Rumah kaca yang belum sempat kukunjungi sebelumnya ternyata lebih besar dari pada apa yang kupikirkan. Tentu saja, apa yang dimiliki oleh keluarga Rizumu pasti selalu melebihi ekspektasi yang kau harapkan.
Rumah kaca ini tidak seperti apa yang ada di dalam drama TV atau anime. Lebih tepatnya, ini seperti hutan yang berada di dalam bangunan besar yang dilindungi oleh kaca. Kenapa … kenapa semua yang dimiliki oleh keluarga Rizumu sangat besar!?
Bahkan ketika kami semua baru sampai di pintu masuk rumah kaca itu, sudah ada mobil pariwisata yang menunggu kami untuk mengantar kami keliling rumah kaca itu.
Dari tanaman seperti bunga yang bisa kau lihat di pinggir jalan, sampai tanaman yang bahkan belum pernah kau lihat yang katanya hanya tumbuh di dekat sungai sss, semuanya berada di dalam rumah kaca itu.
Bahkan di dalamnya ada taman bunga yang dibentuk seperti labirin di dalam sana, sampai ada puluhan pohon sakura yang ditanam sejajar dengan yang lain sampai kau bisa mengadakan piknik sambil memandang pohon sakura di bawahnya.
Aku sedikit kagum dengan orang yang menjelaskan semua nama dari tumbuhan yang ada di dalam rumah kaca ini. Entah ia harus mempelajari semua nama tanaman yang ada di rumah kaca ini bebrapa lama sampai ia bisa menghapal seluruhnya.
Semakin jauh kami masuk ke dalam rumah kaca itu, semakin ajaib rasanya. Di bagian terdepan rumah kaca itu memang terlihat seperti taman bunga seperti layaknya yang ada di Drama TV kerajaan Eropa.
Tetapi ketika masuk lebih dalam lagi ke rumah kaca itu. Semua taman bunga itu tergantikan dengan padang rumput yang sangat luas, tidak hanya itu, di beberapa tempat lainnya terdapat berbagai macam pohon dengan buah-buahan yang sudah matang dan bisa kau petik dan makan sepuasnya.
Ketika sampai di sini, yang paling bersemangat adalah Michiru dan Yusuke karena mereka bisa memetik buah-buahan seperti apel, anggur, jeruk dan buah yang lain sampai puas dan langsung memakannya.
Rasa takjubku pada kapasitas perut mereka semakin tidak bisa diukur lagi. Padahal mereka berdua sebelumnya sudah makan sangat banyak, ditambah dengan memakan buah-buahan yang sangat banyak ini. Aku sedikit khawatir kalau di dalam perut mereka mungkin saja ada bayi naga yang diam-diam hidup di dalam sana.
Meski sudah yakin beberapa kali kalau tidak akan ada lagi hal yang bisa membuatku terkejut di dalam rumah kaca ini, keyakinan itu semakin lama menghilang dan hancur setiap kali aku dan yang lainnya masuk lebih dalam.
Jika aku membagi bagian rumah kaca keluarga Rizumu ini. Mungkin bagian terdepan adalah taman bunga dan beberapa tumbuhan eksotis lainnya, kemudian bagian tengah merupakan lokasi di mana tumbuhnya kebun pohon buah, kali ini di bagian terakhir ditanami tumbuhan sayur-mayur.
Akhirnya aku tidak ingin berkomentar lebih lanjut dan memilih untuk diam sambil mendengarkan orang yang menjelaskan isi dari rumah kaca ini seperti seorang pemandu wisata. Kami berada di dalam rumah kaca kurang lebih selama dua jam, akhirnya kendaraan yang kami naiki keluar dari dalam rumah kaca.
Tetapi kendaraan itu tidak berhenti untuk menurunkan kami. Sepertinya Seika berpikir untuk membawa kami ke tempat lain karena kapal selamnya belum siap untuk kami naiki.
Setelah berkendara sekitar sepuluh menit dari rumah kaca keluarga Rizumu, akhirnya aku melihat pagar pembatas yang tidak terlihat ujungnya.
Kami berhenti di depan pagar itu untuk sesaat. Ternyata orang yang menjelaskan tanaman yang ada di dalam kaca digantikan oleh orang lain. Entah kenapa aku merasa kalau orang ini yang akan memandu kami selama kami berada di balik pagar yang entah apalah isinya itu …
Seika mengatakan kalau di balik pagar yang ada di depan kami saat ini adalah kebun binatang yang dijadikan tempat penangkaran hewan yang hampir punah di sekitar Asia. Lagi-lagi, aku berusaha untuk tidak terkejut.
Meski beberapa tahun lalu aku pernah mengunjungi villa ini, ternyata banyak perubahan yang tidak aku ketahui terjadi di sini! Bahkan rumah kaca dan kebun binatang ini saja baru pertama kali aku kunjungi, padahal beberapa tahun lalu kedua tempat ini belum dibangun di dekat villa itu.
Layaknya seorang pemandu wisata yang andal, orang yang baru bergabung dengan kami menyebutkan berbagai macam spesies hewan-hewan yang hampir punah itu. Di bagian ini, Michiru, Yusuke dan Kaji mendengarkan pemandu wisata itu dengan baik.
Meski Seika berkata kalau tempat ini adalah kebun binatang. Ketika masuk ke dalamnya, tempat ini terlihat seperti cagar alam karena tempatnya yang sangat luas dan seperti alam liar. Lagi-lagi aku berusaha untuk tidak terkejut lebih dari ini.
Awalnya tempat itu hanya ada hewan-hewan yang tidak terlalu mengerikan seperti kera, orang utan, jerapah, gajah, badak, rusa, bahkan burung dengan bulu indah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tetapi semakin lama kami masuk ke dalam sana, hewan yang berada di dalam sana lebih besar dan berbahaya. Bahkan ada singa, harimau, buaya dan hewan-hewan pemakan daging lainnya.
Dengan senang hati tiba-tiba Seika turun dari mobil itu dan berlari menghampiri salah satu singa yang lebih besar dari pada tubuhnya. Singa itu menatap balik ke arah Seika dan berlari menghampirinya.
Layaknya seekor kucing yang merindukan majikannya, dengan manja singa itu mengeluskan kepalanya pada tangan Seika. Lagi-lagi aku berusaha untuk tidak terkejut lebih dari ini.
Melihat Seika yang dengan wajah sumringah mengelus singa yang mengelilinginya, Michiru dan Yusuke turun dari mobil itu dan ikut mengelus singa yang manja seperti seekor kucing.
“Kaji, kenapa kau tidak turun?” tanyaku pada Kaji yang masih duduk di tempatnya.
Dengan senyuman kaku ke arahku, Kaji menjawab, “Aku alergi kucing.”
“Tapi singa bukan kucing …”
“Aku alergi kucing,” ulang Kaji sekali lagi.
Aku hanya bisa tersenyum miris. “Baiklah … aku akan turun dan melihat ke sana sebentar.”
“Selamat bersenang-senang!” kata Kaji masih dengan senyuman kaku yang ada di wajahnya itu.
Merasa kasihan dengan Kaji, aku hanya bermain dengan singa jinak milik keluarga Rizumu itu selama sepuluh menit, dan memberi tahu Seika dan yang lainnya kalau Kaji alergi kucing.
Dengan wajah yang penuh simpati, aku dan yang lainnya kembali ke dalam mobil, kemudian secara bergantian kami menepuk Kaji perlahan-lahan.
.
.
Akhirnya tujuan kami yang sempat tertunda karena jalan-jalan ke tempat lain terwujud. Karena hari sudah menjelang sore, salah satu pelayan mengantarkan sebuah kotak bekal makan siang legendaris ala keluarga Rizumu yang sudah lama tidak kulihat itu. Ternyata aku bisa sedikit merindukannya, mungkin Michiru juga karena ia dengan senang hati membantu Seika membawa kotak bekal itu.
Kapal selam yang diceritakan oleh Seika lagi-lagi melebihi apa yang kubayangkan. Kapal selam itu lebih besar lima kali lipat dibandingkan dengan apa yang ada di drama TV.
Kami menunggu pemilik kapal selam itu masuk terlebih dahulu, karena khawatir salah satu dari kami salah menekan tombol dan kapal selam ini berubah menjadi robot pelindung umat manusia. Tetapi tentu saja hal itu tidak akan terjadi, atau BELUM terjadi.
Aku tidak tahu bagaimana bagian dalam kapal selam pada umumnya. Tetapi kapal selam milik Seika ini memiliki sofa berbentuk U yang empuk dan nyaman dan terdapat meja kecil yang ada di tengah-tengahnya. Di dalam bagian lantai kapal selam itu sepenuhnya kaca. Karena kami masih berada di pinggir pantai, bagian bawah itu hanya terlihat pasir saja.
Seika langsung menarikku untuk duduk di sebelahnya. Michiru duduk di sebelahku dengan kotak bekal makan siang legendaris ala keluarga Rizumu yang berada di tengah-tengah kami, kemudian Yusuke dan Kaji duduk di depanku dan Seika.
Setelah berbicara singkat pada ponsel yang ada di tangannya, perlahan-lahan aku merasakan kalau kapal selam ini mulai bergerak.
Bagian lantai kapal selam itu bergerak yang awalnya hanya terlihat pasir saja kini mulai terlihat beberapa ikan kecil yang biasa terlihat di pinggir laut, semakin lama kapal selam ini bergerak, semakin banyak juga batu karang yang bisa terlihat di bawah sana.
“Hehe, ini belum seberapa! Tunggu sebentar,” kata Seika sambil menekan pelan meja kecil yang ada di depan kami. Seketika, bagian atas meja itu bergeser dan memperlihatkan tombol merah yang sedikit mencurigakan.
Yusuke langsung terkesiap ketika melihat tombol merah itu. “Seika … apa tombol ini … tombol ini bisa menembakkan misil!?”
Kaji langsung memukul kepala Yusuke pelan. “Kau pikir ini kapal selam perang, hah?”
Seika terkekeh pelan. “Sayangnya kapal selam ini hanya untuk melihat-lihat dasar laut, Yusuke! Lain kali aku akan mengajakmu ke tempat pelatihan pasukan militer keluargaku, di sana ada kapal selam yang bisa menembakkan misil.”
“Eh, bukankah sebaiknya kau menyangkal hal itu, Seika?” tanyaku bingung.
Seika memiringkan kepalanya sedikit. “Kenapa? Di sana memang ada kapal selam seperti itu, kok.”
Aku memilih untuk menyerah dan membiarkan Yusuke berada di dalam imajinasinya yang liar itu. “Jika tombol ini bukan untuk menembakkan misil, lalu untuk apa?” tanyaku.
Seika menyengir padaku kemudian menekan tombol itu. Seketika, terdengar bunyi klik di mana-mana dan dinding kapal selam langsung berubah menjadi lapisan kaca yang tembus pandang. Setelah dinding itu terangkat, rasanya kami semua berada di dasar laut dan bisa melihat 360 derajat di sekeliling kami. Baiklah, baik, aku menyerah untuk berusaha tidak terkejut lebih dari ini. Kau menang, Seika! Kalian menang, keluarga Rizumu!!
Air laut itu sangat jernih, sehingga kami semua dapat melihat dengan jelas berbagai macam ikan yang hidup di dalam sana. Mulai dari ikan kecil seperti ikan badut sampai ikan yang cukup besar seperti pari. Terumbu karang yang banyak hidup di dasar laut juga terlihat sangat indah.
“Ah, melihat semua ikan ini membuatku lapar!” sahut Michiru sambil mengusap kotak bekal makan siang legendaris ala keluarga Rizumu yang ada di sebelahnya.
“Michiru … bisakah kau memikirkan hal lain selain makanan?” gumamku pelan.
Entah kenapa Michiru malah tertawa dengan wajah yang bangga. Sayangnya aku tidak memujinya!
“Buka saja kotak bekalnya, Michiru! Kotak bekal itu memang sengaja disiapkan untuk kalian semua,” kata Seika sambil meletakkan kotak bekal itu di atas meja yang ada di tengah-tengah kami.
Isi kotak bekal itu tentu saja luar biasa. Sambil mengunyah makanan yang ada di dalam kotak bekal itu, tidak lupa aku melihat keindahan yang ada di sekitarku ini! Mungkin jika aku ingin melihat yang seperti ini lagi, aku harus pergi menuju tempat wisata akuarium!
Kami semua berada di dalam kapal selam itu cukup lama, bahkan semakin lama kami bisa melihat ikan yang lebih besar seperti lumba-lumba bahkan paus. Aku khawatir karena saat ini aku tidak tahu kami sudah berada sejauh mana di laut ini.
Nyatanya aku tidak perlu khawatir akan hal itu. Ketika hari sudah semakin sore, kami semua sudah kembali ke villa Seika dan membereskan semua barang-barang kami untuk pulang.
Hari terakhir liburan itu akhirnya berakhir juga. Sama halnya seperti berangkat, kami pulang dengan menggunakan kereta yang sudah dipesan oleh Seika juga. Meski liburanku sedikit terganggu karena Kirishima yang menggangguku, setidaknya luka dihatiku sudah disembuhkan karena waktu yang kuhabiskan untuk melihat dasar laut yang cukup indah ini!