41 - Liburan Hari Terakhir

1785 Kata
            Keesokan paginya aku dibangunkan oleh kaki Seika yang mendarat tepat di hidungku. Setelah mengusap hidungku yang terasa sakit karena serangan Seika yang mendadak itu, aku melihat ke arah jam dinding berukir emas yang dipasang di dinding bercat biru muda.             ‘Masih jam lima pagi …’ batinku sambil melihat ke arah Seika yang sekarang sudah dengan kaki dan tangannya yang telentang lebar. Sepertinya aku tidak akan bisa tidur lagi.             Setelah menyelimuti tubuh Seika, aku memilih untuk keluar kamar dan pergi ke pantai untuk jalan-jalan sebentar. Meski hari masih sangat pagi, tetapi pelayan Seika sudah banyak yang mulai bekerja.             Meski dari dulu aku sering mendapat perlakuan khusus dari pelayan yang bekerja di keluarga Rizumu setiap kali aku  berlibur dengan Seika, aku tetap merasa grogi ketika setiap pelayan yang melihatku langsung menundukkan tubuhnya memberi hormat. Dengan langkah yang cepat, akhirnya aku berhasil keluar dari villa itu setelah sempat salah jalan beberapa kali.             Udara dingin langsung menggelitik wajahku, ditambah dengan aroma asin dari laut membuat rasa kantukku langsung hilang sepenuhnya. Aku menaikkan resleting jaketku sampai leher, kemudian mulai berjalan di pantai sekitar villa itu. Karena masih terlalu pagi, keadaan di sekitar masih sedikit gelap.             Tidak terlalu jauh dari villa, aku melihat siluet seseorang yang sedang duduk di atas pasir. Ketika mataku mulai bisa melihat lebih baik, ternyata seseorang yang sudah duduk di pasir pagi-pagi seperti ini adalah Yusuke.             “Yusuke, selamat pagi!” kataku menyapa Yusuke yang menatap kosong ke arah laut dari jauh.             Yusuke sedikit tersentak, mungkin sedikit terkejut karena aku yang memanggilnya tiba-tiba. “Ternyata Akari, ya?”             Aku sedikit mengerutkan daguku dengan balasan Yusuke yang seperti itu. “Dan apa maksudnya itu?” kataku sedikit kesal dan langsung duduk di sebelahnya.             Yusuke terkekeh pelan, kemudian berkata, “Selamat pagi. Kenapa kau di luar sepagi ini? Udara masih terlalu dingin, jangan sampai kau sakit.”             Aku mencibir pelan. “Kamu sendiri? Kenapa pagi-pagi seperti ini ada di luar?”             Yusuke tersenyum miris. “Coba tebak.”             Hanya melihat senyuman yang miris itu sepertinya aku sudah bisa membayangkan apa yang terjadi. “Ya … mengingat gaya tidur Michiru yang seperti SuperMan sedang terbang … jangan-jangan kau didorong jatuh dari kasur?”             “Hah, tidak hanya Michiru …” gumam Yusuke pelan.             Aku langsung menaikkan kedua alisku. “Tidak mungkin. Kaji juga?”             Yusuke terkekeh pelan. “Setidaknya tidak separah Michiru. Bagaimana denganmu?”             “Hampir sama alasannya seperti dirimu,” jawabku setelah mendesah pelan.             Wajah Yusuke langsung terlihat bersimpati. “Jadi dari dulu kebiasaan tidur Seika belum berubah juga, ya?”             Aku menganggukkan kepalaku untuk menjawabnya. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tanganmu itu? Sudah membaik?”             Yusuke mengangkat sebelah tangannya yang masih digips, kemudian dengan tangannya yang lain ia memukul tangan itu dengan kencang.             “Apa yang kau lakukan!? Bukankah tanganmu ini patah?” sahutku kencang sambil menarik tangannya yang memukuli gips itu.             Yusuke tertawa terbahak-bahak. “Memang benar sebelumnya tangan ini patah, karena itu dokter keluarga Seika memasang gips di tanganku. Tetapi semalam Michiru menyembuhkannya dengan sihir miliknya.”             Aku langsung mendorong tangan Yusuke yang kutarik itu. “Kenapa tidak bilang dari tadi!?”             Sekali lagi Yusuke terkekeh pelan. “Karena khawatir dokter yang memeriksaku curiga karena lukaku sembuh sangat cepat, jadinya aku memilih untuk tidak melepas gipsnya.”             “Kukira kau sudah kehilangan akal ketika tiba-tiba memukul tanganmu sendiri yang masih cedera itu!”             Yusuke tertawa geli beberapa saat. Kemudian tiba-tiba wajahnya berubah serius. “Lagi pula bagaimana ceritanya kau bisa bertemu dengan Michiru, Akari?”             Aku menatap langit yang terlihat lebih terang dibandingkan sebelumnya sambil mengingat-ingat pertemuan pertamaku dengan Michiru. “Hmm, saat itu kukira Michiru bule yang sedang buat konten You*ube karena dia membicarakan suatu hal yang tidak jelas. Tapi karena sebentar lagi jam masuk sekolah, akhirnya aku berniat untuk meninggalkannya.             “Eh, tiba-tiba dia minta makanan! Yasudah kukasih saja bekal makan siangku. Saat pulang sekolah, kukira Michiru sudah tidak ada di sana, ternyata dia masih menungguku dan meminta makanan lagi. Karena dia orangnya sangat mencurigakan, aku berniat untuk meninggalkannya. Eh tapi tiba-tiba lagi, dia kehilangan kesadaran!             “Kukira dia hanya pura-pura, ternyata dia benar-benar pingsan karena kelaparan. Akhirnya aku membawanya pulang ke rumah, memberinya makan … lalu ada kejadian ini dan itu, lalu dia memperlihatkan sihirnya … dan berakhirlah seperti ini!”              Yusuke mendesah panjang. “Kau ini … apa kedua orang tuamu tidak mengajarimu untuk tidak berbicara dengan orang asing sejak kau kecil?”             Aku mencibir lagi pada Yusuke. “Tentu orang tuaku mengajarinya! Tapi tidakkah kau merasa kasihan dengan orang yang sampai pingsan karena kelaparan?”             “Kau beruntung karena orang itu ternyata Michiru. Tapi bagaimana jika dia bukan Michiru, dan seseorang yang memiliki niat buruk, hm?” tanya Yusuke sambil menepuk keningku pelan. “Bahkan dulu juga kau pernah hampir diculik karena kau diberi permen, ‘kan?”             Aku mengedipkan mataku beberapa kali. Aku mengusap daguku berusaha untuk mengingat kejadian hal seperti itu. “Hah? Sepertinya aku tidak pernah mengalaminya …”             Kali ini Yusuke yang mengedipkan matanya beberapa kali. “Tunggu, jangan-jangan itu aku?”             Aku langsung menepuk kening Yusuke untuk membalasnya. “Ha! Yang jelas, untunglah itu Michiru!”             “Kali ini aku juga mengetahui rahasiamu, Akari. Jika ada sesuatu yang membuatmu dan Michiru kesusahan, beri tahu aku. Aku akan membantu kalian sebisaku,” kata Yusuke pelan sambil mengusap keningnya.             Aku terkekeh pelan. Tentu saja, meski Yusuke sedikit miring di kepala, setidaknya dia orangnya sangat baik! “Tentu! Terima kasih karena kau mau membantu Michiru, Yusuke.”             Yusuke langsung menyeringai padaku. “Tapi setidaknya aku harus meminta Michiru untuk melakukan sesuatu karena merahasiakan hal ini dan membuatmu terluka, Akari.”             Aku langsung menaikkan sebelah alisku. “Meminta Michiru untuk melakukan sesuatu? Apa?”             Yusuke langsung menaikkan sebelah tangannya sambil menggosokkan ibu jari dan jari telunjuknya bersama.             Seketika sebuah ingatan yang dulu pernah terlintas di pikiranku kembali. Satu-satunya hal yang mungkin dilakukan oleh Yusuke ketika mengetahui kalau Michiru adalah seorang penyihir … pasti ia akan membuat pertunjukkan sulap dan meminta uang kepada orang-orang yang ingin menonton pertunjukkan itu.             Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya hal itu tidak buruk juga. Aku langsung menaikkan ibu jariku setuju pada Yusuke. Kemudian entah mengapa aku mulai ikut tertawa ketika melihat Yusuke yang langsung tertawa terbahak-bahak.             .             .             Setelah bicara panjang lebar dengan Yusuke mengenai rencana untuk membuat pertunjukan sulap dan meminta uang pada orang-orang yang ingin menonton pertunjukan itu—tentu saja rencana itu tidak akan pernah kami jalankan, akhirnya aku dan Yusuke kembali ke dalam villa karena tubuh kami berdua sudah mulai menggigil karena kedinginan.             Aku langsung kembali ke kamar dan melihat Seika yang masih tertidur pulas dengan tubuhnya yang telentang lebar. Meski rasanya aku dan Yusuke berbicara cukup lama, ternyata kami hanya berbicara selama setengah jam.             Karena masih pagi, diakhir aku memilih untuk naik ke atas kasur lagi dan kembali tidur setelah mendorong Seika sedikit.             Mungkin karena tubuhku yang masih kelelahan karena kejadian dengan Kirishima itu, aku langsung tertidur pulas dengan cepat.             Aku bisa mendengar suara seseorang yang sedang menahan kuapnya, tetapi keadaan di sekitarku masih sangat gelap. Membuka dan menutup mata sama saja, saat itu juga aku sadar kalau aku sedang bermimpi.             Aku menyebarkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari jalan keluar, tetapi bukannya jalan keluar yang kulihat, melainkan seseorang yang sedang berbaring dengan sisinya di atas kasur.             Orang itu terus menahan kuapnya tanpa henti, kemudian yang lebih anehnya lagi di sekitar kasurnya seketika muncul makanan ringan yang sangat banyak. Orang itu mulai memakannya dengan wajahnya yang terlihat malas.             Keripik kentang yang sedang dimakannya tiba-tiba terjatuh, dengan malas ia mencoba untuk mengambilnya, tetapi keripik kentang itu terlalu jauh darinya.             Dengan malas ia mengangkat sebelah tangannya dan menjentikkan jarinya ke arah keripik kentang itu. Dengan ajaib, keripik kentang itu melayang ke mulut orang itu perlahan-lahan. Ketika keripik kentang itu sampai dimulutnya, entah kenapa malah mulutku yang merasakan rasa asin tiba-tiba.             Rasa asin itu kembali terasa, dan aku langsung menggerakkan mulutku untuk mengunyahnya. Ketika rasa asin itu mulai hilang, mulutku kembali dipenuhi oleh rasa itu.             Tiba-tiba terdengar suara tawa dari seseorang yang kukenal. Ruangan serba hitam itu lama-lama mulai menghilang, digantikan dengan ruangan yang berwarna biru cerah dengan langit-langit berukiran emas yang indah.             Aku langsung melirikkan mataku ke samping, menangkap basah Seika yang mencoba untuk memasukkan keripik kentang ke dalam mulutku lagi.             “Seika … sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?” gumamku sambil mengunyah keripik kentang yang masih ada di mulutku.             Seika langsung tertawa terbahak-bahak setelah sadar kalau aku sudah bangun. “Habisnya! Aku baru tahu kalau kau tidur dengan mulut yang terbuka, Akari!”             Aku menelan keripik kentang yang ada dimulutku itu. “Apa sudah waktunya sarapan?”             Seika langsung menganggukkan kepalanya, kemudian ia menarikku menuju ruang makan. Michiru, Yusuke dan Kaji sudah ada di sana. Seperti biasa, meski masih pagi nafsu makan Michiru sudah sangat besar.             “Makan yang banyak yaa!” kata Seika sambil menarikku untuk duduk di antara Michiru dan dirinya.             Baru saja aku duduk, Seika langsung memberiku potongan roti dengan selai raspberry di atasnya dan juga menuangkan s**u ke gelasku. Tidak hanya sampai di sana, Seika terus mengambilkan banyak makanan ke dalam piringku sampai akhirnya aku harus memohon untuk menghentikannya.             Diam-diam aku memindahkan beberapa potongan roti ke piring Michiru, yang tentu saja langsung dilahap habis olehnya.             “Karena ini liburan hari terakhir, kita harus bersenang-senang!” sahut Seika semangat.             “Mnff, kfta maw kf mana?” tanya Michiru dengan mulutnya yang penuh.             Aku langsung menyikut rusuknya. “Jangan bicara dengan mulut penuh!”             Michiru harus mengunyah selama beberapa menit sebelum akhirnya ia berhasil menelan makanan yang ada di mulutnya. “Kita mau ke mana hari ini?”             Seika mengusap dagunya berpikir. “Hm, bagaimana jika kita naik kapal selamku saja? Terakhir kali kau ke sini, kau tidak sempat menaikinya, ‘kan?”             Meski dulu aku pernah berlibur ke villa ini, tetapi aku baru menaiki kapal pesiar milik Seika saja. Jika kapal selamnya aku belum pernah.             “Tidak hanya kapal pesiar, kau juga punya kapal selam, Seika?” tanya Yusuke.             Seika mengedipkan matanya terlihat bingung. “Apa hal itu aneh?”             Aku, mengusap keningku pelan. “Kalau begitu ayo! Akhirnya aku bisa naik kapal selammu, Seika.”             Mata Seika langsung berbinar cerah. “Ah, tapi sepertinya butuh beberapa jam untuk menyiapkannya. Mungkin kita bisa jalan-jalan di sekitar sini sebentar.”             Aku menganggukkan kepalaku setuju. “Tidak masalah. Kita akan ke mana tapinya?”             “Oh, bagaimana jika kita mengunjungi rumah kaca lagi? Sebelumnya kau belum sempat sampai ke sana, ‘kan?” tanya Michiru.             Seika langsung menyipitkan matanya pada Michiru. “Kau ini dasar tidak peka!”             Michiru mengedipkan matanya beberapa kali. “Kenapa? Apa aku salah bicara?”             Aku tertawa geli dengan tingkah Seika dan Michiru. “Aku tidak apa-apa, Seika. Mau bertemu beruang atau naga sekali pun, hal itu tidak sampai membuatku trauma. Ayo kita pergi ke rumah kacamu kalau begitu!”             Mata Seika kembali berbinar cerah lagi. “Kalau begitu kali ini aku akan meminta pasukan khusus keluargaku untuk mengantar kita sampai sana—”             “Tidak usah! Pasti kemarin semua pelayan yang bekerja di villa ini sudah memeriksa lingkungan sekitar sini lagi, ‘kan? Tidak ada beruang liar lagi, ‘kan?” potongku cepat setelah melihat wajah dengan ekspresi ngeri beberapa pelayan Seika yang ada di ruang makan. Sepertinya Seika merepotkan mereka terakhir kali …             Seika sedikit mengerutkan keningnya, tetapi setelah diyakinkan oleh Michiru dan Yusuke, akhirnya ia setuju untuk mengantar kami dengan dikawal oleh sepuluh orang pelayan saja menuju rumah kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN