Bab 20

1016 Kata
Sepasang anak manusia itu terlihat sangat serasi, membuat siapapun yang melihatnya pasti setuju jika mereka berdua seperti pasangan suami dan istri. Begitu pun bagi Rara, sekalipun dadanya sesak ketika melihat orang yang disukai tertawa dengan perempuan lain. Ia melihat pemandangan menyakitkan itu dari dalam kamar, melalui jendela yang mampu melihat halaman belakang ndalem. Dan disanalah, Gus Al dan Syifa berada. Sejak tadi pagi, mereka tak henti-hentinya mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan, yang jelas dari sini, Rara bisa tau, jika hubungan keduanya sangat dekat. Bahkan lebih dekat dengan hubungan Rara dengan Bayhaqi.  "Umik bilang, perempuan itu bukan calonnya Gus Al." tiba-tiba seseorang berdiri di samping Rara.  Rara sontak menatap orang itu dengan tatapan penasaran, "sumpah?" orang itu Diana.  Diana mengangguk, "kemarin waktu aku bantuin Via sama Upik beresin meja makan, Umik bilang kalau Syifa itu anaknya adiknya Umik." "Oh berarti sepupunya Gus Al?" "Ya," jawab Diana. "Jadi kamu nggak usah galau." Rara sontak terkejut, "Ha? Ya nggak lah, kenapa aku galau?"  "Jujur aja, kamu suka Gus Al kan?" Tanya Diana dengan tatapan menggoda.  "Nggak," Jawab Rara tegas.  "Terus?"  "Terus apa?" "Terus kenapa kok kamu sejak tadi pagi cuma liatin ke arah jendela dan merhatiin mereka?" "Diana, bukannya aku emang biasanya liatin jendela ya? Aku lagi murojaah kok." "Oh lagi murojaah," ucap Diana sembari menggangguk, sekalipun begitu, matanya menatapku menggoda seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan. "kalau kamu emang suka Gus Al juga gpp kok Ra." "Iya," "Jadi kamu suka Gus Al?" Rara merutuki kebodohannya, s**l. Dia salah bicara. "Nggak gitu Diii..." "Oke, berarti kamu suka beliau." Rara pasrah, sepertinya ia tidak akan mampu membohongi orang yang ada di sampingnya itu. Rara pun beranjak dari sana, dan duduk di sudut kamar.  "Kamu tau kan Ra, konsekuensinya jatuh cinta sama Gus itu apa?" "Iya Di, patah hati kan?" "Betul. Aku harap kamu sudah siap akan hal itu jika kamu menyukai beliau?" Rara diam seribu bahasa, semesta seolah ingin ia sadar sejak kemarin. Semesta ingin bilang, jika ia akan terluka jika terus menyukai lelaki itu. Iya, Rara tau. Rara mengerti, dia harus melupakan lelaki itu jika tidak ingin terluka. Tapi melupakannya tak semudah membalikkan telapak tangan kan?  "Aku nggak siap Di, makanya aku berusaha melupakannya." jawab Rara.  Diana menatap teman yang di sampingnya itu dengan tatapan simpati, "Bagus Ra. Kamu memang harus lupain Gus Al." "Tapi aku gabisa Diii," Kalian tentu saja ingat, ini bukan bab melupakan yang pertama. Rara sudah sering berniat ingin melupakan Gus Al. Tapi sesering itulah, Rara gagal melupakan dan akhirnya menyerah pada keadaan.  "Kamu gaboleeh nyerah Ra, kalau gagal, coba lagi. gagal lagi, coba lagi. Karena sekalipun Ning Syifa bukan calonnya Gus Al, Gus Al uda punya calon beneran Ra." "Maksudnya?" "Aku dengar ini dari Umik langsung," Diana menggantungkan ucapannya, ia seolah menimang apakah Rara akan baik-baik saa jika ia mengatakan ini?  Rara pun menatap Diana penasaran, "Umik bilang apa Diiii?" "Umik bilang Gus Al uda suka sama cewek Ra, tapi Umik nggak suka kalau Gus Al ngajak ceweknya pacaran. Makanya Umik sekarang lagi memepersiapkan pernikahan keduanya." "Ha?" Sekalipun Rara sudah sering sadar diri, dan tidak pernah lagi berhayal jika akan menikah dengan gus Al, tapi tetap saja, Rara sangat terkejut. Rara tidak yakin jika dirinya akan baik-baik saja melihat orang yang ia sukai bersanding dengan orang lain di pelaminan. "Kamu serius Di?" "Aku serius Ra, Gus Al udah deket sama cewek sekarang. Dan kesempatan kamu buat dapetin hatinya pasti hal yang mustahil." Rara sudah menangis, air matanya tumpah mengabaikan fakta jika kini Diana ada di hadapannya. Tentu saja, Diana menjadi sangat terkejut ketika melihat Rara menangis. Gadis itu sontak memeluk tubuh rapuh itu. sembari mengelus punggung Rara lembut.  "Uda Ra, kamu pantas bahagia. Janga suka sama orang yang terlalu tidak mungkin untuk jadi milik kita."  Dan bukannya tenang, ucapan Diana itu semakin membuat Rara menangis tersedu. Akhirnya hari itu, Rara lewati dengan mata sembab yang membuat semua orang bertanya-tanya.  . . . Kabar jika Rara habis menangis, tampaknya terdengar di telinga Umik. Membuat perempuan paruh baya itu khawatir dan memanggil Rara sekalipun malam-malam seperti sekarang. Rara yang tengah sibuk melipat bajunya pun terkejut ketika Via dan Upik menyuruhnya ke ndalem.  "Kemana?" Tanya Rara masih tak percaya dengan pendengarannya. "Iya, kamu dipanggil Umik sekarang!" Kata Via memperjelas ucapannya. "Ha? sekarangkan udah jam 10? Tumben Umik manggil aku malem-malem gini?" "Ya nggak tau, pokoknya tadi Umik nyuruh aku manggil kamu." kata Via.  Rara pun segera berganti baju, dan mengenakana jilbab. Hari ini ia memang hanya di kamar saja terus-terusan. Ia malu menampakkan mata sembabnya pada dunia. Apalagi pada Umik. Untung saja, sekarang matanya sudah membaik. Jadi rara punya nyali menemui Umik sekalipun ia masih binggung kenapa Umik memanggilnya malam-malam begini.  "Mau aku antar Ra?" Tanya Diana, sepertinya Diana tau keresahan hati Rara. "Boleh di, yuk." dan kedua gadis itu pun keluar dari asrama menuju ndalem yang tak jauh dari sana. Mereka lewat pintu belakang, dan Diana menunggu di dapur. Sementara Rara menuju kamar yang biasanya Umik berada.  "Umik, Rara sudah disini." Ucapku dengan suara pelan.  Suasana Rumah ndalem sangat sepi, lantai satu tampaknya tidak ada orang. Sebab itu, sekalipun suaraku pelan, pasti Umik akan kedengaran.  "Sebentar nggih Nduk," Saut umik dari dalam.  "Nggih,," jawabku sembari bersandari di dinding, mengistirahatkan punggungku yang tiba-tiba jadi tegang. Entah kenapa firasatku tidak enak. Mataku pun tak bisa berhenti menatap kesegala arah. Takut tiba-tiba ada Gus Al datang. Dia pastinya sekarang ada di rumah kan? Beberapa menit kemudian, pintu kamar umik terbuka. Ku kira, itu Umik yang keluar. Sehingga aku segera menjauh dari dinding dan bersiap menyambutnya. Dan sangat terkejut ketika bukan sosok Umik yang keluar, melainkan sosok Gus Al.  Jantungku sontak berdetak sangat cepat. Apalagi ketika senyumnya mengembang dan matanya tepat menatap kedua bola mataku.  Sial, harusnya aku tadi dandan dulu sebelum kesini.  "Gus--" ucapku sembari menundukkan kepala, menghindari tatapannya yang membuat jantungku berdegub kencang.  "Ra, aku mau menepati janjiku." Ucapnya dengan suara tegas.  "Janji?" Pikirku melayang, janji apa? apa yang dimaksud janji di bawah pohon itu? janji untuk menjelaskan apa maksud dari perkataannya waktu itu? "Kamu tentunya tau, maksudku Ra."  "Gus, aku mau ketemu Umik." "Beri aku waktu satu menit saja untuk menjelaskan." “Apa?” “Aku mau kamu nikah sama aku.” Rara menatap lelaki di depannya tak percaya. Apa yang dikatakan lelaki itu? Apa ia salah dengar? Atau sedang bermimpi? “Kamu tanya aku kan aku mau kuliah dimana? awalnya aku mau kuliah di suarabaya, tapi pas tau kamu ada disini, aku jadi berubah pikiran Ra. Mimpi aku tiba-tiba jadi berubah.” “Bay, kamu lagi bohongkan?” Bayhaqi menggelengkan kepala, “aku suka sama kamu dan aku mau kamu nikah sama aku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN