Bel rumahnya berbunyi, Rania berlari tergopoh-gopoh menuju pintu. Raut wajah wanita itu langsung berubah sangar saat melihat Selin yang datang ke rumahnya. "Hai, Ran," sapa Selin sambil tersenyum manis. PLAK! Tangan Rania mendarat di pipi Selin. "Gak usah sok baik karena sebenarnya lo itu munafik. Berhenti berpura-pura karena gue udah tahu rencana lo. Gue nggak akan biarin lo rebut Kak Fajar dari gue!" teriak Rania. "Gue pikir lo memang menganggap gue sahabat, tapi ternyata itu hanya rencana lo untuk ngehancurin rumah tangga gue!" "Pergi dari rumah gue!" usir Rania. "Rania, ada apa? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Fajar menghampiri istrinya ke teras depan. "Kakak tahu, perempuan yang selama ini kakak anggap sahabat, justru punya rencana untuk ngehancurin rumah tangga kita." "Nggak,

