Bab 17

1098 Kata
"Hai Ra,'' sapanya dengan senyum manis yang mengembang.  Aku yang masih terkejut pun baru menjawab sapaannya satu menit kemudian, dengan suara serak dan cara bicara yang gagap. "Ha-hai" kemudian setelah itu dia tidak lagi bicara, sosoknya pun tidak pergi tetap duduk di sampingku dan tidak mengatakan apapun. Sesekali pandangan mata kami bertemu, dan entah kenapa itu membuat hatiku menghangat.  Kami terdiam lama, hingga dia membuka suara. "Aku duduk disini nggak ganggu hidup kamu kan?"  Ah, apa dia masih ingat perkataannku dua tahun yang lalu? yang menyuruhnya untuk tidak menganggu hidupku dan mencampuri urusanku?  "Emm, enggak kok." dan ini adalah pertama kalinya kita bicara setelah lama tidak bicara berdua.  Kukira, dia tidak akan mau bicara denganku lagi. Kukira, dia akan muak melihatku disini. Sebab itulah selama ini aku bersembunyi dan berharap tak bertemu dengannya lagi. Tapi nyatanya, dia malah yang mengajakku bicara terlebih dahulu. Boleh kah aku besar kepala jika selama ini Bayhaqi tidak membenciku seperti yang aku pikrikan selama ini? “Gimana kabar kamu?” “Alhamdulillah baik,” jawabku. Kemudian menatapnya sebentar, “Kamu? Baik??” “Alhamdulillah, baik.” “Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi.” “Dan kayaknya kamu bakal ketemu aku terus-terusan.” “Haha,” tawaku mengudara pelan. “Oh ya, kamu lanjut kuliah kan?” “Awalnya.” “Awalnya? emang ada akhirnya?” Bayhaqi tersenyum simpul. “Iya. Sejak aku tau kamu ada disini semua rencana aku jadi berubah.” “Ha? Kok bisa gitu? Kenapa emang?” Bayhaqi hanya tersenyum tak memberikan jawaban dari pertanyaan yang membuatku penasaran. “Bay! Aku serius! Kok bisa aku ngaruh ke rencana kamu?” Bayhaqi masi tak menjawab, ia malah beranjak dari duduknya dengan senyum yang semakin lebar. “Udah ya, temenmu udah datang.” “IH, jawab dulu!!!”teriakku geregetan. Bukannya menjawab, Bayhaqi malah semakin tertawa ngakak dan meninggalkanku. “Kalau kita ketemu lagi, aku bakal kasih tau.” Baiklah, aku akan memegang ucapannya. Nanti, kalau ketemu lagi aku akan menanyakan kenapa aku bisa mempengaruhi rencana hidupnya. Agar semuanya jadi pasti dan tidak abu-abu seperti sekarang. Dan agar aku tidak berpikiran aneh-aneh dengan beranggapan dia menyukaiku. Sosok Bayhaqi pun semakin menjauh dan menghilang di belokan. Kemudian aku duduk dan baru menyadari kebaradaan Altika yang ada di sampingku. “Mbak tadi aku nggak salah liat kan?” “Ha?” “Tadi yang duduk di sini dan ngobrol sama kamu itu Gus Al kan?” “Oh—“ “Mbak, sumpah itu tadi Gus al?” Wajah Altika seketika menjadi senang sekali. Seperti wajah seorang fans ketika bertemu dengan idolanya. “Iya, mana minumnya? Aku haus.” Kataku. Altika pun memberikan sebotol air putih padaku. Kemudian ikut duduk di sampingku dengan wajah yang sama—terkejut. Ketika aku selesai minum, tiba-tiba Altika memelukku dari samping. Membuatku sangat terkejut dan hampir saja memuntahkan air yang ada di mulut. “Makasiii mbaakkk, aduhhh sumpah aku dari dulu pengen liat Gus al dari deket. Dan akhirnya bisa kesampaian!!” “Kamu udah mondok hampir empat tahun dan baru kesampaian sekarang? Kok bisa?” tanyaku bingung. Menginggat pemandangan tadi pagi, ketika Bayhaqi ramah sekali menanggapi sapaan dari para santri. “Kalau ketemu nggak sengaja di jalan, aku nggak berani liatin Mbak.” “Kenapa nggak berani? Beberapa kali aku liatin, dia sempat disapa para santri dan dia juga nyapa balik kok.” “Biaasanya yang berani nyapa Gus Al itu Mbak-mbak pondok yang emang udah kenal dari dulu. Atau nggak ya mas-mas yang emang deket sama keluarga ndalem. Kalau santri biasa kayak aku mah nggak berani Mbak.” “oh,” aku mengangguk mengerti. Wah ternyata bayhaqi benar-benar sosok yang disegani disini. Jadi masih beranikah kau mengharapkan sosoknya menjadi imammu wahai diriku? “Oh ya? Mbak kok bisa kenal Gus Al? Kalian deket?” “Dia dulu satu kelas sama aku.” “Waahhh, beruntung sekali Mbak. Dulu gimana Gus Al waktu sekolah? Beliau jadi siswa yang gimana?” Aku terdiam sebentar, menatap wajah Altika yang terlihat antusias. Aku ingin memastikan sesuatu. Apa Altika—“kamu suka Gus Al?” “ASTAGHFIRULLAH MBAAKKK, ENGGAK!” mendengar pertanyaanku, sontak Altika berteriak kencang. “Kok bisa mbak mikir aku suka Gus Al? Ndak berani aku Mbak, aku sadar diri. Lagian kalau suka Gus Al itu hasilnya Cuma satu, patah hati.” PLAK! Seperti tertampar, entah kenapa kalimat yang dikatakan Altika benar-benar membuatku menyadari sesuatu. Hiks, sepertinya yang dikatakan Altika ada benarnya juga, sekalipun hatiku sulit menerimanya dan masih mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin itu. . . . Aku tidak menyangka, pertemuan singkatku dengan Bayhaqi menjadi gosip yang selalu diobrolkan para santri akhir-akhir ini. Termasuk teman-teman yang sekamar denganku. Mereka bahkan kini menyebutku pacar Gus Al. Padahal aku sudah menjelaskan kepada mereka jika aku dan Bayhaqi tak memiliki hubungan apapun. Namun mereka masih ngeyel dengan bilang, Gus Al menyukaiku. Mereka bilang, ketika memandangku, Gus Al terlihat seperti di mabuk cinta. Huft, sok tau. Padahal mereka semua tidak melihatku dengan Bayhaqi bertemu. Dan yang membuatku semakin tidak menyangka adalah Bu Nyai yang tampaknya juga mendengar gosip itu. Beliau bahkan menyuruhku untuk datang ke ndalem sore ini. Entah, akan diapakan aku nanti sore. Yang jelas aku akan ke sana dan sedikit berharap bisa bertemu Bayhaqi. Karena setelah pertemuan kemarin, aku tak kunjung melihat batang hidungnya. Padahal aku sudah mati penasaran dengan ucapakannya kala itu. “Mbak,” seseorang teman kamarku membuyarkan lamunanku. “Eh iya, Vi? Ada apa?” “Bu Nyai minta kamu ke ndalem sekarang.” “Loh, ndak nanti sore? Katanya Lilis nanti sore?” “Nggak tau, pokoknya kamu disuruh kesana sekarang!” Sebelum aku pergi ke ndalem aku mampir bentar di depan kaca. Melihat penampilanku yang kurasa sudah rapi dan sopan. Sembari berjalan menuju ndalem dalam hati kecilku meminta agar bisa bertemu  Bayhaqi dan memintanya jawaban tentang pertanyaan yang mengangguku akhir-akhir ini. “Assalamu’alaikum,” aku tidak sampai memasuki ndalem . Karena Bu Nyai kini tengah menyirami bunga-bunga yang ada di depan ndalem. Kata santri lain, Bu Nyai memang sangat menyukai bunga. “Waalaikumsalam,” saut Bu Nyai sembari menatapku yang berdiri di hadapannya. “Kamu Rara? Masuk, Ra. Kita ngobrol di dalam.” Aku segera mendekatiknya, “Mboten Umi, kita bisa bicara di sini saja kok. Kaarena keliatannya, Umi sudah sangat asyik menyirami bunga.” “Nggeh pun, kamu juga suka bunga nduk?” “Ndak suka banget si Mik, tapi saya cukup tertarik dengan kehidupan mereka. Untuk menjadi bunga yang cantk, mereka melewati proses yang sangat panjang. Bahkan harus rela terpendam dalam tanah.” “Wah, kayaknya kamu paham sekali tentang Bunga. Gimana kalau kamu sering main ke ndalem biar Umi bisa sering ngobrol sama kamu?” “Alhamdulillah, nggih Umi.” “Tapi sebelum itu, Umi mau tanya Nduk.” Tiba-tiba jantungku berdegub sangat kencang. Sepertinya, Umi akan membicarakan tentang gosip itu. “kamu sama Bayhaqi ada hubungan?” “Ya Allah Umi, Ya nggak. Kan Umi tau sendiri, aku sama Bayhaqi teman satu sekolah.” “Alhamduliilah,” Eh? Kok Alhamdulillah? Apakah pacaran denganku adalah sebuah dosa? sehingga ketika tidak melakukannya kau bersyukur pada Allah dengan mengucap Alhamdulillah? Sumpah sekarang, aku tidak tau harus apa. Umi tertawa renyah, “maaf nggeh, umi bukannya ndak suka sama Rara. Tapi Bayhaqi sekarang lagi di luar kota, jadi mau tak mau harus memastikan kabar burung itu memalui kamu.” “Nggeh Umi.” Aku tak bisa mengatakan apapunn lagii. Aku ingin berteriak kencang dan menyadarkan diri, betapa aku bodoh sekali ketika mengharapkan orang-orang yang benar-benar tak mungkin untuk diwujudkan.  Teman-teman jangan lupa tekan gambar hati ya!! dan komen sebanyak-banyaknya biar aku update teroosssss~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN