BAB 9

1329 Kata
Di sebuah kamar bernuansa merah muda, seorang wanita kini tengah terbaring di tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing, ia juga bersin. Setelah semalam berhujan-hujanan, kini akhirnya Rania dibuat sakit. Wanita itu demam. Semalam Rania memang tidak pulang ke rumah Fajar, ia pulang ke rumah orang tuanya dengan kondisi basah kuyup. Bi Aci memasuki kamar Rania sambil membawa semangkok bubur ayam dan segelas air putih. "Non, di makan dulu buburnya." "Rania gak laper, Bik," balas Rania sambil memijit pelipisnya. "Tapi Non Rania, kan, belum makan. Non harus makan, supaya cepat sembuh." "Ya sudah, Bik. Tarok aja dulu. Nanti Rania makan." Rania lalu mengambil posisi duduk. Punggung wanita itu bersandar ke sandaran tempat tidur. Bi Aci lalu meletakkan nampan di atas nakas. Wanita yang kini berumur 56 tahun itu lalu mengambil duduk di dekat Rania. "Non lagi punya masalah apa? Cerita sama Bibi. Barangkali Bibi bisa bantu," tutur Bi Aci. Dirinya yakin kalau Rania sedang ada masalah, soalnya semalam Rania datang ke rumah dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak baik. Mata wanita itu sembab, bajunya basah kuyup, dari raut wajahnya jelas kalau dia baru saja menangis. "Rania gak ada masalah apa-apa, kok, Bik." Rania tersenyum tipis, mencoba meyakinkan Bi Aci kalau ia baik-baik saja. Rania tidak mau membuat Bi Aci merasa khawatir dengan dirinya. Selama ini memang Bi Aci lah yang bisa mengerti Rania. Dia yang memberi Rania kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri. Bi Aci memang tidak punya anak, makanya dia sangat menyayangi Rania. Di juga seorang janda. Dulu Bi Aci pernah hamil. Namun, karena kecelakaan yang ia alami bersama suaminya membuatnya keguguran dan tidak bisa hamil lagi. Sedangkan suaminya meninggal saat kecelakaan itu. Kerabat Bi Aci kini hanya tinggal adiknya, tetapi adiknya tinggal di kampung dan sudah berkeluarga, bahkan dia juga sudah dikarunia dua orang anak. Bi Aci menatap Rania sendu. Sampai kapankah majikannya itu selalu memendam masalahnya sendiri? Bi Aci sudah lama bekerja di rumah Rania, bahkan saat mama Rania masih hidup. Bi Aci sudah hapal sikap Rania, ia dapat merasakan kalau saat ini Rania sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu kapan Rania bahagia dan sedih. Dari dulu Rania memang suka menyembunyikan masalahnya. Dia selalu tampak ceria di depan orang-orang, padahal sebenarnya dia sedang sedih. Pernah tak sengaja Bi Aci melihat Rania menangis di halaman belakang rumah, tetapi saat Bi Aci menghampirinya, Rania langsung menghapus air matanya dan tersenyum agar tak membuat Bi Aci khawatir. Rania tidak mau menjadi beban bagi orang-orang. Rania hanya akan menangis di tempat yang sepi agar orang-orang tidak melihatnya. Rania tidak mau orang-orang menganggapnya lemah karena itu akan membuat harga dirinya diinjak-injak. Rania ingin orang-orang berpikir kalau dirinya perempuan yang kuat dan tegar. "Kalau Bibi boleh kasih nasehat. Sebaiknya, Non jangan pendam masalah Non sendiri. Ada kalanya seseorang sangat butuh bercerita masalahnya ke orang lain. Masalah akan sulit diselesaikan jika dihadapi sendiri. Setidaknya dengan bercerita beban di hati Non bisa berkurang." Rania termangu sambil menundukkan kepala. Satu kelemahan pada dirinya, yaitu sulit untuk berbagi isi hatinya pada orang lain. Bi Aci memeluk Rania. Ia tahu kalau hati wanita itu kini sedang sedih. Rania membalas pelukan Bi Aci. Air matanya perlahan luruh. Dia menangis dalam diam, agar Bi Aci tidak mendengarnya. "Bi, apa benar Rania cuma bawa beban bagi orang-orang?" tanya Rania. Dia selalu berpikir dirinya adalah beban bagi orang-orang, makanya banyak orang yang tidak suka padanya. "Kenapa Non berpikir seperti itu? Non Rania bukan beban. Walaupun ada orang yang tidak suka pada Non, tetapi percayalah. Masih banyak orang yang sayang pada Non Rania." Bi Aci mengusap punggung Rania. Mendengar pertanyaan Rania, membuatnya ingin menangis. Ia kasihan pada Rania. Selama ini Rania sudah banyak menderita. Sejak mamanya meninggal, Rania memang jarang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. "Makasih, ya, Bik. Selama ini Bibi udah mau merawat Rania. Karena Bibi, Rania bisa merasakan kasih sayang seorang ibu walaupun Bibi bukan ibu Rania. Rania sayang sama Bibi," tutur Rania. "Sama-sama, Non. Bibi juga sayang sama Non Rania. Bagi Bibi, Non Rania sudah seperti anak kandung Bibi sendiri," ujar Bi Aci. Rania tersenyum hangat mendengar perkataan wanita paruh baya itu. Wanita itu lalu menghapus air matanya. Ia juga melepas pelukan Bi Aci. "Sekarang Non makan, ya. Biar perutnya gak kosong. Dari tadi, kan, Non belum makan." Rania mengangguk. "Tapi disuapin, ya, Bik," pinta Rania sambil terkekeh. Untuk saat ini Rania ingin dimanja oleh Bi Aci. Ia sangat rindu dengan wanita itu. Bi Aci juga ikut terkekeh. Dirinya merasa seperti mengurus anak kecil saja. Bi Aci mengambil bubur di atas nakas dan mulai menyuapi majikannya itu. Rania memakan bubur itu hingga tinggal setengah. Dia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan makannya. Apa pun makanan yang masuk ke mulutnya terasa pahit. "Udah, Bik. Rania kenyang," kilah Rania. "Tapi, Non. Ini masih tinggal setengah." Rania menggeleng ketika Bi Aci menyuapinya bubur lagi. "Ya sudah, kalau Non gak mau makan lagi. Bibi ke dapur dulu. Non istirahat, ya," ucap Bi Aci. Rania hanya mengangguk. Bi Aci lalu keluar dari kamar sambil membawa bubur sisa Rania . Sedangkan Rania melanjutkan istirahatnya. Ding! Dong! Terdengar bunyi bel. Bi Aci yang sedang di dapur buru-buru ke depan untuk membuka pintu. "Den Fajar," ucap Bi Aci ketika melihat Fajar berdiri di depan pintu. "Apa Rania ada di sini, Bik?" tanya Fajar. "Ada, den. Non Rania lagi istirahat di kamarnya. Dia demam. Sepertinya semalam Non Rania kehujanan, dia datang ke sini dengan keadaan basah kuyup," jelas Bi Aci. Fajar manggut-manggut. Berarti semalam Rania tidak di rumahnya. Pantasan tadi pagi Fajar tidak melihat wanita itu. Tanpa basa-basi Fajar pun langsung pergi ke kamar Rania. Sedangkan Bi Aci kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor. Fajar membuka pintu dan melihat Rania terbaring di ranjangnya. Rania kaget melihat kedatangan Fajar, wanita itu lalu mengambil posisi duduk. "Kakak ngapain di sini?" tanya Rania dengan nada sedikit ketus. Melihat pria itu membuat hati Rania sakit. Ia teringat dengan perkataan Fajar pada Anisa semalam. Fajar tak menjawab. Ia mengamati wajah Rania yang terlihat pucat. "Ayo pulang!" perintahnya pada Rania. "Nggak! Rania masih mau di sini. Kakak pulang aja sendiri," sanggah Rania. Jika ia di rumah Fajar, maka tidak akan ada yang mau merawatnya. Orang-orang di sana pasti tidak peduli jika dirinya sakit. Lebih baik Rania berada di rumahnya, di sini ia tidak kesepian karena ada Bi Aci yang merawatnya. "Jangan membantah. Kalau saya suruh pulang, ya, pulang," tegas Fajar, tidak lupa dengan raut wajah datarnya. "Rania lagi gak enak badan. Rania masih mau di sini. Besok kalau Rania udah sembuh, Rania pulang sendiri." Rania lalu membaringkan badannya kembali dan memunggungi Fajar. "Pulang sekarang. Kalau kamu sakit, kamu bisa istirahat di rumah saya." Jika bukan karena orang tuanya, Fajar tidak akan mau membuang-buang waktunya untuk memaksa Rania pulang. Orang tuanya pasti akan bertanya-tanya, kenapa Rania tidak pulang ke rumah. Apalagi papanya pasti akan memarahinya karena tidak bisa menjaga istrinya. Sungguh, Fajar sangat tidak suka ribut dengan papanya. "Kak, please ... jangan paksa Rania. Rania gak mau pulang. Lagian Rania betah di sini karena ada Bi Aci yang rawat Rania. Kalau di rumah Kakak, Rania sakit pun gak akan ada yang peduli." "Nggak usah drama. Ayo pulang. Saya nggak punya banyak waktu buat maksa-maksa kamu. Masih banyak pekerjaan saya yang lebih penting." "Siapa yang drama? Lagian Rania juga gak mau dipaksa-paksa. Kalau banyak pekerjaan, ya, pergi aja. Rania gak pernah nyuruh Kakak ke sini," ketus Rania. "Saya capek ngomong sama kamu. Jangan sampai saya menggunakan cara paksa untuk membawa kamu pulang," ucap Fajar memperingatkan. Rania menutup telinganya dengan bantal dan memejamkan matanya. Mendengar Fajar mengomel membuat kepalanya semakin pusing. Lebih baik ia tidur dari pada mendengar pria itu mengomel. Fajar mendengus. Tampaknya Rania memang ingin menguji kesabarannya. Sepertinya Fajar harus membawa Rania pulamg dengan cara paksa. Priq berjakun itu langsung menggendong tubuh Rania ala bridal style yang membuat wanita itu terperanjat. "Kak, turunin Rania!" pakik wanita itu sambil memukul-mukul d**a bidang Fajar. Pria itu akhirnya menurunkan Rania. "Mau pulang dengan cara baik-baik atau saya paksa?" tanya Fajar menatap Rania datar. "Iya, Rania pulang," jawab Rania pasrah. Ia baru tahu ternyata Fajar adalah orang yang sangat pemaksa. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN