Bab 37

1049 Kata

Hari-hari berlalu. Tidak terasa sudah dua minggu Rania setia menutup matanya. Entah kapan ia akan sadar dari koma. Setiap hari Pak Heru selalu bolak-balik ke rumah sakit untuk menemani putrinya. Pria paruh baya itu kini duduk di samping Rania. "Kamu kapan bangun, Sayang? Papa sedih lihat kamu seperti ini." Pak Heru sudah kehilangan cinta pertamanya, yang tak lain adalah mama Rania. Dirinya tidak akan sanggup jika nanti Tuhan juga mengambil putrinya. "Pah, Mama bawain nasi goreng. Papa makan, ya." Bu Erika baru saja kembali dari kantin rumah sakit, membelikan suaminya itu makan siang. "Papa gak laper, Mah." Melihat kondisi putrinya, Pak Heru jadi tidak nafsu makan. "Pah, jari Rania gerak-gerak," ujar Bu Erika terkejut, seketika raut wajahnya terlihat berbinar. Pak Heru pun bergegas mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN