BAB 6

1224 Kata
Matahari mulai terbenam. Rania kini duduk di tepi pantai. Menatap lurus ke depan, ke arah sunset yang memancarkan sinar jingga kemerah-merahannya. Tadi sepulang dari kantor Rania langsung ke sana untuk menenangkan hatinya yang kini merasa pilu. Di kondisi seperti ini Rania butuh ketenngan. Hanya inilah cara baginya untuk mengobati luka di hatinya. Ia tidak terbiasa menceritakan kesedihannya pada orang lain. Baginya memendam lebih baik agar tidak membebankan orang lain. "Apa aku memang ditakdirkan untuk kesepian? Selama ini Indah, Boy, dan Bi Aci yang peduli sama aku, tetapi sekarang Indah benci sama aku. Apa aku memang tidak diizinkan untuk bahagia?" Buliran bening itu tanpa izin menetes membasahi wajah cantik Rania. Ia merasa dirinya tidak diinginkan di dunia ini. Orang-orang menjauhinya. Entah kapan kebahagiaan akan datang padanya? Drtt ... drtt .... Bunyi ponselnya mengalihkan perhatian Rania. Sebuah panggilan masuk dari papanya. Rania menghapus air matanya lalu mengangkat panggilan itu. "Hallo, Pah. Ada apa?" "Tadi kakak kamu telepon. Katanya dia sakit. Jadi, besok Papa harus kembali ke Prancis," ucap Pak Heru dari seberang sana. Rania menggenggam handphonenya kuat. Rahangnya sedikit mengeras. Bahkan, ketika ia sakit pun papanya tidak pernah melihatnya dan sibuk dengan restorannya yang ada di Prancis. Akan tetapi, lihatlah sekarang. Papanya baru beberapa hari di Indonesia, dan besok dia memutuskan untuk kembali ke Prancis hanya karena anak tirinya sakit. Sungguh tidak adil bagi Rania. Rania kembali meneteskan air matanya. Apakah papanya tidak menganggapnya anak lagi? Apakah papanya itu lupa dengan dirinya? Rania rindu dengan papanya yang dulu. "Tapi, Pah. Papa baru beberapa hari di Indonesia. Bahkan, Papa belum ngabisin waktu bareng Rania. Apa Papa akan pergi secepat itu?" "Maafin, Papa. Tapi tolong mengerti Rania. Kakak kamu sendiri di sana. Kalau terjadi sesuatu sama dia bagaimana?" "Terserah. Kalau Papa mau pergi, pergi aja. Maaf, Rania gak bisa antar ke bandara." Rania langsung memutuskan sambungan telepon. "Arrgghh!" Rania berteriak frustasi. "Kenapa papa lebih sayang sama anak tiri dibanding anak kandungnya sendiri?!" Rania menangis histeris. Bahkan, keluarganya sendiri tidak pernah peduli padanya. *** "Assalamualaikum," salam Rania memasuki rumah. Ia baru saja kembali dari pantai dan sampai di rumah pukul tujuh malam. "Wa'alaikumsalam. Dari mana kamu? Suami kamu sudah pulang sejak tadi, tetapi kamu baru pulang. Apa kamu gak tahu tanggung jawab kamu sebagai seorang isti?" omel Bu Astrid menyambut kepulangan Rania. "Rania dari pantai. Tadi saat mau pulang jalanan macet. Makanya Rania baru pulang," jawab Rania jujur. Dirinya memang terjebak macet tadi. "Seharusnya pulang dari kantor kamu langsung pulang ke rumah. Bukannya keluyuran. Mungkin di rumah kamu, kamu bebas keluyuran, tetapi di sini tidak. Ingat, sekarang kamu tinggal di rumah saya dan kamu juga sudah bersuami. Seharusnya kamu ingat tanggung jawab kamu. Apa orang tua kamu gak pernah ngajarin kamu apa artinya tanggung jawab?" bentak Bu Astrid. Telinga Rania terasa panas mendengarnya. Kenapa Bu Astrid membawa-bawa tentang orang tuanya. Rania mencoba bersabar sekuat mungkin, ia tidak boleh melawan Bu Astrid. Wanita itu mengambil napas pelan dan berusaha mengontrol emosinya. "Rania minta maaf. Rania janji gak akan ulangin lagi," balas Rania. Bu Astrid hanya diam sambil menatap Rania dengan ekspresi marah. Sejak awal datang ke rumahnya, Bu Astrid memang tidak pernah menyukai Rania. Baginya Anisa lebih baik untuk menjadi menantu. Namun, takdir berkata lain dan menjodohkan Fajar dengan Rania. Bu Astrid lalu pergi meninggalkan Rania. Sedangkan Rania langsung pergi ke kamar. Ia meletakkan tasnya di atas nakas. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Fajar keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambutnya yang basah. Rotek sobek pria dengan tinggi 181 cm itu terekspos bebas. Membuat Rania meneguk salivanya berat kala melihat pemandangan di depannya. Wanita itu berusaha untuk bersikap biasa saja. "Baru selesai mandi, Kak?" tanya Rania berbasa-basi. "Hmm," balas Fajar dengan dehaman sambil memasang ekspresi datar. Pria itu kini tengah mengambil bajunya di lemari dan kembali lagi ke kamar mandi untuk memakai bajunya di sana. Rania terdiam dengan raut wajah sendu. Kenapa orang-orang di rumah ini selalu bersikap dingin padanya? Mereka juga suka memasang ekspresi datar ketika di depan Rania. Apakah mereka memang tidak menyukai Rania berada di rumah itu. *** Rania merasa badannya sangat segar karena baru saja selesai mandi. Wanita berambut panjang itu keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah untuk makan malam. Rania melihat keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Rania tersenyum, sepertinya malam ini akan menjadi makan malam pertamanya bersama keluarga suaminya. Kemaren Rania tidak pernah makan bersama dengan keluarga barunya karena ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Jujur, Rania sangat merindukan makan bersama dengan keluarga. Saat di rumahnya Rania selalu makan berdua dengan Bi Aci. Terasa sepi karena hanya berdua di meja makan. Rania memasang senyuman semanis mungkin. Wanita itu berjalan menghampiri keluarganya dan mendudukkan b****g di kursi samping Fajar. Bu Astrid yang baru saja selesai mengambilkan makanan untuk Pak Zein dan akan mengambil makanan untuknya, tiba-tiba tidak jadi. Dia menatap Rania tidak suka. "Mama udah kenyang. Mama ke kamar dulu," pamit Bu Astrid. "Loh, Mama, kan, belum makan," sanggah Pak Zein. "Putri makan di kamar aja, sekalian belajar." Putri bangkit dari duduknya dan akan membawa makanannya ke kamar. "Putri makan di sini. Jangan bawa makanan ke kamar. Kamu bisa belajar nanti," tegas Pak Zein. Putri yang takut dengan papanya, kalau papanya sudah memerintah ia terpaksa menurut. "Kalian makan duluan aja. Fajar belum lapar." Fajar bangkit dari duduknya dan hendak pergi. "Tunggu!" panggil Rania. "Kalian gak usah pergi. Biar Rania aja yang pergi. Rania gak mau merusak suasana di rumah ini." Rania mengerti kalau Bu Astrid, Putri, dan Fajar tidak suka melihat dirinya di meja maka. Wanita itu lalu berdiri dari duduknya dan hendak balik ke kamar. "Rania tetap di sini. Kita makan malam bersama," ujar Pak Zein. "Mama, Fajar, duduk!" perintah Pak Zein. "Rania gak laper, Pah. Tadi Rania udah makan. Rania capek, Rania mau istirahat aja." Rania langsung pergi ke kamarnya. *** Rania duduk di balkon kamar. Buliran bening perlahn menetes membasahi pipi tirusnya. "Mah, Rania pengen cepet-cepet nyusul mama. Rania udah gak kuat hidup kesepian di sini. Gak ada lagi orang peduli sama Rania. Mungkin jika Rania mati mereka akan bahagia," ucap Rania di sela tangisnya. "Bi Aci, Rania kangen. Rania pengen pulang." Mungkin tinggal berdua dengan Bi Aci lebih baik, dari pada tinggal di rumah ini. Walau banyak orang, tetapi rumah ini terasa sunyi bagi Rania. Di rumah ini Rania kesepian karena tidak ada orang yang mengajaknya mengobrol. Waktu terus berputar. Malam pun mulai larut. Udaranya mulai terasa semakin dingin. Rania menghapus air matanya dan memutuskan untuk ke kamar. Ia merebahkan badannya di ranjang. Baru saja Rania menutup mata, tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Rania tahu itu Fajar, wanita itu lalu pura-pura tidur. Fajar mengambil selimut di lemari. Ia lalu mengambil bantal yang ada di ranjang. Pria itu lalu keluar dari kamar. Ia akan tidur di ruang kerjanya. Beruntung orang rumahnya sudah tidur, jadi tidak ada yang melihatnya tidur di ruang kerja. Besok pagi ia harus ke kamar sebelum orang rumahnya bangun. Kalau tidak, papanya pasti akan marah jika tahu ia tidak tidur di kamar bersama Rania. Setelah Fajar keluar dari kamar. Rania membuka matanya. Tadi ia sempat mengintip Fajar keluar kamar sambil membawa bantal dan selimut. Rania penasaran di mana Fajar akan tidur. Lantas wanita itu turun dari ranjang dan keluar kamar. Rania melihat Fajar memasuki ruang kerjanya. Raut wajah Rania terlihat sayu. Apakah Fajar jijik padanya sehingga tidak mau tidur sekamar dengannya? Bukankah pria itu yang sendiri yang sudah mengot*r* tubuh Rania. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN