BAB 11

1016 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Rania duduk di teras samping, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitnya. Matanya menatap lurus ke arah pohon mangga yang tidak berbuah. Rambut panjang wanita itu ikut terbawa hembusan angin. Merasa suntuk di kamar, Rania akhirnya memutuskan untuk duduk di sana. Mata wanita itu memanas, menahan cairan yang memaksa untuk keluar dari pelupuk mata. Menyendiri mungkin sudah menjadi kebiasaan tersendiri baginya. "Putri pulang!" seru Putri yang baru saja pulang dari sekolah. Namun, tak ada yang menjawab dan menyambut kepulangannya. Sepertinya, mamanya sedang tidur siang, pikir gadis itu. Baru saja gadis berseragam SMP itu akan ke kamar untuk mengganti pakaian, tetapi langkahnya terhenti ketika tidak sengaja melihat Rania duduk di teras samping. Kakak iparnya itu kini duduk memunggunginya. Sepertinya dia melamun sehingga tidak mendengar suara Putri. Entah dorongan dari mana? Putri berjalan mendekati Rania, ia berdiri di ambang pintu. "Mah, Rania capek," lirih Rania, suaranya terdengar sedikit serak. Ia teringat dengan almarhum mamanya. Raut wajahnya terlihat sendu. Rasanya ia sudah lelah menjalani hidup yang penuh dengan penderitaan. Seperti tidak ada secercah kebahagian untuknya. "Kenapa orang-orang jauhin Rania? Mereka berpikir kalau Rania rebut Kak Fajar dari tunangannya, padahal Rania gak pernah punya niatan seperti itu." "Andai aja mama di sini. Mungkin Rania tidak akan merasa seterpuruk ini." Rania menyalakan handphone-nya lalu membuka galeri. Ia mengamati foto kecil dirinya bersama mama dan papanya. "Mah, Rania kangen. Rania pengen ngerasain dipeluk mama lagi. Andai saja Allah mengabulkan doa Rania. Rania pengen setiap malam memimpikan mama. Rania akan memanfaatkan waktu itu untuk memeluk mama sepuasnya, walaupun cuma dalam mimpi." Air mata yang sejak tadi wanita itu tahan, kini telah lolos membasahi pipi tirusnya. "Sejak mama pergi, papa udah jarang perhatian sama Rania. Rasanya Rania pengen cepet-cepet mati biar bisa bersama mama lagi. Rania menderita di sini, Mah. Orang yang peduli sama Rania cuma Bi Aci, tetapi sekarang Rania udah gak tinggal sama Bi Aci lagi. Hidup Rania sekarang sunyi, Rania kesepian, Mah ...." Punggung Rania bergetar. Ia berusaha memelankan suaranya agar tidak ada yang mendengarnya menangis. Walau pelan, tetapi Putri masih bisa mendengar isakan Rania. Ia tahu kalau saat ini Rania sedang menangis karena punggungnya yang bergetar. Mendengar setiap kata Rania, membuat hati Putri tersentuh. Entah kenapa, ia merasa kasihan pada Rania? Ia tidak dapat membayangkan jika dirinya yang berada di posisi kakak iparnya itu. Entah kenapa, Putri merasa perkataan Rania itu murni. Seperti tidak ada kebohongan di dalamnya. Berarti, selama ini ia sudah salah menuduh kakak iparnya itu yang membuat hubungan abangnya dengan Anisa hancur. Padahal ia tahu, abangnya yang berbuat kesalahan sehingga membawa Rania ke kehidupannya. Seharusnya di sini Ranialah yang menjadi korban. "Putri, kamu udah pulang?" tanya Bu Astrid yang baru saja keluar dari kamar. Wanita dengan warna kulit kuning langsat itu baru saja selesai melaksanakan salat ashar. Mendengar suara Bu Astrid membuat Rania cepat-cepat menghapus air matanya. Ia lalu berdiri dan berbalik badan. Rania melihat Putri yang berdiri di ambang pintu. Seketika Rania gelisah. Sejak kapan Putri berdiri di sana? Apakah tadi Putri mendengarnya menangis? Mata Putri membulat. Sial! Gara-gara