Bab 19

1176 Kata
"Sudah selesai semua kan?" Umik datang ke dapur, menghampiriku yang tengah menunggu kuah rawon mendidih.  "Sudah Mik," Jawabku. "Loh, Via sama Upik kemana?" "Oh, mereka ke kamar sebentar Mik." "Yasudah, kalau mereka sudah kembali, semua makanannya bawa ke meja makan ya? Tamunya sudah mau datang, dan Umik mau ke ndalem selatan sebentar." "Iya Mik." Hari ini memang sangat sibuk. Sejak pagi tadi aku sudah bergelut di dapur bersama Via, Upik dan beberapa teman yang lain. Kami semua memasak banyak sekali masakan. Entahlah, siapa tamu yang akan datang, yang jelas Umik telihat senang sekali sejak tadi pagi.  Ketika Via dan Upik memasuki dapur melalui pintu belakang, rawon yang sedang ku masak sudah mendidih. Aku pun pun mematikan kompor dan menuju ke arah mereka.  "Di suruh Umik bawa semua makanannya ke meja makan," kataku pada mereka.  "Tamunya uda mau datang kah?" tanya Via. "Iya,"  "Wahh, kira-kira siapa ya? sumpah aku penasaran tapi gaberani tanya." "Sama!" sautku.  "Yauda yuk, kita bawa semua ke meja makan. Keburu nanti tamunya dateng," ajak Upik. Ketika kami bertiga sibuk menata meja makan, terdengar ucapan salam dari luar. Kami bertiga pun saling bertukar pandang.  "Tamunya uda dateng?" tanya Via.  "Coba cek Vi, soalnya Umik ke ndalem selatan." Kataku.  Via menggeleng cepat, "gak beraniii. Abi juga ndak ada kah?" "Abi kayaknya masih ngisi pengajian deh," saut Upik.  "Yauda Pik, sana kamu yang ke depan aja!" jawabku sembari mendoorong tubunya.  "hmmm," Upik pun bernafas panjang dan mau tak mau menuruti ucapanku. Ia pun menuju ke ruang tamu, aku dan Via mengekor di belakangnya.  "Assalamu'alaikum," "Waa'aliakumsalam," jawab Upik.  Terlihat seorang perempuan cantik dengan gamis hitam polos dan hijab bewarna pink salem berdiri di ambang pintu. Perempuan itu memang sangat cantik dan sukses membuat kami bertiga melongo di tempat. "Umik Ana nya ada, Mbak?" tanya perempuan itu dengan suara lembut.  Upik pun menghampirinya, "Mbak siapa? Ayo masuk dulu, umik lagi keluar sebentar." Aku dan via tak henti-henti menatap perempuan itu. Kini ia berjalan menuju ruang tamu, dan duduk di salah satu kursi.  "Mbak tunggu ya, katanya Umik keluar sebentar kok." Ucap Upik pada perempuan itu.  "Iya, Mbak. Gpp kok." Jika perempuan itu bilang dia adalah bidadari yang turun ke bumi, maka aku akan percaya. LIhatlah, bahkan perilaku dan sikapnya pun sangat lembut.  Upik pun menatapku dan Via yang masih benggong menatap perempuan itu. Ia menyeret kami berdua untuk masuk ke dalam.  "Malah bengong, ayo kita buatin minum!" Upik pun berjalan menuju dapur dan disusul aku dan Via di belakangnya.  "Cantik banget ya Ra!"  "Iya, cantik banget!!" Jawabku. Ketika kami sibuk membuat es untuk diberikan kepada si perempuan itu, terdengar suara tawa dari ruang tamu. Kami bertiga pun mengira umik sudah datang, sehingga sangat terkejut ketika bukan sosok Umik yang membersamai perempuan itu di ruang tamu. Melainkan sosok pria tampan yang selama enam bulan ini, tidak pernah aku lihat batang hidungnya. Ya, dia adalah Bayhaqi.  "Aku tunggu di belakang aja ya," ucapku pada Via. Dengan langkah cepat aku menuju dapur, berharap Bayhaqi tak melihatku. Aku tau, hari ini akan datang. Hari dimana aku bertemu lagi dengannya. Tapi aku akan selalu menghindar sebisaku, agar kami berdua tak lagi punya kesempatan untuk bertemu dan berbicara. Karena hatiku sudah mantap, untuk melupakan sosoknya. Sekalipun akan menyakitkan dan sulit, tapi aku harus melupakannya. Karena jika tak kucoba, aku tidak akan bisa. Sampai kapanpun, aku akan terkurung pada perasaan bodoh ini.  setelah sepuluh menit aku hanya duduk di dapur sendirian sembari menetralkan pikiranku yang terlalu terkejut melihat Bayhaqi di ruang tamu, Via dan Upik pun menemaniku. Mereka terlihat sangat senang, entahlah apa yang membuat keduanya begitu. Yang jelas, kini mereka sibuk membahas siapa sosok perempuan itu.  "Apa dia calonnya Gus Al?" ucap Upik yang mampu menarik perhatianku.  Ha? Calon? Maksudnya calon istri? "Bisa aja siii!! Mereka juga cocok bangeetttt!!" Saut Via yang terlihat antusias.  "Iya kan? Soalnya kebanyakan Gus-gus gitu kan nikahnya dijodohkan."  Mendengar ucapan Upik, membuatku benar-benar sadar diri dan semakin mantap untuk melupakan Bayhaqi. Kali ini aku benar-benar akan melupakannya. Ya, aku tidak akan main-main lagi.  "Kalau Gus Al nikah pasti banyak banget santri yang patah hati." "Banyak, termasuk kamu!" "Helooo, kamu jugaa ya Via!" Sedetik kemudian, Via dan Upik pun tertawa bersamaan.  "Gini emang ya nasip naksir gus, pasti nggak mungkinnya." Kata Upik disela-sela tawanya. "Iya bener, miris banget." saut Via. Aku yang sejak tadi diam dan mendengarkan mereka pun meninggalkan dapur tanpa mengatakan apapun. Dadaku sesak sekali dan air mataku tak bisa kubendung lagi. Tidak mungkin jika menangis dihadapan mereka, aku pun menuju kamar. Tugasku juga sudah selesai kan? Lebih baik aku tidur. Untuk hari ini, sudah cukup pura-pura baik-baik sajanya.  . . Setiba di kamar, aku menangis dalam diam dan di balik selimut. Takut jika nanti ada yang tiba-tiba masuk, karena aku tidak ingin siapapun tau keadaanku. Untuk menenangkan diriku, aku mulai melantunkan ayat-ayat Al-quran yang sudah kuhapal. Dan Alhamdulillah, aku bisa sedikit tenang. Memang benar kata Umik, hanya Al-quran teman kita yang setia. Bahkan sampai kita ke liang lahat, ia akan menemani kita dan bersaksi akan amal yang kita lakukan.  Hampir satu jam aku murajaah di balik selimut, air mataku pun sudah kering dan suasana hatiku kembali membaik. Di saat itulah, pintu kamar terdengar terbuka membuatku membuka selimut yang menutupi wajahku.  "Ra, kamu kenapa?" oh, Via. Dia terlihat sangat khawatir. Ia pun mendekat ke arahku. "Kamu sakit?" "Enggak Vi, aku gpp." jawabku sembari tersenyum lebar.  "Alhamdulillah, Umik nyariiin itu hlo. Katanya kamu disuruh makan." "Nggak Vi, aku makan di kantin aja." "Loh kenapa?? Makanannya masih sisa banyak Ra." "Tamunya sudah pulang?" "Belum, masih ngobrol sama Umik, Abi dan Gus Al. Tapi semua suda makan kok. Ayok, makan! Aku temani." "Upik mana?" "Upik ikut pengajiannya di masjid." "Lah kamu nggak ikut? Kan biasanya kamu ikut sama Upik." "Nunggu kamu makan dulu, baru aku nyusul Upik." "Yauda aku makan, nggak usah kamu tungguin. Nanti kamu ketinggalan materi pengajiannya loh." "Beneran ni?" "Iya Via. Uda sana!" "Okeee," Via pun beranjak dari duduknya. Sebelum ia meninggalkan kamar, ia membawa buku tulis dan beberapa mukena. "Pokoknya kamu harus makan!!" "Iyaaaa Via, bawel banget sih" ucapku sembari tekekeh geli. Sepeninggal Via, aku pun memutuskan untuk menuju ndalem untuk makan. Perutku memang sudah lapar sejak tadi. Tapi aku tahan karena jam makan malam di dapur pondok yang masih lama. Aku berencana untuk mengambil beberapa makanan dari ndalem kemudian akan kumakan di kamar. Agar aku tidak lama-lama di sana dan bisa menghindari Bayhaqi. Dan aku sangat bernafas lega, ketika mendapati dapur sepi. Mungkin benar kata Via, Umik. Abi dan Gus al tengah sibuk berbincang dengan perempuan itu. Sepertinya aku akan bisa meninggalkan ndalem tanpa bertemu Bayhaqi. Namun ketika aku baru saja selesai mengambil makanan, seseorang datang memasuki dapur. Membuatku jantungku hampir lepas, dan untung saja yang datang bukan orang yang ingin kuhindari.  "Ada yang perlu dibantu Mbak?" Tanyaku. Ya, orang itu perempuan itu, sang tamu, yang katanya calon Gus Al.  Perempuan itu menampakkan wajah bingung, "Kamar kecilnya dimana ya?" Ucapnya dengan sopan. Suaranya bakhkan sangat lembut, membuat hatiku meleleh mendengarnya. "Oh, mbaknya mau buang air! Sini Mbak, aku antar." Ucapku berjalan ke lorong yang ada di sebelah kanan dapur.  "Panggil aja Syifa, kita kayaknya lahir di tahun yang sama. Jadi nggak usah Mbak!" ucap perempuan yang ternyata bernama Syifa itu.  "Nggih Syifa,  aku Rara." "Oke Ra, makasii suda diantar!" Ucap Syifa ketika kami sudah berada di depan kamar mandi.  Aku tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum kemudian meninggalkannya.  Namanya cantik sekali, seperti orangnya.  "Syifa, entah siapa yang beruntung. Kamu yang mendapatkan lelaki setampan Bayhaqi, atau Bayhaqi yang mendapatkan perempuan secantik kamu. Yang jelas kalian memang sangat serasi." Ucapku dalam hati.  Sepertinya setelah ini, aku ingin menangis lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN