Pak Heru berjalan menuju kamar Rania. Dari semalam Rania tidak keluar kamar. Pak Heru khawatir karena putrinya itu belum sarapan pagi. Pintu kamar Rania tidak dikunci, pelan-pelan Pak Heru membukanya. Dilihatnya sang putri yang kini duduk melamun di ranjang. "Rania." Mendengar namanya dilafazkan, Rania yang kini sedang meneteskan air mata buru-buru menghapusnya dan menghadap ke arah papanya. Pak Heru mengambil duduk di samping Rania dan memegang pundak putrinya itu. "Papa tahu kamu sedih karena Papa gak merestui kamu dengan Fajar, tetapi percayalah Papa melakukan ini demi kebaikan dan kebahagiaan kamu, Sayang. Nggak ada orang tua di dunia ini yang ingin anaknya menderita. Fajar sudah banyak menyakiti hati kamu, Papa takut kamu disakiti lagi, Nak." "Papa sangat menyayangi kamu. Melihat

