Part 2 Keputusan Terberat

1143 Kata
~Selamat membaca~ Sedangkan Kendes memilih untuk menunggu sejenak di luar ruangan pak Hartono. Bukan karena dia khawatir Misha akan kenapa-napa, tapi Kendes lebih khawatir bila sang ketua divisi finance tersebut akan terserang stroke, bila terlalu lama berhadapan dengan sahabatnya. "Bukankah ini jam kerja? Kenapa kamu malah berkeliaran tidak jelas di sini?" Suara sarkas tersebut membuat Kendes tersentak. Dia sedang membalas chat putranya sehingga tak memperhatikan sekitarnya. Wanita itu lekas berdiri tegak saat mendapati sang pemilik perusahaan, sedang berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan di dalam saku celana. Tatapan menghunus membuat Kendes salah tingkah. "Maaf pak, saya lagi nunggu Misha di dalam ruangan pak Hartono. Ini juga sudah mau balik ke ruangan kok, permisi pak." Kendes berlalu sembari menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya lagi. Tatapan mata elang Gilen masih mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Entah sampai kapan, yang jelas lima tahun tak serta merta membuatnya mudah untuk move on. Gilen tetaplah cinta pertamanya, meski laki laki itu pulalah orang yang telah menorehkan luka terdalam di hatinya. Sedangkan Gilen memutar langkah menatap punggung mungil Kendes dengan tatapan tak terbaca. Semenjak bercerai, keduanya memutuskan untuk menjadi orang asing satu sama lain. Bahkan untuk urusan anak, mereka sepakat untuk bergantian tanpa pernah lagi terlibat dalam satu circle. Gilen benar-benar memutuskan segalanya. Laki-laki itu bahkan sudah lama memblokir nomor telepon Kendes semenjak mereka masih terikat pernikahan. Hubungan keduanya terjalin karena adanya sosok Kellen putra semata wayang mereka. Di dalam ruangan pak Hartono, laki-laki paruh baya itu di buat pusing oleh ocehan Misha yang tak ada putusnya. Wanita itu terus berceloteh tanpa memberikan celah bagi pak Hartono untuk berbicara. "Sudah! Sudah! Kamu ini, nyerocos aja kaya petasan. Terus saya ngomongnya kapan?" Protes pak Hartono jengah. Misha hanya tersenyum nyengir memperlihatkan ekspresi wajah polos. "Abis ruangan bapak sepi amat sih, jadi aku berinisiatif untuk meramaikan biar aura negatifnya menghilang." Dalih Misha beralasan konyol. Pak Hartono mencebik mendengar alasan mengada-ada tersebut. "Satu-satunya aura negatif itu, ya kamu ini." Hardik pak Hartono menggelengkan kepalanya yang mulai berdenyut. "Masa sih, pak? Kalau begitu ada baiknya aku keluar saja dari ruangan bapak. Bukankah tidak baik bila membiarkan aura negatif berkeliaran bebas di dalam sini terlalu lama? Bisa-bisa bapak ikut terkontaminasi lagi," sambung Misha dengan ekspresi serius dan bersiap beranjak dari kursinya. "Duduk kembali di tempat kamu, Misha!" Perintah pak Hartono tegas. Misha mencebik saat usahanya untuk kabur, kali ini gagal total. Wanita itu akhirnya kembali duduk di kursi panasnya dengan terpaksa. "Mau ngomong apa sih pak? Aku sibuk banyak kerjaan..." Ketus Misha yang mulai kesal karena usahanya tak berhasil mengalihkan perhatian sang ketua divisi. "Saya cuma mau mengingatkan kamu Misha. Cobalah untuk tidak mencari masalah, apalagi dengan istri pemilik perusahaan ini. Kamu lupa, om bisa saja di depak karena ulahmu ini? Adik-adikmu masih butuh biaya penuh dari om, kalau om jadi pengangguran adik-adikmu mau di kasih makan apa, Misha." Tekan pak Hartono mengiba. Rupanya laki-laki itu adalah paman dari Misha. Pantas saja Misha memiliki cukup keberanian untuk menentang, dan menjadi semakin menyebalkan. Rupanya wanita itu memiliki backingan orang dalam. "Yaelah om, ya tinggal di kasih makan nasi sama telor ceplok kan bisa." Sahut Misha asal. Pak Hartono memijit kepalanya yang terasa semakin berat sembari menatap tajam ke arah sang keponakan. "Berhentilah bermain-main Misha, kamu ini sudah dewasa. Seharusnya kamu sudah menikah dan memberikan ibu dan ayahmu cucu, bukannya malah jadi beban keluarga." Sarkas sang paman mengomel. Misha mendelik saat mendengar kalimat akhir sang paman. "Enak saja beban keluarga," sanggah Misha tak terima. "Selama ini aku tuh tulang belakang keluarga yang ada. Setiap bulan gaji aku di kelola sama ibu, aku cuma dapat ongkos bensin sama skincare doang. Beli baju aja aku jarang-jarang kok," protes Misha mengurai realita. "Maksud om, kamu itu beban batin ibumu. Karena setiap ibumu ikut kajian atau kumpul keluarga, ibumu selalu stress saat mendapatkan pertanyaan yang sama. Misha belum ada tanda-tanda mau mantenan ya bu Marlina? Apa namanya kalau bukan beban? Daripada kamu sibuk cari masalah, mendingan kamu cari pacar deh. Om bosan lihat kamu ngerecokin Kendes kemana-mana. Kendes juga punya kehidupan Misha, bisa jadi Kendes tidak enak hati untuk memiliki kekasih kalau kamu masih jomblo akut sampai saat ini." Sederet celotehan sang paman membuat Misha terdiam. Benar memang, dirinya sudah seperti bayangan bagi Kendes. Di manapun wanita cantik itu berada, maka bisa di pastikan dia pun ada di sana. Hampir 90 persen kehidupan Kendes di isi oleh kehadirannya. Melihat sang keponakan yang seperti sedang merenung, pak Hartono kembali melanjutkan petuahnya. "Coba untuk sedikit menjaga jarakmu dengan Kendes. Kalian sudah bertemu setiap hari di kantor, jangan kamu itilin juga sampai ke kehidupannya yang lain. Berikan Kendes waktu untuk hidupnya sendiri, barangkali Kendes sudah memiliki pilihan hati hanya terkendala oleh perasaannya yang tak enakan terhadapmu." Lanjut sang paman kembali menasehati. Misha masih bergeming. Entah apa yang tengah wanita itu pikirkan saat ini, pak Hartono hanya berharap Misha mengerti apa yang telah dia sampaikan panjang lebar. "Baiklah om, mulai saat ini, detik ini juga aku akan menjaga jarakku dengan Kendes. Tapi aku tak akan pernah memiliki pacar apalagi menikah, selama Kendes masih sendiri. Aku punya alasan kenapa sampai saat ini aku belum memikirkan soal kekasih. Aku tak ingin waktuku terbagi dan membuat Kendedes ku kesepian kala aku sibuk pacaran." Putus Misha setelah beberapa saat wanita itu mencerna perkataan sang paman. Pak Hartono sedikit terkesiap. Dia tak menyangka jika sang keponakan begitu menyayangi sahabatnya, sampai rela tak memiliki kekasih agar Kendes tak merasa di abaikan. "Itu lebih baik, tapi kamu juga harus mulai memikirkan dirimu juga Misha. Ayah ibumu tak selamanya hidup dengan usia yang seiring waktu terus bertambah. Bahagiakan orang tua selagi masih ada waktu, sebelum sesal merenggut segalanya." Nasihat pak Hartono bijak. Misha mengangguk paham lalu pamit keluar dari ruangan sang paman. Tak satupun orang mengetahui tentang hubungan kekeluargaan mereka. Hanya Kendes lah yang mengetahuinya. Dalam perjalanan menuju ruangannya, Misha mulai memikirkan banyak hal. Selama ini memang dirinya tak pernah membiarkan Kendes sendirian, apalagi saat Kellen harus menunaikan jadwal yang telah kedua orang tuanya sepakati saat perpisahan beberapa tahun yang lalu. Kellen harus hidup di dua rumah setiap dua minggu sekali. Dalam satu bulan, Kellen akan menginap di dua rumah secara bergantian. Dua minggu bersama ibunya dan dua minggu berikutnya bersama sang ayah. Kendes kerap merasa kesepian, itulah sebabnya Misha selalu menjadi bayangan bagi Kendes yang malang. Anak yatim piatu tanpa sanak keluarga. Hanya dirinyalah dan keluarganya yang menganggap Kendes sebagai bagian dari keluarga. "Kamu harus bisa Misha, semua demi kebaikan Kendes dan juga kebahagiaannya. Doakan saja Kendes menemukan jodoh seorang laki laki kaya raya melebihi kayanya keluarga Admaja yang songong itu. Dan membuat mantan suaminya yang sekaku kanebo itu menyesal hingga ke tulang tulang." Doa Misha menyemangati dirinya sendiri. Menjauh dari Kendes merupakan ujian terberat dalam hidupnya. Kendes dan dirinya bagai sepasang anak kembar siam, tak terpisahkan. TBC Semoga terhibur dengan novel baru ini ya teman-teman. Jangan lupa tap LOVE untuk terus mengikuti cerita ini. Salam sayang, author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN