Salma duduk di rumah bernuansa putih itu. jauh-jauh dari rumahnya, ia datang ke sini untuk bertemu Al. Namun sejak tiga puluh menit yang lalu ia tiba di rumah itu, sang pujaan hatinya tak kunjung muncul. Berkali-kali, mbak-mbak ndalem menemuinya di ruang tamu dengan memasang wajah tak enak. Mungkin karena merasa sungkan dengan Salma yang sendirian di ruang tamu. Apalagi hari ini umik dan abi tidak ada rumah, karena harus ke tuban—pondok orang tua Umik. “ning, minumnya sudah habis saya buatin lagi nggih.” Ucap Mbak-mbak itu sembari mengambil gelas yang sudah kosong itu. Salma mengangguk, mbak-mbak itu memang tidak bilang jika Al tidak ingin menemuinya. Tapi salma tau, Al pasti tidak mau menemuinya. “Al ten pundi Mbak?” tanya Salma. Wajah mbak-mbak itu pun sontak berubah

