BAB 4

1044 Kata
Setelah melakukan akad nikah di rumah Rania dan hanya di hadiri oleh beberapa orang saksi, kini Rania dan Fajar sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tidak ada terpancar aura kebahagian dari raut wajah mereka. Ini bukanlah pernikahan yang Rania inginkan, apalagi menikah dengan orang yang sudah m*****i dirinya. Begitu juga dengan Fajar, ia tidak menginginkan pernikahan ini. Pernikahan yang selama ini ia impi-impikan bersama tunangannya seketika kandas karena kejadian satu malam. Selesai akad nikah, Rania dibawa ke rumah suaminya. Mulai sekarang wanita itu akan tinggal bersama Fajar dan keluarganya. Rania dan Fajar memasuki kamar bernuansa hitam dan abu-abu, yang tak lain adalah kamar Fajar sendiri. Di dinding kamar banyak tarpampang foto-foto Fajar. Mulai dari foto kecil hingga dewasa. Hanya ada keheningan. Baik Rania maupun Fajar tak ada yang membuka suara. Keduanya sama-sama diam. "Lemari ini kosong. Kamu bisa tarok baju kamu di sini," kata Fajar dingin. Mengambil handuk dan pakaian, Fajar lalu melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Sedangkan Rania membuka kopernya dan menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari. Fajar keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Dia menuju meja rias tanpa memandang Rania sedikit pun. Pria berjakun itu terus menampilkan ekspresi datar. Fajar merogoh kunci mobilnya di atas nakas lalu keluar dari kamar tanpa berpamitan pada Rania. Melihat cara pria itu bersikap, Rania tahu kalau Fajar tidak menyukainya. Wanita berpipi tirus itu menghela pelan. Entah bagaimana selanjutnya ia bisa hidup dengan Fajar. *** Fajar memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Pria itu keluar dari rumah hanya untuk pergi ke rumah sakit menemui mantan tunangannya. Ia tahu, hati tunangannya itu pasti sangat hancur sekarang. Kemaren saat Fajar menemui kekasihnya dan mengatakan kalau pernikahan mereka batal karena ia akan menikah dengan perempuan lain, tunangannya itu terlihat sangat terpuruk. Fajar mengerti, perempuan mana yang tidak sedih ketika merasa dikhianati. Ia merasa bersalah pada Anisa---tunangannya. Perempuan yang sudah lima tahun ini mengisi hatinya. Setelah menuju meja resepsionis, Fajar langsung ke ruangan Anisa. Kebetulan gadis itu sedang tidak menangani pasien. "Anisa!" panggil Fajar. Anisa yang baru saja keluar dari ruangannya lalu menoleh. "Fajar," gumannya. Anisa hendak buru-buru pergi dari sana, tetapi tangannya ditahan oleh Fajar. "Lepas. Ngapin kamu temuin aku lagi?" Gadis yang baru dua minggu memutuskan untuk berhijab itu berusaha melepas tangan Fajar. Namun, Fajar memegangnya erat dan tidak membiarkan Anisa pergi. "Aku pengen bicara sama kamu. Please ... dengerin penjelasan aku dulu," mohon Fajar. "Gak ada lagi yang perlu dijelasin. Hubungan kita udah berakhir. Kamu udah berhasil bikin hati aku hancur. Aku salah apa, Jar? Kenapa kamu tega khianatin aku, padahal kita udah tunangan. Kamu juga gak mau jelasin kenapa kamu mutusin aku dan nikah sama perempuan lain. Aku benci sama kamu," tekan Anisa. Buliran bening itu lolos dari pelupuk matanya. Lima tahun ia dan Fajar menjalin hubungan, tetapi akhirnya Fajar memilih nikah dengan perempuan lain. Fajar bergeming. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia sadar, kalau dirinya sudah menyakiti Anisa. Fajar memang tidak mengatakan yang sebenarnya pada Anisa kalau ia sudah m*****i Rania, karena tidak mau membuat hati Anisa semakin tersakiti. Ia juga takut Anisa semakin membencinya. "Lupain aku dan jangan pernah temuin aku lagi. Lihat wajah kamu cuma bikin hati aku tambah sakit," tutur Anisa seraya menghapus air matanya dengan sebelah tangan. "Lepasin tangan aku. Aku harus pergi karena ada pasien harus aku tanganin." Fajar melepas tangan Anisa. Ia menatap kepergian gadis itu sendu. Karena kejadian satu malam, ia harus kehilangan gadis yang sangat ia cintai. *** Bulan telah menampakkan diri. Sudah sejak siang tadi Fajar pergi, tetapi sampai sekarang pria itu masih belum pulang. Rania keluar dari kamar. Ia melihat mama mertua dan adik iparnya sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Sesekali mereka tertawa karena film komedi yang mereka tonton. Kaki jenjang Rania melangkah mendekati keluarga barunya. "Mama sama Putri lagi nonton apa?" tanya Rania berbasa-basi seraya mendudukkan bokongnya di sofa satu dudukan. Sedangkan mama dan adik iparnya duduk di sofa panjang, menghadap ke arah televisi. Ekspresi Bu Astrid dan Putri yang tadinya ceria, mendadak langsung berubah datar saat kedatangan Rania. Sepertinya mereka tidak suka ada Rania. Ibu dan anak itu sama-sama diam, tak ada yang menjawab pertanyaan Rania. "Mah, Putri ke kamar dulu. Mau ngerjain PR," alasan Putri pada mamanya lalu melenggang pergi ke kamar. Bu Astrid menatap kepergian Putri sebal. Kenapa putrinya itu malah meninggalkannya berdua dengan Rania? Bu Astrid bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar. Menghampiri suaminya yang sudah sejak tadi terlelap. Rania termangu. Apakah pertanyaannya tadi salah sehingga membuat Bu Astrid dan Putri pergi. Padahal Rania hanya mencoba untuk akrab dengan mereka. Jujur, hatinya sedikit sakit melihat tingkah mama mertua dan adik iparnya. Sepertinya orang di rumah ini memang tidak ada yang menyukainya, bahkan suaminya sendiri juga begitu. Rania mematikan televisi lalu kembali ke kamarnya. Ia duduk di balkon dengan earphone yang melekat di telinganya. Ia mendengarkan musik sembari menikmati semilir angin malam yang menerpa kulit. Rania menanatap bulan. Tiba-tiba ia teringat dengan almarhum mamanya. Dulu saat mamanya masih hidup hari-hari Rania terasa sangat bahagia. Papanya juga sering berada di rumah. Setiap malam ia dan kedua orang tuanya selalu duduk di atap rumah, menikmati pemandangan langit malam. Akan tetapi, kebahagian Rania seketika kandas ketika takdir lebih dulu menjemput mamanya saat ia masih duduk di bangku kelas enam SD. Rania merasa kesepian. Papa yang ia harapkan untuk menghibur dirinya, justru malah tidak peduli padanya. Papanya sering bolak-balik ke luar negeri. Di umurnya yang waktu itu masih 11 tahun. Rania sudah belajar untuk hidup mandiri, dia mencoba menyiapkan segala keperluannya sendiri. Dia juga berusaha menjadi gadis yang kuat dan tegar. Rania melirik jam yang melingkar di tangan kirinya sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sampai saat ini Fajar juga masih belum pulang. Entah di mana pria itu sekarang. Padahal malam ini adalah malam pengantinnya dengan Rania, tetapi pria itu malah pergi dari rumah. "Sepertinya Kak Fajar malas di rumah karena ada aku," guman Rania. Raut wajahnya terlihat sayu. Ingin menangis, tetapi dirinya tidak ingin terlihat lemah. Udara malam mulai terasa semakin dingin. Rania menggigil ketika angin malam itu menyapu kulitnya. Wanita itu melepes earphone di telinganya dan memutuskan untuk memasuki kamar. Rania merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap langit-langit kamar. Matanya berusaha menahan kantuk. Ia tidak ingin tidur karena ingin menunggu Fajar pulang. Namun, sepertinya benteng pertahanan wanita itu roboh. Dirinya menguap hingga akhirnya tertidur. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN