Michiru mengerutkan keningnya. “Karena Kirishima sudah tahu seberapa dekatnya aku dengan kalian, pasti cepat atau lambat dia akan menyerang Seika dan Kaji, jadi sebaiknya aku memberi tahu mereka. Tapi …”
“Tapi?” tanyaku dan Yusuke bersama.
“Tapi jika aku memberi tahu mereka, apa mereka akan menjauhiku? Karena … karena mereka bisa saja berada di situasi yang berbahaya.”
“Heh,” dengus Yusuke sekali. “Apa kau pikir aku menjauhimu karena mengetahui kalau kau seorang penyihir?”
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa KAU menjauhiku?” tanya Michiru balik.
“Aku sudah mengingat semuanya ketika Kirishima menyerangku, tetapi aku memilih untuk pura-pura tidak ingat karena aku menunggu dirimu, Michiru.”
Kedua alis Michiru langsung terangkat. “Menungguku?”
“Ya. Menunggumu untuk menjelaskan semuanya padaku secara langsung. Jika aku bertanya, sepertinya di akhir kau hanya akan menyangkal hal itu dan kembali memainkan ingatanku seperti sebelumnya, ‘kan?”
“Maaf …”
Kali ini Michiru yang aku pukul. “Lihat, ‘kan? Kau ini terlalu khawatir.”
“Tapi untuk saat ini aku merasa tidak seharusnya memberi tahu mereka terlebih dahulu. Aku akan memberi tahu mereka nanti.”
Keningku berkedut kesal. “Kalau begitu untuk apa kami susah-susah meyakinkanmu untuk memberi tahu mereka kalau di akhir kau tidak ingin melakukannya, hah!?”
Yusuke mendesah pelan. “Lakukan sebisamu, Michiru. Untuk saat ini kita punya masalah yang lebih besar dari pada hal itu, ‘kan?”
“Masalah yang lebih besar? Masalah apa?” tanyaku sediki bingung.
“Mungkin jika kau tidak menghentikannya, kita semua bisa mati, Akari,” kata Yusuke dengan wajah yang lebih serius dibandingkan sebelumnya.
“Sudah kubilang, masalah apa!?”
Michiru langsung terkesiap, wajahnya juga berubah menjadi lebih serius dari pada sebelumnya. “Jangan-jangan … barbeque …”
Yusuke menganggukkan kepalanya. “Sepertinya Kaji juga sudah menyadari hal itu sebelumnya. Karena itu ia langsung bersedia membantu Seika untuk menyiapkannya, ‘kan?”
“Kalau begitu tunggu apa lagi!? Pesta barbeque keluarga Rizumu pasti menggunakan daging yang sangat mahal dan berkualitas tinggi! Aku tidak bisa membuat daging yang jarang ditemukan itu terbuang sia-sia!” sahut Michiru, kali ini lebih semangat dibandingkan dengan sebelumnya.
Setelah mengetahui masalah apa yang mereka bicarakan, tanpa basa-basi lagi aku juga langsung berdiri dan pergi menuju atap dengan menggunakan lift bersama Michiru dan Yusuke.
.
.
Untunglah sepertinya aku, Michiru dan Yusuke belum terlambat datang. Karena saat ini Seika baru menyimpan beberapa piring berisi daging dan potongan sayur di atas meja, sedangkan Kaji sepertinya masih sibuk menyiapkan panggangannya.
“Tumben sekali kau menyiapkannya sendiri, Seika. Ke mana pelayanmu yang lain?” tanya Yusuke.
“Sudah kubilang aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi lebih akrab karena seorang lelaki dan perempuan berhasil melewati situasi berbahaya sama-sama, ‘kan?” Seika balik bertanya. “Karena itu aku yang memutuskan untuk menyiapkan semuanya sendirian dengan Kaji!”
“Be-berarti memasaknya juga?” tambahan pertanyaan dari Michiru.
Seika langsung menganggukkan kepalanya dengan bangga.
Kaji yang berada di belakang Seika langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aku, Michiru dan Yusuke yang mengetahui kode itu langsung membuat kesepakatan secara langsung.
“Seika! Bagaimana jika Akari yang membantumu?” tanya Michiru tiba-tiba.
“Ya! Ya itu benar. Bukankah Akari lebih pandai memasak dibandingkan denganku?” Kaji langsung ikut bergabung.
“Betul! Aku pernah merasakan masakan Kaji dan rasanya tidak bisa diterima oleh perut!” tambah Yusuke berusaha untuk meyakinkan.
Ternyata, kesepakatan itu berbeda dengan apa yang ada di pikiranku. Jadi intinya, mereka melemparkan tanggung jawab kehidupan mereka padaku, ya!?
Tapi untuk kebaikan bersama, sebaiknya aku mengikuti rencana ini juga. “Aku tidak masalah.”
Seika langsung mengerutkan keningnya. “Tapi kau terluka, Akari. Kaji, apa kau tega membiarkan seorang perempuan yang terluka untuk memasak!?”
“Aaahh! Tapi aku ingin memasak denganmu, Seika. Kita belum pernah melakukannya, ‘kan?” potongku sebelum Kaji salah bicara.
“Baiklah! Ayo kita lakukan!” kata Seika yang ternyata langsung setuju.
Michiru, Yusuke dan Kaji langsung mendesah lega. Mereka bertiga langsung mengangkat ibu jarinya padaku. Entah kenapa aku bisa mendengar satu kata di pikiran mereka. ‘Kami berhutang nyawa padamu!’
Aku menggeleng pelan sambil menarik Seika menuju tempat panggangan yang sudah dipasang oleh Kaji dengan sangat baik. Untung saja sayurannya sudah dicuci, dan dagingnya juga sudah dipotong menjadi potongan kecil. Ada juga bahan-bahan yang lain seperti sosis dan jamur. Berarti sisanya tinggal menambahkan saus dan memanggangnya. Masak semudah ini tidak akan mungkin bisa berbahaya, ‘kan?
“Ayo kita mulai masak!” sahut Seika semangat sambil menggulung kemejanya itu. “Ah, meski aku setuju kau yang membantumu memasak, tetapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja, Akari!”
“Emm, bagaimana kalau aku menontonmu memasak saja?” tawarku masih tidak ingin menyerah untuk meninggalkan Seika masak sendiri.
Seika menganggukkan kepalanya setuju dengan permintaanku. “Kalau itu tidak masalah! Lihat aku masak, ya? Kemampuan memasakku sudah sangat membaik!”
Dengan mata yang terbuka lebar, aku hanya terfokus pada tangan Seika yang mulai memasak. Awalnya dia memotong daging, ayam, sosis, jagung, jamur, paprika, dan bawang bombay, menurutku masih aman.
Kedua dia menusukkan bahan-bahan yang baru saja ia potong ke tusukan yang dipakai untuk membakar bahan-bahan itu di panggangan, masih aman.
Ketiga dia mulai memanggang bahan yang sudah di tusuk di pemanggang. Semua aman. Kemampuan memasaknya sangat baik. Lalu … apa yang penyebab masakan Seika terasa mematikan?
“Kau pandai memasak, Seika!” kataku yang benar-benar memuji kemampuannya dalam memasak.
“Haha iya lah, kalau memasak barbeque saja tentu sangat mudah! Sekarang, aku hanya tinggal mengoleskan sausnya,” kata Seika sambil tersenyum lebih cerah dari pada sebelumnya.
Tiba-tiba aku punya firasat buruk. Mataku kembali terbuka lebar memerhatikan apa yang menjadi bahan-bahan untuk membuat saus itu.
Seika menyiapkan saus tomat, lada, merica, air perasan lemon, saus sambal, gula yang sudah dicairkan ... dan bahan-bahan lainnya. Bahan-bahan ini tidak terlihat aneh. Bahkan mungkin saus barbeque dengan bahan-bahan seperti ini bisa dicari dengan mudah di Gu*gle.
Ia pun memasukkan bahan-bahan itu ke panci yang sudah dipanaskan. Seika menambah sedikit air –aku sudah memeriksanya dan memang itu air biasa—kemudian ia mengaduknya sampai mengental.
Semerbak wangi nikmat langsung tercium di udara. Michiru, Yusuke dan Kaji langsung menatapku untuk memastikan kalau apa yang mereka cium ini benar-benar aman. Aku menganggukkan sekali untuk menjawab pertanyaan tanpa suara dari mereka itu.
Setelahnya, wajah mereka langsung tenang dan mulai mengobrol satu sama lain. Aku kembali melihat proses masak itu sekali lagi.
“Nah ini dia bumbu rahasianya!” Seika mengeluarkan satu toples kaca mencurigakan dari salah satu laci yang ada di dekatnya. Apa itu sebuah bumbu? Aku mendekatkan diriku untuk membaca tulisan yang ada di toples itu.
H2SO4.
Oh … bumbu yang baru saja dikeluarkan oleh Seika adalah H2SO4 … tunggu, kenapa rasanya seperti sebuah rumus kimia.
H2SO4 … H2SO4. Bu-bukankah itu Asam Sulfat!? Seika ingin menambahkannya ke dalam makanan!?
Dengan cepat aku mengambil toples itu. “Ja-jangan tambah ini, Seika!” Aku langsung memeluk toples itu seperti memeluk nyawaku sendiri.
“Ahhh.. kenapa?” tanya Seika dengan wajah yang polos.
Aku langsung mengusap keningku. “Seika … kau tahu ini apa, ‘kan?”
Seika langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Tentu aku tahu. Kalau kau memasukan Asam Sulfat ke dalam masakan, kandungan monosakarida di dalam nya akan bertambah dan menjadikan rasa manis yang gurih!” Kata Seika dengan kepintaran yang luar biasanya itu.
“Seika … terkadang aku sangat bangga denganmu yang sangat pintar ini. Tetapi terkadang kau juga bisa sangat … mengagumkan, ya? Tapi ini kan bahan kimia, Seika. Jika kita menggunakannya untuk makanan … bukankah rasanya tidak alami lagi?” kataku berusaha meyakinkan Seika untuk tidak menggunakan BUMBU RAHASIA ini.
“Ahh sayang sekali.. padahal aku juga ingin menambahkan Asam Kloroasetat juga. Karena rasa asamnya bisa membuat kita lebih tergiur untuk memakannya lebih banyak! Lidah juga akan terasa meleleh kau memakannya,” tambah Seika sambil mengeluarkan satu toples yang lain.
Iya lidah jadi meleleh. Tetapi meleleh dalam arti yang sebenarnya! Aku juga langsung menyambar toples itu. “Ahh! Ini juga jangan! Pokoknya JANGAN pakai bahan yang tidak alami, ya? Pokoknya setiap masak apa pun kau jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada di bahan-bahan untuk memasaknya. Mengerti?”
Meski sedikit cemberut, Seika tetap menganggukkan kepalanya. “Uhhh baik-baik.”
Walau Seika berkata seperti itu, aku tetap tidak bisa meninggalkannya sendiri sampai ia menyelesaikan semuanya.
.
.
“Kemari kalian, lelaki yang hanya bisa menyuruh perempuan masak! Semuanya sudah siap!” kata Seika yang masih membalikkan beberapa tusuk barbeque.
Michiru, Yusuke dan Kaji langsung berjalan mendekat ke alat pemanggang. “Ini aman ga?” bisik Michiru.
“Aman kok,” balasku. Aku juga menganggukkan kepalaku pada Yusuke dan Kaji untuk memberi mereka kode kalau masakan Seika kali ini benar-benar aman.
”Ka-kalau gitu.. selamat makan!!” sahut Michiru sambil mengambil satu tusuk barbeque, kemudian menggigitnya tanpa ragu. Mata terpejam ketika mengunyah makanannya.
Di sisi lain, aku, Yusuke dan Kaji berpikir mungkin nanti kita bisa mengubur tubuh Michiru di pantai jika suatu hal terjadi padanya. Kami menunggu selama 1 detik … 2 detik … 5 detik … 7,785749547 detik … sampai akhirnya kedua mata Michiru terbuka lebar, dan bergumam pelan, “E-enak.”
Karena tidak ada korbban pertama yang jatuh, di akhir Yusuke dan Kaji juga ikut memberanikan diri untuk mengambil satu tusuk dan memakan barbeque itu, aku juga ikut melakukannya.
Benar apa yang dikatakan Michiru. Masakan Seika sangat enak! Ternyata selama ini tampilan manis masakan Seika tidak berbohong. Ia benar-benar pandai memasak, hanya saja ia selalu menambahkan bumbu rahasia ke dalam masakannya sehingga setiap orang yang mencoba masakan Seika akan menjadi korban.
Seika menepuk kedua tangannya terlihat senang. “Hehe terima kasih! Baru kali ini ada yang bilang masakanku enak dengan wajah bahagia seperti kalian! Karena biasanya setiap orang yang mencoba masakanku langsung pingsan. Hm, apa masakanku kurang enak sampai kalian tidak ingin pingsan? Apa aku harus pakai bumbu rahasiaku lagi?”
“Enak kok! Enakan seperti gini!!!” jawabku dan yang lainnya secepat mungkin.
Seika mengangguk mengerti, kemudian ia juga ikut mengambil satu tusuk barbeque. Ketika Seika tidak melihat, diam-diam ketiga lelaki itu kembali memberiku ibu jarinya.
.
.
“Wahhh kenyanggg!” Kata Michiru yang mengelus perutnya yang sekarang jadi sedikit buncit itu.
“Ya iyalah kamu kenyang! Kamu sendiri makan sepuluh porsi!” kataku pada Michiru sambil memukul perut Michiru yang membuncit itu.
“Aduh duh jangan dipukul! Nanti laper lagi nih …”
“Mau tambah lagi?” tanya Seika sambil membuat lengkungan senyum di wajahnya.
“Tidak! Sudah cukup,” kataku sebelum Michiru berkata iya.
“Hmm abis ini kita ngapain?” tanya Yusuke sambil duduk di sebelahku. Sebelah tangannya yang digips terlihat menyedihkan.
“Apa kalian ingin naik kapal pesiarku?” tanya Seika yang tidak sadar dengan kekayaan yang ia miliki itu.
“Ahhh-haha! Mungkin lain kali?” jawabku grogi. Untung saja yang lain menganggukkan kepalanya setuju.
“Yahh kenapa? Padahal langitnya terlihat bagus! Kita bisa lihat bintang sambil naik kapal pesiarku!”
“Ba-bagaimana jika kembang api?” usul Kaji.
Aku langsung menganggukkan kepalaku. “Ide bagus! Kembang api di musim semi. Ide yang sangat berbeda dari pada yang lain!”
“Kalau begitu aku akan minta pelayanku untuk menyiapkan seribu kembang api—”
“Eiitss!! Jangan banyak-banyak, Seikaa!” Kali ini Michiru yang menghentikan Seika.
Seika mendesah panjang. “Kalian ini … aku baru tahu kalau kalian banyak maunya!”
“Kembang api Sparkler saja! Kau tahu? Kembang api yang bisa kau pegang dengan tangan itu …” kataku cepat sebelum Seika mendapat ide gila lainnya. Michiru dan yang lainnya juga ikut menganggukkan kepala mereka setuju.
“Hm, baiklah! Aku akan meminta pelayanku kembang api seperti itu!” kata Seika yang akhirnya bisa memenuhi keinginanku dan yang lain.
.
.
“Bersiaplah kau Kaji! Aku, Raja Iblis yang akan membunuhmu!” sahut Michiru sambil mendekati Kaji dengan kembang api yang ada di kedua tangannya.
Dengan cepat Kaji berlari menjauhi Michiru. “Michiru, itu berbahaya!”
Tiba-tiba kembang api yang Michiru gunakan untuk menakut-nakuti Kaji padam. Melihatnya Yusuke langsung tertawa terbahak-bahak.
Dengan sebelah tangannya yang digips, dan sebelah tangannya yang bebas memegang kembang api, ia mulai mendekati Michiru. “Nyawamu pendek sekali Raja Iblis, HAAHAAHAA. Aku ... Paladin terkuat yang datang untuk membasmi iblis di muka bumi, yang akan melenyapkanmu! Bersiaplah menemui ajal mu!!”
“Yusuke! Tanganmu masih cedera, jangan banyak tingkah!” sahutku mencoba untuk menghentikan Yusuke. Tetapi tidak berguna. Di akhir, Kaji yang harus memerhatikan kedua anak kecil bertubuh dewasa untuk tidak melakukan hal yang berbahaya.
Aku memeriksa kotak berisi kembang api yang dibawa oleh pelayan Seika. “Seika! Ada kembang api roket!”
“Hah! Itu yang paling keren! Ayo ayo kita pasang!” kata Seika sambil mengambil kembang api itu dariku. Tapi kembang api itu direbut lagi oleh Michiru.
“Biar aku yang pasang!” kata Michiru dengan senyuman cerah di wajahnya.
“Eh! Urusan kita belum selesai, Raja iblis!!” Sahut Yusuke pada Michiru. Tetapi di akhir ia malah duduk di sampingku dan menunggu Michiru menyalakan kembang api itu.
Kembang api roket itu pun dinyalakan oleh Michiru. Entah dia menambahkan sihir atau tidak, kembang api roket yang kira-kira isinya hanya kurang lebih delapan sampai sepuluh kali ledakan, malah tidak berakhir sampai tiga puluh menit lamanya.