Fajar mencekal lengan Rania, membuat wanita itu akhirnya berhenti. Jantung pria itu kini berdetak kencang. Ia was-was saat melihat Rania lari tadi. Dirinya takut kalau wanita itu sampai jatuh, apalagi perutnya kini sudah semakin membesar, itu bisa membahayakan istri dan calon anaknya. "Lepasin! Udah cukup Kakak nyakitin Rania. Kalau memang kakak gak mencintai Rania, seharusnya waktu itu kakak gak usah bohong. Rania gak akan marah kalau kakak jujur. Rania akan berusaha lagi untuk dapatin hati kaki. Tapi nyatanya kakak mainin persaaan Rania." Air mata Rania semakin mengalir deras. Fajar tidak dapat berkata-kata. "Kakak janji, Kakak akan lupain Dokter Anisa, tetapi nyatanya Kakak masih nyimpen perasaan untuk dia. Jangan-jangan perhatian Kakak ke Rania selama ini cuma pura-pura karena Rania

