Rania berjalan menuruni tangga, menuju ke ruang tengah menghampiri keluarganya yang sedang duduk di sofa. Di sana ada Pak Zein, Bu Astrid, dan Putri yang menonton film stand up comedy. Sedangkan Fajar, sampai sekarang pria itu masih belum pulang dari kantor.
"Mah, Pah, Rania izin keluar. Mau ke rumah sahabat Rania. Dia lagi sakit," kata Rania. Dirinya ingin ke rumah Indah. Sahabatnya tadi tidak masuk kantor. Menurut kabar yang Rania dengar dari Boy tadi pagi, Indah kini sedang demam.
"Iya. Kamu hati-hati di jalan. Nyetirnya jangan ngebut. Dan pulangnya jangan larut malam," pesan Pak Zein.
Rania hanya mengangguk. "Assalamualaikum." Kaki jenjangnya lalu melangkah menuju luar rumah.
Rania melajukan mobilnya menuju ke rumah Indah. Sahabatnya itu kini memang berada di rumahnya, Indah berada di apartemennya hanya ketika malam minggu saja.
Rania sampai di depan rumah Indah. Ia meminta satpam untuk membukakan gerbang. Mobil Rania memasuki halaman rumah Indah.
Selesai memarkirkan mobil, Rania langsung berjalan menuju pintu dan mengetuknya.
"Assalamualaikum," salam wanita itu.
"Wa'alaikumsalam." Pintu terbuka dan menampakkan pembantu Indah yang berdiri di sana.
"Eh, ada Non Rania. Silahkan masuk, Non," ucap wanita yang kira-kira berumur 42 tahun. Rania lalu memasuki rumah itu.
"Om sama tante ke mana?" tanya Rania tidak melihat orang tua sahabatnya ada di rumah.
"Mereka lagi ke luar kota. Non Indah nya lagi di kamar. Mendingan Non Rania langsung ke sana aja," ucap pembantu tersebut. Ia tidak tahu kalau Rania dan majikannya sedang tidak akur, makanya ia langsung menyuruh Rania ke kamar. Biasanya, setiap Rania datang ke rumah itu. Ia memang langsung pergi ke kamar Indah karena Indah memang tipe orang yang suka rebahan dan suka berada di kamar.
Rania melangkahkan kakinya menuju ke kamar Indah. Ia mengetuk pintu kamar sahabatnya itu.
"Masuk aja, Bik. Pintunya gak dikunci, kok," balas Indah dari dalam kamar. Mungkin gadis itu mengira Rania adalah pembantunya.
Rania membuka pintu kamar Indah. Sontak sahabatnya itu terkejut melihat kedatangannya. Indah yang tadinya rebahan, langsung mengambil posisi duduk.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Indah sengit.
"Jenguk lo, lah. Kata Boy lo lagi sakit."
"Lo lupa? Gue masih marah sama lo. Dan gue gak perlu dijenguk sama lo karena kita bukan sahabat lagi," cerca Indah.
"Udah selesai ngocehnya?" tanya Rania santai. Wanita itu seakan tidak peduli kalau Indah sedang marah padanya. Dengan santainya ia lalu mengambil duduk di dekat Indah.
"Keluar dari kamar gue!" usir Indah. Rania menggeleng. Matanya lalu melirik ke makanan yang ada di atas nakas.
"Kenapa gak dimakan makanannya?" tanya Rania.
"Bukan urusan lo!"
Rania menghela pelan. Ia mengambil makanan itu lalu menyantapnya sendiri. Sengaja ingin membuat Indah kesal. Ia lebih suka Indah marah dari pada mendiaminya. Walaupun kadang perkataan sahabatnya itu menyakitkan hati, tetapi Rania tidak peduli.
"Eh, makanan gue!" pekik Indah.
"Dari pada makanannya gak lo makan. Mendingan gue yang makan," tukas Rania. Kebetulan dirinya memang belum makan malam.
Indah hanya bisa mendengus kesal. Entah di mana letak kuping sahabatnya itu, padahal Indah sudah mengusirnya, tetapi wanita itu masih tidak mau pergi.
Sebenarnya Indah sedih berkata kasar pada Rania. Sejujurnya, ia juga tidak ingin marah. Namun, dirinya sudah dibuat kecewa oleh Rania yang membuat rasa marah itu ada.
"Udah, deh, Ran. Mendingan lo pergi dari rumah gue. Gue gak suka lihat lo di sini!" usir Indah.
Rania terdiam, wajahnya terlihat sayu. Ia meletakan makanan kembali ke atas meja. Wanita itu lalu menatap Indah sendu.
"Sampai kapan lo mau marah sama gue? Gue minta maaf karena gak bisa cerita apa yang terjadi pada gue ke lo. Bagi gue itu sulit, Ndah," ungkap Rania. Ia takut dirinya hanya menambah beban orang lain.
"Gue pergi. Kalau lo udah gak marah lagi sama gue bilang, ya. Please ... jangan lama-lama marahnya. Gue kesepian karena lo jauhin gue." Rania lalu berdiri dari duduknya. Ia menatap Indah yang terdiam sambil membuang muka darinya.
"Cepat sembuh. Gue gak mau lihat sahabat gue sakit," ucap Rania sebelum ia keluar dari kamar Indah. Mata wanita itu berkaca-kaca, susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh.
Rania keluar dari rumah sahabatnya dan langsung memasuki mobilnya. Mobil wanita itu melaju membelah jalan malam. Jalanan cukup sepi, mungkin karena sebentar lagi akan turun hujan. Langit saat ini memang terlihat mendung.
Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba Rania melihat mobil Fajar tidak jauh di depannya. Mobil pria itu berbelok.
"Loh, Kak Fajar mau ke mana? Itu bukan jalan menuju rumah atau pun apartemennya." Penasaran, Rania pun mengikuti mobil pria itu.
Mobil Fajar berhenti di parkiran rumah sakit. Pria dengan warna kulit kuning langsat itu keluar dari mobil. Ia berlari menghampiri Anisa yang akan memasuki mobilnya.
Anisa yang akan membuka pintu mobil, tiba-tiba tertahan ketika seseorang menahan tangannya dan berdiri di depan pintu mobil.
Rania yang baru saja sampai di rumah sakit itu, seketika hatinya merasa perih ketika melihat Fajar menemui wanita yang Rania lihat di foto kemaren.
Rania berdiri di balik mobil seseorang yang ia sendiri tidak tahu siapa pemiliknya, tidak jauh dari Fajar dan Anisa berdiri. Rania berniat menguping pembicaraan mereka.
"Minggir, aku mau pulang." Anisa menyuruh Fajar menyingkir dari hadapannya. Pria itu menghalangi Anisa untuk masuk ke mobil.
Fajar menggeleng dan masih setia berdiri di sana.
"Kamu mau apa lagi, sih, Jar? Belum puaskah kamu sakitin hati aku?" cecar Anisa dengan mata berkaca-kaca. Padahal sekarang ia sedang belajar untuk melupakan Fajar, tetapi pria itu selalu muncul di hadapannya.
"Kenapa kamu gak pernah angkat telepon dan balas chat aku?" tanya Fajar. Jujur, dirinya tidak bisa melupakan Anisa. Apalagi Anisa adalah cinta pertama baginya.
"Buat apa? Ingat, hubungan kita udah berakhir. Sadar, Jar. Kamu udah punya istri. Jadi, stop temuin aku lagi. Aku gak mau orang-orang ngira aku merusak hubungan kamu dan istri kamu. Aku gak mau dituduh pelakor."
"Justru perempuan itu yang merusak hubungan kita," sanggah Fajar.
Tubuh Rania terdiam membeku, dadanya sesak, hatinya perih bagai tertusuk ribuan jarum. Hanya mendengar kata Fajar membuat hatinya sakit. Dulu Rania memang menyukai Fajar, tetapi ia tidak pernah berniat merebut Fajar dari tunangannya. Selama ini Rania memilih untuk memendam perasaannya. Namun, kenapa Fajar menuduhnya seperti itu? Pernikahan ini tidak akan terjadi kalau Fajar tidak melecehkan dirinya.
"Cinta aku cuma buat kamu, Sa," lirih Fajar menatap Anisa lekat.
"Stop bilang cinta! Kalau kamu memang cinta lalu kenapa kamu hianatin aku? Jelasin, Jar!"
Fajar terdiam membisu, ia tidak punya jawaban untuk menjawab pertanyaan Anisa. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena itu akan membuat Anisa semakin membencinya.
"Kamu gak bisa jelasin, 'kan? Aku mohon, Jar. Jangan temuin aku lagi. Kalau istri kamu tahu, kasihan dia. Pasti hatinya akan terluka," lirih Anisa menatap Fajar dengan mata berkaca-kaca.
"Aku gak peduli sama dia," sentak Fajar.
PLAK!
Tamparan langsung mendarat di pipi pria itu.
~BERSAMBUNG~