BAB 8

1059 Kata
Tamparan langsung mendarap di pipi Fajar. Fajar menyentuh pipinya lalu menatap Anisa tak percaya. Baru kali ini gadis itu menamparnya. "Setelah kamu sakitin hati aku. Sekarang kamu berniat sakitin istri kamu. Pria macam apa kamu?!" Air mata Anisa mengalir membasahi pipinya. Ia tidak menyangka jika pria yang selama ini ia cintai tega menyakiti hati perempuan. Di lain sisi, Rania juga menangis mendengar kata-kata Fajar yang menyayat hati. Hatinya seakan hancur berkeping-keping. Sebenci itu kah Fajar pada dirinya sehingga tidak mau peduli dengan perasaannya? Rania sudah tidak kuat lagi menguping pembicaraan Fajar dan Anisa, wanita itu lalu memutuskan masuk ke mobilnya dan pergi dari tempat itu. "Aku bersyukur kita gak jadi menikah. Sekarang aku tahu sifat kamu yang suka nyakitin perempuan. Aku benci sama kamu, Jar!" "Minggir!" Anisa mendorong Fajar sehingga pria itu menyingkir dari hadapannya. Gadis berumur 25 tahun itu memasuki mobil, meninggalkan Fajar yang masih berdiri di tempat. *** Mobil Rania berhenti di jalan yang sepi. Air mata wanita itu mengalir deras dari pelupuk mata. Bersamaan dengan itu, hujan pun turun sangat lebat mengguyur bumi. Sepertinya Tuhan tahu isi hati Rania saat ini sehingga Dia menurunkan hujan. Rania keluar dari mobil. Tubuhnya terduduk di jalan aspal tersebut. Di bawah derasnya hujan, ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan pilu yang bergelayut di hatinya. Kata-kata Fajar masih terlintas di pikiran. "Kenapa semua orang nuduh aku rebut Kak Fajar dari tunangannya. Padahal semua itu gak benar!" "Aku mungkin bisa terima orang-orang nganggap aku perusak hubungan Kak Fajar dan kekasihnya. Tetapi aku gak bisa terima kalau Kak Fajar sendiri yang nuduh aku seperti itu!" teriak Rania. "Kenap Kak Fajar gak bisa peduli sedikit pun sama perasaan aku? Pernikahan ini terjadi juga gara-gara dia." Rasanya Rania sudah tidak sanggup lagi menerima penderitaan ini. Kapan ia akan bahagia? Apakah kebahagian itu memang tidak ditakdirkan untuknya? *** Di lain tempat, Fajar baru saja sampai di rumahnya. Lampu rumah sudah mati, itu artinya semua orang di rumahnya sudah tidur. Fajar langsung saja pergi ke ruang kerjanya. Ia akan tidur di sana. Di sana sudah ada selimut dan bantal. Fajar merebahkan badannya di sofa. Pria itu menatap kosong ke langit-langit ruangan kerjanya. Fajar memikirkan Anisa. Kenapa nasib percintaannya begini? Kenapa ia harus menikah dengan gadis yang tidak ia cintai? Sekarang Anisa sudah membenci dirinya. Dan sekarang statusnya sudah menjadi suami dari Rania Kazella. Sanggupkah Fajar bertahan dengan wanita yang tidak ia cintai itu? "Andai aja malam itu aku gak mabuk? Mungkin aku gak akan kehilangan Anisa," guman Fajar menyesali perbuatannya. *** Pagi menyapa. Fajar segera keluar dari ruangan kerjanya sebelum ada orang yang melihatnya. Ia tidak mau keluarganya melihatnya tidur di ruang kerja karena itu hanya akan menambah masalah. Fajar melihat ranjang di kamarnya kosong. Di kamar mandi juga tidak ada suara gemercik air. Fajar bingung, kemana wanita yang sudah beberapa hari ini menempati kamarnya? Batang hidung wanita itu sama sekali tidak terlihat. "Apa mungkin dia udah berangkat ke kantor? Tapi ini masih pagi banget. Kantor masih sepi jam segini" monolog Fajar. Pria itu mulai sibuk memikirkan wanita itu. Namun, detik kemudian ia menggeleng. Untuk apa ia peduli pada Rania. Tidak ingin ambil pusing tentang wanita itu, Fajar langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Dua puluh menit bersiap-siap