mamanya, Rania melihatnya berdiri di ambang pintu. Putri tidak ingin dikira menguping. Walau sebenarnya memang begitu. Putri berusaha bersikap biasa saja, seolah-olah dirinya tidak pernah menguping perkataan Rania. "Kenapa belum ganti seragam?" tanya Bu Astrid yang kini berdiri di samping Putri. "Putri baru pulang, Mah. Ini baru mau ganti seragam. Ya udah, Putri ke kamar dulu." Putri pun buru-buru berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Pandangan Bu Astrid lalu terjatuh pada Rania yang kini berdiri sambil memperhatikannya. Bu Astrid hanya diam sambil memasang ekspresi cuek. Wanita berumur 54 tahun itu lalu pergi meninggalkan Rania *** Rania duduk di ranjangnya dengan punggung yang bersandar di sandaran tempat tidur. Katanya malam ini akan ada tamu, untuk itu Rania tidak mau keluar kamar. Untuk apa ia keluar, kalau nanti ia akan mendapat tatapan dingin dari mama mertua, suami dan adik iparnya. Pasti nanti Rania akan bengong saja di ruang tamu karena tidak ada yang mengajaknya bicara. Dirinya tak dianggap di sana. Ceklek! Fajar membuka pintu dan memasuki kamar. Pria itu memasang ekspresi cuek ketika melihat Rania duduk di ranjang. Fajar hanya diam. Pria itu mengambil bajunya di dalam lemari lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Rania berusaha untuk tidak peduli dengan sikap Fajar. Ia tidak boleh bersedih. Toh, Fajar memang selalu bersikap begitu padanya. Ia sedih pun Fajar takkan pernah merubah sikapnya. Rania berjalan menuju balkon kamar. Ia melihat mobil sport berwarna merah terparkir di halaman depan. Sepertinya tamu itu sudah datang. Rania duduk dibalkon, menikmati angin malam. Dia tidak memedulikan dirinya yang saat ini masih sakit. Sebenarnya keadaannya sudah agak mendingan "Ayo ke bawah!" ajak Fajar yang membuat Rania tersentak kaget. Pria itu sudah selesai mandi beberapa menit yang lalu. "Ngapain?" tanya Rania. "Di lantai bawah ada tamu. Dia tahu kalau saya udah nikah. Jadi, dia pengen kenalan sama kamu," balas Fajar. Rania manggut-manggut. Sebenarnya ia malas turun, tetapi ia juga tidak enak pada tamu itu yang ingin berkenalan dengannya. "Kakak duluan aja ke bawah. Nanti Rania nyusul," suruh Rania. Fajar lalu pergi ke lantai bawah terlebih dahulu. Sedangkan Rania, ia berdiri di depan meja rias. Memakai pelembap bibir agar bibirnya tidak kelihatan pucat. Setelah itu, ia lalu keluar dari kamar. Rania berdiri di anak tangga terakhir. Ia melihat semua keluarganya berkumpul di ruang tamu bersama seorang pemuda yang tak lain adalah tamu tersebut. Rania tidak dapat melihat wajahnya karena tamu itu duduk memunggunginya. "Kira-kira siapa tamunya?" Rania terus memperhatikan tamu itu dari belakang. Entah mengapa, ia merasa familiar dengan pria itu. Jantung Rania mulai berdebar tak karuan. "Gak mungkin dia," lirih Rania meyakinkan dirinya. Gadis itu geleng-geleng kepala, mengusir pria yang kini menghantui pikirannya. "Rania, kenapa berdiri di situ? Ayo ke sini. Papa mau ngenalin kamu sama seseorang," panggil Pak Zein. Rania mengangguk, lalu melangkah mendekati sofa. Deg! Mendadak langkah Rania terhenti saat tamu itu berdiri dan menghadap ke arahnya. Mata Rania membola, mulutnya sedikit terbuka. Wanita itu terdiam membeku dan menatap lekat tamu tersebut. "Rania." Mata tamu itu sedikit melotot. Jantungnya berdetak kencang. Tubuhnya seketika membeku. Masih merasa tidak percaya jika wanita cantik di depannya adalah Rania. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN