Rania duduk di hamparan pasir putih, menatap sendu ke lautan luas di depannya. Matanya meneteskan buliran bening. Purnama saat ini bersinar sangat terang, sehingga membuat tempat itu tidak terlalu gelap. Wanita itu masih belum ingin beranjak dari sana. Saat ini ia ingin menumpahkan kesedihannya. Ia tidak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan kacau. Rania tidak mau membuat orang tuanya khawatir. "Kenapa di saat aku berbuat baik ada aja orang yang jelekin aku?" isak Rania. Perkataan orang-orang di pesta tadi masih teringat di kepalanya. "Apa salah jika aku temenan sama Kak Alvin? Kenapa orang-orang mikir aku malah goda dia?" "Seharusnya tadi aku gak pergi ke pesta itu, mungkin orang-orang gak akan berpikiran seperti tadi. Apa salah janda seperti aku temenan sama Kak Alvin yang masih la