akhirnya sekarang Fajar sudah rapi dengan pakaian kantornya. Fajar turun ke lantai bawah dan menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama keluarganya. Meja makan berbentuk persegi panjang dengan enam kursi di sekelilingnya, di sana sudah ada Pak Zein, Bu Astrid, dan Putri. "Rania mana?" tanya Pak Zein pada Fajar. Dari semalam semenjak menantunya itu izin keluar, Pak Zein tidak melihatnya lagi karena ia sudah terlelap bersama Bu Astrid. "Udah ke kantor," balas Fajar. "Loh, ini, kan, masih pagi." Kening Pak Zein berkerut. Mau apa menantunya itu sepagi ini di kantor. "Paling dia keluyuran dulu sebelum ke kantor," celetukl Bu Astrid. *** Di kantor, Fajar kini tengah berada di ruang kerja untuk memantau kerja karyawannya. Mata Fajar menagkap sosok Bu Rosa yang sedang menjelaskan sesuatu pada anak magang, yang tak lain adalah Boy dan Indah. Tapi tunggu, di mana Rania? Fajar tidak melihat perempuan yang telah resmi menjadi istrinya itu ada di sana. Dari pagi tadi Fajar memang tidak pernah melihatnya. Jika tidak di kantor, lalu di mana dia sekarang? Fajar menghampiri Bu Rosa dan anak magang di kantornya. "Aman?" tanya Fajar berbasa-basi. "Eh, Pak Fajar. Aman, Pak. Cuma ada sedikit yang mereka tidak mengerti makanya saya jelaskan," jelas Bu Rosa. Fajar hanya manggut-manggut paham dengan kedua tangan yang berada di saku celananya. "Oh, iya, Pak. Keadaan Rania gimana?" tanya Indah ragu-ragu. Dirinya masih marah pada Rania, tapi di hati kecilnya ia juga khawatir pada sahabatnya itu. Kedua alis Fajar saling bertautan. Kenapa Indah menayakan keadaan Rania? "Emangnya Rania kenapa?" Bu Rosa, Indah, dan Boy saling bertatapan. Mereka bingung. Kenapa Fajar tidak tahu tentang istrinya sendiri. Bukankah mereka tinggal serumah. "Tadi pagi Rania telepon saya, Pak. Katanya hari ini dia gak bisa masuk karena sakit," jelas Bu Rosa. Fajar terdiam dan tengah berpikir. Kenapa ia tidak tahu kalau Rania sakit. Dan jika benar Rania sakit, lalu kenapa tadi pagi wanita itu tidak ada di rumah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fajar pergi dari hadapan Bu Rosa, Boy, dan Indah. Indah dan Boy merasa ada yang aneh dengan sikap Fajar. Mereka khawatir terjadi apa-apa dengan Rania. "Sebenarnya gue pengen jenguk Rania, tapi gue lagi marah sama dia. Apa mungkin Rania sakit karena jenguk gue semalam? Kenapa di saat gue sembuh malah dia yang sakit?" guman Indah dalam hati. Di ruangannya, Fajar kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu memikirkan Rania, ke mana sebenarnya wanita itu? Kenapa tadi pagi Fajar tidak melihatnya di rumah. Apa mungkin tadi pagi wanita itu ke rumah sakit untuk berobat. Fajar merogoh HP dari saku celananya lalu menghubungi telepon rumah. Tak lama kemudian telepon itu pun tersambung. "Hallo!" terdengan suara dari seberang sana yang tidak lain adalah pembantu Fajar. "Hallo, Bik. Apa Rania ada di rumah?" tanya Fajar. "Gak ada, Den. Bukannya Non Rania lagi di kantor." Fajar terdiam sesaat. Sungguh, keberadaan Rania membuat kepalanya pusing. Kemana sebenarnya wanita itu. "Oh, ya sudah, Bik. Terima kasih." Fajar memutuskan sambungan telepon. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, apa mungkin Rania berada di rumah orang tuanya. Tanpa pikir panjang, pria dengan nama lengkap Fajar Aditya Dirganata itu langsung keluar dari kantor. Pria itu berniat ke rumah Rania. Sebelum pergi Fajar menghampiri sekretarisnya terlebih dahulu, menyuruhnya untuk menghandle pekerjaannya. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN