"Kak Fajar, jangan pergi, Kak." "Rania cinta sama Kakak." "Jangan tinggalin Rania, Kak." "Maafin, Rania." Di dalam kamarnya, Rania terus mengigau memanggil Fajar. Wajahnya kini sudah penuh dengan keringat. Pak Heru dan Bu Erika yang kini di ruang tengah menonton televisi, dapat mendengar suara Rania dengan jelas. Pasutri itu bergegas ke kamar putri mereka. "Rania, kamu kenapa, Nak?" Pak Heru menepuk pipi Rania pelan. "Jangan tinggalin Rania, Kak," racau Rania. Suaranya terdengar seperti orang menangis. "Rania, bangun. Ini mama, Sayang." Bu Erika menggoyang-goyangkan badan Rania pelan, sehingga membuat putrinya itu membuka mata. Rania terbangun dengan napas yang memburu. Keringat terus bercucuran dari pelipisnya, hal itu membuat Pak Heru merasa khawatir. Pak Heru mengambil air yan

