Matahari sudah selesai melaksanakan tugasnya. Malam ini cuaca terlihat cerah. Bulan dan bintang bersinar membuat langit malam tampak indah.
Rania kini sedang berada di kamarnya. Ia mengambil bantal dan selimut lalu menaruhnya di sofa yang ada di kamar tersebut. Fajar yang baru saja memasuki kamar, bingung dengan apa yang dilakukan wanita itu
"Kamu ngapain?" tanya Fajar dingin.
"Rania akan tidur di sofa. Ini kamar Kakak, jadi kakak yang seharusnya menempati ranjang itu. Kakak gak usah tidur di ruang kerja lagi," balas Rania.
"Gak usah. Kamu tidur saja di ranjang karena saya tidak akan tidur di kamar ini."
"Kakak gak mau tidur di kamar ini karena ada Rania, 'kan? Ya sudah, kalau begitu Rania akan tidur di kamar tamu," putus Rania. Fajar menghela gusar. Sepertinya Rania ingin caper padanya dengan tidur di kamar tamu. Apakah wanita itu berharap Fajar akan luluh dan kasihan padanya?
"Kamu gak usah cari perhatian saya. Saya gak suka," tekan Fajar. Mata Rania membulat. Kenapa Fajar menuduhnya sembarangan. Sungguh, ia tidak pernah berpikir seperti itu.
"Rania gak caper, itu cuma buang-buang tenaga Rania aja. Lagian Rania sadar, kakak mana mungkin peduli sama Rania." Mata Rania berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Udah cukup, Kak. Rania cepek di tuduh yang bukan-bukan. Semalam Kakak tuduh Rania sebagai perusak hubungan kakak dengan tunangan kakak. Salah Rania di mana? Kita gak akan menikah kalau malam itu kakak gak narik Rania ke apartemen Kakak." Rania mengungkapkan semua yang ada di hatinya. Sudah cukup dirinya yang selalu di salahkan.
Mata Fajar sedikit melotot. Apa yang dimaksud Rania? Apa mungkin semalam Rania melihatnya bertemu dengan Anisa. "Nuduh? Maksud kamu apa?" tanya Fajar.
"Gak usah pura-pura gak ngerti. Semalam Rania lihat Kakak di rumah sakit. Dan Rania juga dengan pembicaraan kakak dengan seorang perempuan. Dia tunangan kakak, 'kan?" Walaupun Fajar tidak mencintainya, tetapi hati Rania sakit ketika melihat Fajar masih mengejar tunangannya. Padahal pria itu sudah menikah. Dia tidak mungkin bisa kembali pada Anisa lagi.
"Kalau Kakak memang mencintai wanita itu. Ya udah, ceraiin Rania. Rania capek hidup sama orang yang gak bisa peduli sama Rania. Rania capek difitnah dan disalahin terus sama orang-orang. Rania pengen pernikahan ini berakhir. Rania pengen pergi dari rumah ini." Entah bagaimana jalan pikiran Rania sehingga dia meminta cerai, padahal pernikahannya dan Fajar baru beberapa hari.
Mata Fajar melotot sempurna. "Kamu gila? Pernikahan kita baru beberapa hari dan sekarang kamu mau minta cerai. Kamu gak mikirin gimana nanti omongan orang-orang. Jangan bikin keluarga saya malu!" tekan Fajar. Untung saja kamar Fajar kedap suara dan keluarganya juga sedang di lantai bawah, jadi mereka tidak akan mendengar keributannya dengan Rania.
Rahang Rania mengeras. Tangannya terkepal. Sebenarnya apa mau Fajar? Bukankah pria itu mencintai Anisa, seharusnya dia senang Rania minta cerai. Pria itu benar-bener egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tak pernah memikirkan Rania yang menderita karena hidup bersamanya.
"Bukannya Kakak pernah bilang. Gak usah dengarin omongan orang. Lalu apa salahnya Rania minta cerai. Biarin aja mereka ngomongin kita," tegas Rania.
Fajar mendengus. Tampaknya Rania tidak mengerti. Jika mereka bercerai, orang tua mereka pasti juga akan menanggung malu. Apalagi papa Fajar adalah tipe orang yang sangat menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Dia pasti akan marah besar pada Fajar kalau anaknya itu gagal menjalani rumah tangganya. Padahal rumah tangga anaknya itu baru beberapa hari.
"Sudahlah. Capek saya ngomong sama kamu. Kalau kamu memang ingin kita cerai tunggu sekitar enam bulan lagi, setelah itu saya akan talak kamu." Enam bulan adalah waktu yang cukup lama bukan. Bahkan, di luar sana banya pasangan yang dua bulan menikah lalu bercerai. Jadi tak apa jika ia dan Rania bercerai ketika pernikahan mereka sudah enam bulan. Jujur, Fajar juga tak kuat hidup bersama Rania. Apalagi menghadapi sikap keras kepala dan pembangkang wanita itu yang membuatnya merasa muak.
Fajar membalikan badan lalu berjalan menuju pintu. Baru beberapa langkah saja pria itu berhenti berjalan. "Gak usah tidur di kamar tamu. Kalau papa dan mama tahu itu cuma bikin masalah. Kamu tidur saja di kamar ini. Lagian kamu cuma enam bulan di sini. Setelah kamu pergi saya akan menempati kamar ini lagi." Fajar melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.
Air mata Rania menetes setelah kepergian Fajar. Hatinya sangat rapuh. Jujur, sebenarnya ia tidak ingin bercerai. Sejak dulu ia bermimpi hanya menikah satu kali untuk seumur hidupnya. Rania tidak ingin menjadi janda. Apalagi diusianya yang masih terbilang sangat muda, yang tak lain 23 tahun. Namun, mau bagaimana lagi? Rania juga tidak kuat harus hidup bersama Fajar. Apalagi keluarga Fajar juga tidak menyukainya. Tinggal beberapa hari di rumah itu saja sudah membuatnya menderita.
***
Pagi menyapa. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rania masih terbaring di ranjangnya. Hari ini wanita itu tidak masuk magang karena badannya belum enakan. Entah kenapa kepalanya kembali terasa pusing. Kali ini kepalanya terasa ingin pecah, padahal semalam sudah sedikit enakan. Mungkin karena semalam Rania menangis terlalu lama, makanya kepalanya terasa sakit sekarang.
Bu Astrid memasuki kamar Rania sambil membawa nampan yang berisi makanan. Walaupun Bu Astrid kurang menyukai Rania, tetapi ia masih punya hati. Tidak mungkin ia membiarkan wanita itu sakit dan tidak ada yang merawat. Ia juga punya rasa kasihan.
Bu Astrid meletakkan nampan di atas nakas. Di lalu duduk di tepi ranjang dan menggoyangkan tangan Rania. "Rania," panggilnya pelan.
Rania membuka mata. Melihat Bu Astrid di sampingnya, wanita itu mengambil posisi duduk dan menyandarkan punggung ke sandaran tempat tidur. "Ada apa, Ma?" tanya Rania. Tumben sekali Bu Astrid menghampirinya ke kamar.
"Itu makanan. Jangan lupa di makan," ucap Bu Astrid sambil mengedikan dagunya ke arah nakas.
Rania mengangguk samar. "Makasih, Mah," tuturnya. Ada rasa bahagia dihatinya ketika Bu Astrid mengantarkannya makanan. Itu artinya Bu Astrid mulai peduli padanya.
"Saya keluar dulu. Setelah makan kamu siap-siap. Kita ke rumah sakit buat berobat," ujar Bu Astrid lalu berdiri.
"Rumah sakit? Gak usah, Mah. Rania cuma demam biasa, kok," tolak Rania halus.
"Kamu nurut aja perkataan saya. Saya gak mau penyakit kamu tambah parah dan itu malah bikin repot," cecar Bu Astrid. "Saya tunggu di lantai bawah." Bu Astrid lalu keluar dari kamar Rania.
Rania menunduk. Baru saja ia bahagia karena Bu Astrid mulai peduli padanya, tetapi kini ia dibuat sedih karena perkataan Bu Astrid yang menohok hati. Apa benar dirinya merepotkan?
***
Rania berjalan di belakang Bu Astrid, menyusuri koridor rumah sakit. Dirinya sudah selesai berobat. Seperti perkataan Rania saat di rumah tadi, dirinya hanya demam biasa. Kini mertua dan menantu itu berjalan menuju parkiran.
"Anisa," guman Bu Astrid ketika tidak sengaja berpapasan dengan Anisa. Bu Astrid baru sadar, kalau rumah sakit yang ia datangi adalah tempat Anisa bekerja.
"Tante," sapa Anisa seraya tersenyum kikuk. Entahlah, sekarang ia merasa canggung ketika bertemu dengan keluarga Fajar. "Tante kenapa bisa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Anisa.
"Istri Fajar," jawab Bu Astrid berat, ia takut membuat hati Anisa terluka. Bu Astrid menatap Anisa sendu. Perempuan yang selama ini ia anggap seperti anak kandungnya, tetapi tidak jadi menjadi menantunya. Padahal Bu Astrid sangat menyukai Anisa. Gadis itu sangat baik. Namun, takdir berkata lain, menjodohkan putranya dengan Rania.
Anisa hanya manggut. Ia lalu menatap pada Rania yang berdiri di samping Bu Astrid. Kedua perempuan itu saling tatap. Entah kenapa, ketika melihat Anisa hati Rania terasa sakit. Ia teringat dengan perkataan Fajar pada Anisa malam itu.
"Selamat, ya, atas pernikahaan kamu dan Fajar. Semoga kalian bahagia." Anisa tersenyum tulus. Walau berat, tetapi perempuan 25 tahun itu sudah berusaha melupakan Fajar. Ia juga tidak membenci Rania.
Rania mengangguk berat. Bibirnya terasa terkunci. Entah kenapa ia merasa kasihan pada Anisa. Sesama perempuan Rania mengerti bagaimana perasaan Anisa sekarang. Seketika Rania merasa bersalah. Karena kehadirannya membuat Anisa dan Fajar tidak jadi menikah. Rania tahu kalau Fajar dan Anisa saling mencintainya.
"Kalau gitu Anisa pergi dulu. Permisi." Anisa lalu melanjutkan langkahnya, ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongannya.
Bu Astrid juga pergi. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Rania. Saat melihat Anisa, ada sedikit rasa tidak ikhlas di hatinya. Kenapa bukan Anisa yang menjadi menantunya.
Rania segera mengejar Bu Astrid. Kini menantu dan mertua itu sudah berada di dalam mobil dengan Bu Astrid yang menyetir. Sedangkan Rania duduk di sebelahnya.
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Rania melamun dan fokus menatap ke luar jendala.
"Perempuan tadi tunangannya Fajar. Namanya Anisa. Padahal Fajar dan Anisa sudah berencana untuk menikah. Tetapi karena kesalahan Fajar, membuat dia terpaksa menikahi kamu," jelas Bu Astrid sambil menekan kata 'terpaksa'.
Rania hanya menanggapinya dengan anggukan. Entah apa maksud Bu Astrid berkata seperti itu, padahal Rania tidak pernah bertanya. Apa Bu Astrid sengaja ingin membuat Rania merasa bersalah. Jujur, hati Rania sedikit terluka mendengarnya, apalagi saat Bu Astrid menekan kata terpaksa.
~Bersambung~