Pagi menyapa, tetapi Fajar masih berbaring di kasurnya. Ia merasa masih kurang enak badan. "Den, bibi bawa sarapan. Ayo di makan dulu," ucap Bi Aci memasuki kamar. "Tarok aja di nakas, Bi. Nanti saya makan," sahut Fajar lemas. "Rania mana, Bi?" "Non Rania masih di kamar tamu, Den. Bibi tadi uduh nyuruh dia untuk sarapan, tetapi katanya nanti. Sebenarnya Non Rania juga yang nyuruh Bibi untuk antar makanan ke Den Fajar." "Oh, ya sudah, Bi. Bibi boleh keluar." Bi Aci mengangguk lalu pergi. Raut wajah Fajar terlihat sendu. Kenapa rumah tangganya jadi seperti ini? Apalagi sekarang Rania tidak mau berhadapan dengannya. Fajar bangkit dari ranjang, ia mengabaikan kepalanya yang pusing saat ini. Ia hanya ingin bertemu dengan istrinya. Baru saja Fajar tiba di depan kamar tamu, tiba-tiba Rania

