Bulan sudah menampak diri. Sejak tadi siang Rania tidak pernah keluar dari kamarnya. Tadi wanita itu meminta mertua dan adiknya untuk pulang karena saat ini ia benar-benar butuh waktu sendiri. "Non, buka pintunya. Makan dulu, Non. Sejak tadi Non Rania belum makan, bibi takut nanti Non Sakit." Bi Aci berdiri di depan kamar sambil menangis. Ia bisa merasakan bagaimana terpukulnya Rania saat ini. Selama ini Bi Aci menganggap Rania seperti anak kandungnya, ia ikut sakit ketika melihat Rania sedih. Fajar mendekati Bi Aci. Mata pria itu juga meneteskan buliran bening. "Sayang, tolong buka pintunya. Aku mohon, izinin aku masuk dan bicara sama kamu," mohon Fajar. Sedangkan Rania kini tidak memedulikan suara di luar sana. Wanita itu berbaring sembari menangis, matanya menatap kosong pada balkon

