiru dan Tetsushi, dari dalam aku mendengar seseorang yang menjawabnya.
Seika langsung membuka pintu itu dengan kencang, seperti tidak peduli dengan orang-orang yang ada di dalamnya.
Hal yang paling menarik perhatianku ketika memasuki ruangan itu adalah tangan Kazuyoshi yang dipasang gips, lalu luka sayatan di wajahnya yang terlihat cukup jelas, tetapi untung saja luka sayatan itu bisa menghilang jika sudah diobati.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku setelah duduk di kursi yang disiapkan oleh Tetsushi dan Seika. Michiru duduk di sisi kasur yang lain.
“Selain patah tulang di beberapa bagian, luka sayatan dan memar yang ada di seluruh tubuhku? Aku baik-baik saja,” jawab Kazuyoshi tanpa ekspresi.
“Maaf, aku hanya ingin basa-basi,” kataku pelan.
Seika dan Tetsushi langsung terkekeh pelan. Wajah Michiru langsung terlihat sedih, sepertinya ia masih merasa bersalah karena kejadian sebelumnya.
“Bagaimana denganmu, Akari?” tanya Kazuyoshi. Meski wajahnya terlihat sedikit khawatir, tetapi ada kilatan dengan makna tersembunyi di matanya.
Ah, sepertinya Kazuyoshi masih mengingat semua kejadian sebelumnya. Berarti Michiru tidak berniat untuk menghipnotisnya lagi, ya?
“Aku baik-baik saja, Yusuke,” jawabku dengan maksud untuk menegaskan kalau kejadian sebelumnya benar-benar nyata.
Kazuyoshi langsung tersenyum ketika mengerti apa maksudku. Ternyata bukan hanya aku yang dapat dengan mudah mengetahui apa yang dipikirkan Kazuyoshi karena sudah berteman cukup lama dengannya, tetapi Kazuyoshi juga merasakan hal yang sama.
“Ey, apa ini!? Sejak kapan kalian jadi akrab begitu?” potong Seika cepat sambil menutup kedua mataku tiba-tiba. “Lalu ada apa dengan pandangan penuh makna yang kalian berdua lakukan itu!?”
Kazuyoshi terkekeh pelan. “Kau pasti tidak tahu karena belum pernah mengalaminya, Rizumu. Jika seorang lelaki dan perempuan berhasil melewati situasi berbahaya sama-sama, bukankah wajar kalau mereka akan menjadi lebih dekat dibandingkan sebelumnya?”
“Tidak! Aku tidak setuju!” sahut Seika kencang seperti seorang ibu yang tidak merestui hubungan anaknya.
Aku berusaha melepas tangan Seika yang menutupi kedua mataku. “Seika, lagi pula aku dan Yusuke sudah berteman sejak dulu. Bahkan dulu kami juga sering memanggil nama depan kami. Bukan begitu, Yusuke?” kataku mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Kazuyoshi.
Kazuyoshi langsung menganggukkan kepalanya tegas. “Itu benar, Akari.”
“Kalau begitu panggil aku Seika juga!”
Kazuyoshi langsung menggelengkan kepalanya. “Bagaimana mungkin aku berani melakukan hal itu!? Aku tidak ingin melawan pasukan militer khusus yang dibentuk oleh keluargamu itu, Rizumu.”
Seika mengedipkan matanya sekali. “Bagaimana bisa kau tahu kalau keluargaku punya pasukan militer khusus?”
Kali ini giliran aku, Kazuyoshi, Tetsushi dan Michiru yang mengedipkan mata. “Tunggu, kau memilikinya, Rizumu?” tanya Tetsushi.
Seika menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu.
“Ah … seketika aku merasa kasihan pada seseorang yang akan menikahi Seika kelak,” gumam Kazuyoshi pelan. Tetsushi menganggukkan kepalanya setuju.
Dengan mata yang bergetar, Michiru bertanya, “Apa aku juga harus memanggilmu Rizumu mulai sekarang?”
Seika langsung mengerutkan dagunya. “Kenapa sikap kalian jadi berubah seperti itu? Tentu kedua orang tuaku tidak akan mengirim pasukan khusus keluarga Rizumu karena masalah seorang lelaki yang memanggil nama depanku, ‘kan?”
Michiru langsung tertawa terbahak-bahak. “Baiklah aku hanya bercanda!”
“Kalau begitu panggil aku Seika!” tunjuknya pada Kazuyoshi. “Kau juga, Tetsushi! Sebaliknya aku akan memanggilmu Kaji!”
Kazuyoshi dan Tetsushi hanya bisa tersenyum miris. Entah kenapa kami semua saling memanggil nama depan di akhir. Sepertinya liburan ini membuat kami semua semakin akrab, ya?
Seika menepuk tangannya sekali kemudian berkata, “Ah! Kalian belum sempat makan, ‘kan? Bagaimana jika kita pesta barbeque di atap?”
Michiru langsung menganggukkan kepalanya. “Barbeque, daging, aku setuju!”
“Kalau begitu aku akan menyiapkannya! Ayo bantu aku, Kaji!” kata Seika langsung menarik tangan Kaji.
Kaji mengerutkan kedua alisnya. “Kenapa harus aku?”
“Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi lebih akrab karena seorang lelaki dan perempuan berhasil melewati situasi berbahaya sama-sama!”
“Tapi dengan menyiapkan barbeque sepertinya tidak termasuk …” Kaji terdiam beberapa saat kemudian wajahnya langsung berubah ketika mengingat sesuatu. “Itu benar, sepertinya menyiapkan barbeque denganmu termasuk situasi yang berbahaya.”
Seika memiringkan kepalanya ke samping dengan wajah yang bingung. “Hm, aku tidak mengerti tetapi tidak masalah! Ayo kita pergii!” katanya sambil menarik tangan Kaji ke luar kamar.
Keadaan di ruangan itu seketika menjadi sunyi. Aku menatap Yusuke dan Michiru bergantian dengan ragu.
Setelah mendesah panjang akhirnya Michiru berdiri dari duduknya dan langsung melakukan Dogeza[1]. “Maaf! Semua ini karena aku yang menyeret kalian ke dalam masalahku!”
Aku langsung berdiri dari dudukku, dan berjalan ke samping Michiru sambil menariknya untuk berdiri. Tetapi Michiru tetap tidak bergeming sedikit pun, padahal aku sudah menariknya dengan cukup kuat.
Aku memijat kepalaku yang mulai terasa pusing. “Michiru, sudah kukatakan sebelumnya, ‘kan? Kalau ini bukan salahmu, tetapi salahku juga,” kataku pelan. Kemudian langsung menunduk pada Yusuke. “Aku juga seharusnya meminta maaf padamu, Yusuke. Karena kau jadi terluka …”
Yusuke mendesah panjang. “Kali ini kau juga meminta maaf, Akari? Aku sudah mengatakan berkali-kali pada Michiru untuk tidak menyalahkan dirinya. Jika kau melakukan hal yang sama, aku juga jadi kesulitan.”
“Hehe, maaf terbawa suasana,” kataku yang masih menarik Michiru untuk menghentikan Dogezanya.
Dengan kaku Michiru berdiri dari Dogezanya. “Aku berjanji tidak akan terjadi hal yang seperti ini lagi.”
Yusuke tersenyum tipis pada Michiru. “Lebih baik begitu, aku tidak ingin berhadapan dengan Kirishima apalah itu lagi.”
“Maaf,” kata Michiru terlihat merasa bersalah lagi.
Aku langsung memukul bahu Yusuke dengan keras, dan ia langsung mengaduh sambil memukul bahunya itu.
“Ah, apa kita akan merahasiakan hal ini pada Seika dan Kaji?” tanyaku.
Michiru mengerutkan keningnya. “Karena Kirishima sudah tahu seberapa dekatnya aku dengan kalian, pasti cepat atau lambat dia akan menyerang Seika dan Kaji, jadi sebaiknya aku memberi tahu mereka. Tapi …”
“Tapi?” tanyaku dan Yusuke bersama.
“Tapi jika aku memberi tahu mereka, apa mereka akan menjauhiku? Karena … karena mereka bisa saja berada di situasi yang berbahaya.”
“Heh,” dengus Yusuke sekali. “Apa kau pikir aku menjauhimu karena mengetahui kalau kau seorang penyihir?”
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa KAU menjauhiku?” tanya Michiru balik.
“Aku sudah mengingat semuanya ketika Kirishima menyerangku, tetapi aku memilih untuk pura-pura tidak ingat karena aku menunggu dirimu, Michiru.”
Kedua alis Michiru langsung terangkat. “Menungguku?”
“Ya. Menunggumu untuk menjelaskan semuanya padaku secara langsung. Jika aku bertanya, sepertinya di akhir kau hanya akan menyangkal hal itu dan kembali memainkan ingatanku seperti sebelumnya, ‘kan?”
“Maaf …”
Kali ini Michiru yang aku pukul. “Lihat, ‘kan? Kau ini terlalu khawatir.”
“Tapi untuk saat ini aku merasa tidak seharusnya memberi tahu mereka terlebih dahulu. Aku akan memberi tahu mereka nanti.”
Keningku berkedut kesal. “Kalau begitu untuk apa kami susah-susah meyakinkanmu untuk memberi tahu mereka kalau di akhir kau tidak ingin melakukannya, hah!?”
Note:
[1]Dogeza: Dogeza (* **) adalah elemen etiket tradisional Jepang yang melibatkan berlutut langsung di tanah dan membungkuk untuk bersujud sambil menyentuhkan kepala ke lantai. Ini digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada seseorang dengan status yang lebih tinggi, sebagai permintaan maaf yang dalam atau untuk mengungkapkan keinginan akan bantuan dari orang tersebut.