BAB 22

1241 Kata

Perlahan Rania membuka mata. Ia menatap ke sekeliling dan menyadari dirinya berada di rumah sakit. Tubuh kurus itu terbaring di brankar. Fajar yang duduk di kursi samping Rania, menunggu wanita itu bangun, tersenyum saat melihat istrinya itu telah sadar. "Rania kenapa?" tanya Rania. "Tadi kamu pingsan di rumah. Saya langsung bawa kamu ke rumah sakit. Dokter bilang kamu hanya kecapekan," jelas Fajar. Senyumnya tidak pernah berhenti mengembang. Rania mengerutkan kening, kenapa pria itu senyum-senyum sendiri. Apa dia sudah gila? Sungguh Rania tidak suka melihatnya tersenyum seperti itu. "Kakak, kenapa?" tanya Rania yang mulai kesal. "Mulai sekarang kamu gak boleh kecapekan lagi. Karena itu bisa berpengaruh pada calon bayi kita." Deg! Mata Rania langsung melotot, jantungnya berpacu ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN