Pertemuanku dengan Bu Nyai hari itu berlangsung lancar. Bahkan setelah pertemuan itu, Bu Nyai jadi sering memanggilku untuk datang ke ndalem. Altika bahkan jadi memanggilku mbak-mbak ndalem karena saking seringnya aku ke sana. Sebab itu Bu Nyai mengusulkan aku pindah kamar ke samping ndalem agar aku tidak usah capek bolak-balik kamar-ndalem yang jaraknya cukup jauh. Tapi usulan Bu Nyai itu, masih aku pikirkan baik-baik. Aku masih belum berani dekat-dekat dengan area ndalem sekalipun akhir-akhir ini aku sering ke sana. Aku masih ingin punya area tenang yang jauh dari keberadaan Bayhaqi—ah salah, mulai saat ini apa sebaiknya aku harus memanggilnya Gus Al ya? Karena semakin aku sering main ke ndalem semakin aku mengerti bagaimana seharusnya aku menyikapi perasaan ini. Yakni dengan memendam dan sadar diri.
-0-
“Gimana Nduk? Mau kan kamu pindah kamar?” Pertanyaan dari wanita berusia separuh abad itu membuat tiga perempuan muda yang ada di dapur terdiam. Mereka sontak menghampiri wanita itu dan mencium tangannya. Kemudian setelah itu, kembali ke aktivitas yang sejak tadi mereka lakukan.
Satu perempuan muda yang merasa diajak bicara pun berdiri di sampingnya, “Rara masih bingung Umik.” Jawab perempuan yang bernama Rara.
Wanita yang dipanggil Umik pun tersenyum sebentar, “haduh. Kamu itu, wes kalau memang mau ya wes ndang pindah. Nanti kamu sekamar sama Via dan Upik. Kamarmu kosong kan nduk Vi?”
Kali ini perempuan yang sibuk menggoreng tempe berbalik dan menatap Umik sembari mengangguk pelan, “kosong Umik. Kemarin waktu Umik bilang kalau Rara dipindah ke sana langsung saya bersihin. Saya kira dia langsung pindah.”
“Lah Mbuh, dia masih bingung.”
“Wes gpp, pindah kamar Mbak Via aja Ra. Disana suasananya lebih nyaman buat hafalan.” Saut perempuan muda yang bernama Diana.
“Leres, maksud Umi pindah kamuu ke kamar samping ndalem ya gitu. Biar kamu bisa fokus hafalan.”
Rara yang kini jadi pusat perhatian pun hanya tersenyum canggung, masih menimbang-nimbang hal yang memang akhir-akhir ini jadi beban pikirannya.
“Yasudah Mik, saya mau.” Jika didesak begini, Rara harus mengambil keputusan sekalipun ragu.
Entahlah, pindah kamarnya ini bisa membantunya melupakan perasaannya pada Gus Al atau tidak. Atau bahkan, pindah kamar ini semakin menyukai Gus Al, karena jadi sering bertemu dengan lelaki itu.
Oh ya, tapi sampai sekarang ia bahkan tak menemukan Gus Al dimana-mana. Kabar beredar, Gus Al sudah mulai mondok lagi. Tapi ada juga yang bilang, Gus Al lagi liburan. Rara tidak tau mana kabar yang benar, yang jelas Rara masih belum mendapatkan penjelasan atas apa yang dikatakan Gus Al siang itu, di depan kantor dibawah pohon mangga yang rindang.
.
.
Perpindahan kamar itu berlangsung lancar karena dibantu Mas-mas santri putra yang disuruh Bu Nyai untuk membawakan barang-barangku. Aku tentu saja sangat sedih, sekalipun aku hanya pindah kamar tapi rasanya akaan seperti pindah pondok. Aku akan jarang bertemu Altika dan teman-teman kamar yang lain. Altika bahkan menangis sesenggukkan. Ia dia memang alay. Aku berjanji akan sering main ke kamar jika aku tidak ada kegiatan.
“Ra, ini lemari kamu ya.”
Kamar santri yang disamping ndalem itu memang sangat-sangat spesial. Ukurannya 3x3 meter dan hanya diisi empat santri. Fasilitas kamarnya pun lebih baik dari kamarku yang dulu. Setiap santri diberikan kasur lipat sendiri dan almari yang cukup besar. Dan yang paling aku suka, disini ada jendela yang cukup besar. Jendela itu menghadap ke belakang area pondok yang masih berupa sawah hijau. Melalui kamarnya yang ada di lantai tiga, Rara bisa merasakan sepor-sepoi angin yang sangat segar.
“Ra, nanti sore kamu kosongkan jadwal ya! Umi minta dibantu belanja.” kata Via pada Rara sebelum gadis itu pergi dan meninggalkan Rara sendiri di dalam kamar.
Karena fasilitasnya spesial, maka tentu saja da tugas tambahan yang harus dilakukan. Yakni harus siap sedia ketika Umi minta bantuan.
Sekalipun begitu, Rara senang. Karena ketika membantu Umik, ia selalu mendapat pelajaran baru.
Umik memang suka sekali menyelipkan pelajaran-pelajaran penting di setiap pembicaraan mereka.
.
.
“Nduk, kalau besok jadi istri harus bisa ngatur waktu. Kamu harus bisa punya waktu sendiri buat murajaah, buat ngurusin suami dan ngurusin anak. Jangan sampai kamu tinggalin salah satu kewajiban itu, kalau kamu tinggalin kamu akan menyesal.”
“Nggeh Umi.” Jawab rara.
Saat ini, mereka tengah berjalan menyusuri pasar yang ramai. Umik ingin membuat sayur kangung, dan kebetulan kangkung di mas-mas sayur dekat pondok habis. Alhasil, Rara membonceng Umi dengan motor menuju pasar yang cukup dekat Pondok.
“Kamu juga harus pinter masak, biar suami betah di rumah. kamu sudah bisa masak apa aja?” tanya Umik ketika mereka berhenti di toko baju. Mendadak, umik ingin beli daster.
“Kalau masakan yang biasa seperti sayur lodeh, asem, kangkung, sop Rara bisa Mik.”
“Bagus, lain kali kamu harus ikut Umik masak yang aneh-aneh.”
“Masak aneh-aneh?”
Umik terkekeh, “iya. Kayak gule, rawon, kamu belum bisa kan?”
“Nggiih.”
“Yauda, hari ini kita masak nasi gule aja.”
“Loh, bukannya umi ingin makan sayur kangkung?”
“Iya kita masak itu juga.”
Dan salah satu yang Umik ajarkan adalah memasak, sesuatu yang dulu Rara tidak bisa namun sekarang ia bisa sedikit-sedikit. Semua itu Rara dapatkan sejak membantu Umik di dapur.
-o-
Sudah hampir dua bulan rara pindah kamar di samping ndalem, dan selama itu pula Rara sudah belajar banyak hal dari Umik. Rara senang, karena baginya perpindahan kamar ini membuatnya menjadi sosok manusia yang lebih baik. Ia memang jadi tak punya waktu untuk rebahan, tapi dia jadi pintar memasak segala masakan karena Umik selalu menyuruhnya membantu masak di dapur bersama Via. Hafalannya juga jadi semakin lancar, dan teman-temannya di kamar itu ternyata sangat baik. Apalagi yang bernama Upik. Selalu menjadi sosok Ibu yang mengomeli Rara apabila Rara males-malesan.
“Besok Umi nyuruh kita masak banyak makanan.” Via masuk ke dalam kamar kemudian duduk di samping Rara yang tengah murajaah hafalannya.
Upik yang tengah sibuk menulis pun menatap Via seklisas, “ada acara apa?”
“Nggak tau, kayaknya Umi akan kedatangan tamu.” Jawab Via.
Rara sontak menutup al-qurannya dan meletakkan di meja dekat sana. “tamu? Tumben? Biasanya kalau tamu kan ke ndalem yang timur?”
“Kayaknya tamunya masih saudara Umik,” saut Diana yang sejak tadi sibuk membacam buku.
Jawaban Diana yang cukup masuk akal itu membuat ketiga temannya mengangguk mengerti.
“yaudah, entar malem siapa yang mau ikut aku belanjaa!??” tanya Via dengan suara berteriak.
“AKUUUU!!!” dan disauti ketiga temannya dengan serentak.
Ketika Umik menyuruh belanja sendiri adalah hal yang menyenangkan bagi mereka. Karena mereka bisa sekalian jalan-jalan dan cuci mata.