"Rania hamil!" seru Bu Astrid dengan tampang seakan tak percaya pada perkataan Fajar barusan. Tadi sesampainya di rumah, Fajar langsung mengajak keluarganya untuk berkumpul di ruang keluarga dan menceritakan kehamilan Rania. "Serius?" Bu Astrid menatap Rania yang duduk di hadapannya. Rania mengangguk pelan, menanggapi pertanyaan Bu Astrid. Membuat wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan tangan. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini. Ibu dua anak itu sungguh merasa sangat bahagia. Tidak terasa sebentar lagi ia akan dipanggil nenek. "Pah, kita bakal punya cucu!" adu Bu Astrid pada suaminya. Refleks, tangan wanita paruh baya itu memukul-mukul lengan Pak Zein karena terlalu bahagia, mengingat sebentar lagi akan memiliki cucu. "Cieee, yang bentar lagi bakal dipanggil dengan sebu

