Bab 16

1017 Kata
"Assalamu'alaikum Gus, mau kemana?"  "Waalaikumsalam, ke rumah barat Mbak. Monggo nggih."  "Nggih gus, hati-hati."  Sosok lelaki tinggi yang menggenakan kemeja hitam dan sarung batik itu pun meninggalkan Mbak-mbak yang aku tidak tau siapa namanya. Berjalan sembari menunduk pandangannya dan sesekali tersenyum ketika di sapa santri lain. Ia kembali berhenti ketika tiba-tiba ada segerombolan Mas-mas menghampirinya. Mas-mas itu terlihat baru selesai ngaji, terlihat tangan kanan mereka tengah mendekap kitab suci al-quran.  "Gus, mau kemana?" tanya salah satu santri dengan senyum tawadhunya.  seolah tak pernah bosan, lelaki itu menjawab pertanyaan yang sama yang ia dengar sejak berjalan di sepanjang jalan. Senyumnya tak pernah ketinggalan, senyum meneduhkan yang jelas aku jarang sekali melihatnya.  "Mau ke rumah barat, Mas. Bagaimana kabarnya njenengan? sehat?"  Kali ini tampaknya lelaki itu ingin berlama-lama mengobrol. tidak seperti ketika Mbak-mbak tadi yang menegurnya.  "Alhamdulillah sehat gus, Njenengan mau kuliah ten pundi? Di deket-deket sini aja loh gus, biar bisa tetep di pondok."  "Ahh," lelaki itu tidak mengatakan apapun dan hanya tertawa. Tangan kanannya menepuk sang lawan bicara. "sudah nggih, saya sudah di tunggu tamu. nanti kita ngobrol lagi." "Nggih gus," sang lelaki kini kembali berjalan lagi, namun jalannya lebih cepat dari yang tadi. Mungkin itu triknya untuk menghindari sapaan dari para santri.  Dari sini, di jendal kamarkuu yang kebetulan menghadap ke jalan samping pondok aku melihat itu semua. Melihat Bayhaqi yang kini sudah memasuki ndalem barat. Sudah seminggu di sini, dan aku menyembunyikan diri agar tidak bertemu dengan Bayhaqi.  Ada perasaan malu dan sadar diri. Parahnya perasaan itu semua tak bisa menghentikan rasaku untuk menyukainya.  "Mbak Rara," seseorang dari belakang membangunkan lamunanku.  Aku terdiam sebentar, kemudian menutup jendela. Jendela berukuran satu meter persegi ini memang harus di tutup. Jika ingin menghirup udara segar, baru boleh di buka. Tentu kalian tau kan alasannya.. ya, takut ada yang ngintip.  "Ya dek?" sautku ketika mendapati orang yang memanggilku adalah Altika, teman sekamarku yang walaupun baru kenal tapi sudah menjadi akrab. Dia dua tahun lebih mudah dari pada aku, dan sekarang masih duduk di bangku kelas dua MA.  "Bantu aku dong,"  "Bantu apa?"  "Mama aku bawa kerdus makanan buat anak-anak kamar, aku gabisa bawanya kalau sendiri. Bantuiiin!!"  Aku pun mengangguk bersemangat, "oke! Yuk!"  "Huu, giliran urusan makanan semangat bangett!"  Aku terkekeh, "makanan itu penting Dek, untuk bertahan hidup."  "Yaudaaa, ayooo!" Dan kami pun menuju kantor, tempat biasanya paket, bingkisan, atau barang-barang untuk santri mendarat.  Sebentar, sepertinya aku baru sadar sesuatu.  GAWAT! Kantor kan tidak jauh dari Ndalem Barat!!!  Nanti kalau ketemu Bayhaqi gimana? Haruskah kubatalakan saja? Tapiii pasti nanti Altika bingung, huftt..yaudah, semoga saja Bayhaqi urusan Bayhaqi sudah selesai di ndalem barat. Dan dia nggak ada lagi di sana.  Hari ini hari minggu pertama setelah bermulanya kegiatan pondok di tahun ini, sebab itulah para santri masih semangat, dan masih kerasan. Terlihat suasana pondok yang ramai, di lapangan bola, aula, masjid dan sudut-sudut pondok yang lain.  "Mbak, aku seneng banget kalau hari Minggu." Kata Altika ketika kami melewati pendopo pondok. Di sana, ada beberapa santri putra yang sibuk mengobrol sembari membaca buku.  Dari sudut matanya yang kini menatap ke arah pendopo, aku sudah tau alasan dia menyukai hari Minggu. Apalagi kalau bukan karena bisa melihat para santri putra dengan bebas.  "Tanya mbak kenapa!" ucap Altika ketika menyadari aku tidak mengatakan appaun.  Aku tersenyum, "iya. kenapa?"  "Karena bisa cuci mata!" jawabnya sembari tersenyum girang.  TUH KAN!  "Dasar kamu," kataku sembari mendorongnya pelan.  Altika tertawa, "mbak juga kan?" "Nggak." "Ah bohong! Buktinya tadi Mbak liat ke bawah terus dari jendela kamar! Mbak pasti liatin mas mas yang lagi seliweran kan?"  Aduh, jadi ketahuan ni? "Enggak ya, kan aku udah bilang. Aku kalau di jendela itu lagi murajaah." Ngelesku.  "Ah, masakkk?" Tuhkan, Altika itu emang sedikit ngeselin.  Aku mengabaikannya dan meninggalkannya di belakang. Ketika hampir sampai, aku cukup lega karena tak mendapati siapa-siapa di ndalem barat. Pintunya tertutup, menandakan jika tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Tampaknya aku tak perlu khawatir bertemu Bayhaqi lagi.  "Dan Mbak, nyebelinnya hari minggu itu ya ini. Kantor ramai dan harus antri kalau mau ambil barang." Kata Altika dari belakang ketika aku berhenti berjalan sembari melihat kantor yang sempit itu dikerumuni banyak sekali santri yang mengambil barang.  Aku pun menghembuskan nafas panjang, "Yauda, kita duduk di bawah pohon sana dulu yuk. Nunggu sepi. Gpp kan?"  "Gpp, dong! Aku juga mau cuci mata dulu!!" "Astaghfirullah!! cuci mata aja di pikiranmu Tik..tik.." kataku sembari menghelengkan kepala.  Kami berdua pun duduk di kursi panjang yang kebetulan berada di bawah pohon rindang. Kursi itu menghadap Kantor, sehingga kami berdua tengah menikmati runyamnya suasana kantor dari luar. Tanpa perlu masuk dan hanya dengan melihat, kami bisa merasakan betapa sumpeknya jika berada di dalam sana.  "Mbak, mau minum nggak? Aku beliin ya! Mumpung aku bawa uang!"  Di samping kantor, ada koprasi pesantren yang menjual banyak hal. Namun yang menarik perhatianku memang kulkas putih yang diletakkan di ambang pintu. Membayangkan betapa segarnya jika aku minum salah satu botol yang ada di dalamnya.  "Yauda, boleh. Beliin air putih aja ya."  "Oke siap!!"  Altika pun berlari kecil menuju koprasi. Meninggalkan aku sendirian, sembari menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Seminggu di sini, aku baru menyadari jika udara di sini sangat sejuk. Atau ini gara-gara aku berada di bawah pohonnya?  SREK. Aku menyadari ada seseorang yang duduk di samping kiriku. Namun aku tak berani menoleh, karena tampaknya dia adalah Mas-mas.  Aduh, ngapain siii mas-mas ini? Apa nggak takut di semprit sama bagian ketertiban?  Aku pun beranjak dari dudukku dan menjauh dari tempatnya duduk. Lebih baik cari amankan? SREK  Aneh, mas-mas itu nggak lagi ngikutin aku kan? Kenapa ia juga ikut pindah?  Aku pun memutuskan untuk memarahinya. Namun belum juga mulutku terbuka, aku sudah dibuat terkejut dengan sosok mas-mas itu.  GUS AL BAYHAQI  Ia tersenyum menatapku, dan aku mengalihkan pandanganku dari senyumnya yang tampak sangat menawan. Tuhkan, dia disini jadi banyak sekali senyum.  "Hai ra," katanya ketika aku hanya diam dan menundukkan kepalaku.  "Oh-" aku menatapnya dan tergagap, "Ha-hai!" sembari memberikan senyum canggung.  Sumpah, aku gatau harus ngomong apa, dan ngapain. Aku bahkan tak bisa menggerakkan kakiku untuk kabur dari sini.  Bayhaqi tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Sejak tadi, ia hanya menatapku. Ia menatapku sembari tersenyum manis. Membuatku semakin salah tingkah.  Bayhaqi kenapa sii? Kenapa sekarang dia malah cuma ngeliatin aku dan nggak ngomong apa-apa? Apa nih anak udah gila? Eh, astaghfirullah... Karena Bayhaqi hanya diam, aku pun jadi nggak tau harus ngomong apa. Alhasil, kita berdua cuma diem-diem sembari saling mencuri-curi pandang. Eh, hanya aku yang curi-curi pandang karena sumpah aku nggak kuasa ngeliatin wajahnya yang sangat tampan jika dilihat dari dekat.  Kira-kira habis ini hafalanku bakal kabur apa nggak ya??  HUHUHU.... TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN