Kata Diana benar, Gus Al terlihat sangat senang ketika melihat Ning Salma. Rara menyaksikannya sendiri. Gadis itu kini mengintip keduanya yang duduk di meja makan, sementara Rara yang ditemani Via, Zakiyah, Diana dan Upik tengah berada di dapur. Dari dapur, tentu saja Rara bisa melihat semuanya dengan jelas dan bisa mendengar obrolan mereka. Gadis itu bahkan menahan air matanya agar tidak jatuh karena menyaksikan sang pemilik hati duduk berdua dengan wanita lain. Untung saja mereka memang sudah biasa ada di dapur, jadi tidak membuat Gus Al curiga.
"Kamu gpp kan Al?" suara halus ning salma terdengar lirih dari dapur, namun terdengar jelas karena lima orang yang ada di dapur itu kini diam semua.
"Aku uda bilang berkali-kali kan Salma, aku baik-baik saja." Jawab Gus Al dengan senyum manis yang membuat wajahnya semakin tampan. Senyuman yang menjadi favorit Rara namun kali ini senyuman itu tidak membuat Rara bahagia.
"Sumpah aku kaget banget waktu kamu bilang mau ketemu aku." Kata Ning Salma.
"Kenapa? Memangnya aku pernah bilang nggak mau ketemu kamu?" Tanya Gus Al heran.
"Iya!"
Dan jawaban Salma semakin membuat Al heran, "kenapa? Memangnya kita ada masalah ya? Seingatku, kita nggak pernah bertengkar deh."
Salma memutar bola matanya, seolah apa yang dikatakan Al itu benar-benar hal yang konyol. "Kayaknya kamu emang beneran sakit deh."
Senyum Gus Al tiba-tiba hilang, sedetik kemudian Gus Al meletakkan sendoknya.
"Salma, aku habis kecelakaan dan katanya memoriku selama beberapa tahun yang lalu hilang."
"Ya, Umik sudah cerita ditelpon."
"Aku jadi tidak ingat kejadian selama tiga tahun yang lalu. Apa selama tiga tahun ini hubungan kita tidak baik-baik saja?"
Salma terdiam, ternyata yang dikatakan Umik benar. Al masih menginggatnya sebagai Salma yang dulu. Al tidak ingat kejadian tiga tahun lalu yang merubah segalanya. Gadis itu tersenyum pahit, sembari meminum air putih yang ada di hadapannya. Andai Al tau apa yang terjadi selama tiga tahun ini, pasti Al tidak akan mau makan dengannya seperti ini.
"Ya, Al. Aku dan kamu baik-baik saja." Entahlah, rasa rindu tiba-tiba hadir dalam benak Salma. Ia ingin bisa bersama Al seperti dulu. Melihat wajah lelaki itu setiap hari dan mendapatkan tatapan kasih sayang dari Al seperti sekarang. Sehingga Salma pun berbohong pada Al. Oke, mungkin Salma terdengar memanfaatkan sakit Al, tapi Salma sudah tidak tau lagi bagaimana cara rasa rindunya bisa terbalaskan kecuali dengan cara ini.
Mendengar jawaban Salma, Al tersenyum. Ia merasa tenang, ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Senyumnya menghilang ketika menginggat sesuatu, "Tapi kenapa aku sekarang dijodohin sama cewek lain?"
Salma menatap Al dalam, "Karena kamu nggak mau." Salma harap, Al tidak ingat sampai sisa hidupnya. Kenangan tiga tahun terakhir, Salam harap tidak muncul lagi di hidup Al. Karena hanya dengan begitu, Al bisa bersamanya. Karena jika Al kembali ingat, mungkin cowok itu akan semakin membencinya.
Raut wajah Al terlihat terkejut, kenapa ia tidak mau meneruskan perjodohannya dengan Salma? Kenapa? Padahal perasaannya pada Salma terasa begitu besar.
"Jangan sedih Al, kita bisa memulainya dari awal." Ucap salma.
Al tersenyum, "terima kasih Salma. Mungkin aku dulu bodoh, sehingga tidak mau bersamamu."
Mereka berdua pun lanjut makan dengan suasana yang menyenangkan. Sibuk membahas bagaimana masa kecil yang mereka lalui bersama. Tawa Gus Al bahkan terdengar sangat keras, raut wajahnya pun terlihat bahagia setelah beberapa hari ini hanya terlihat murung.
Dari jauh, hati Rara teriris sakit mendengar percakapan mereka. Apa maksud itu semua? Apakah kini keduanya kembali bersama dan melupakan Rara yang disini terluka? Apa Salma akan mengambil posisinya di hati Gus Al? Tangis Rara pecah, memikirkan betapa tidak berartinya dia di mata Gus Al.
Keempat teman Rara yang berada disana pun memeluk Rara erat. Mereka semua tau, Rara pasti sangat terluka sekarang. Beberapa dari mereka bahkan menjadi membeci Gus Al karena seolah mencampakkan Rara begitu saja.
"Diem Ra, nanti kalau Umik nyuruh aku bawain Gus Teh biar gulanya aku tuker sama garem aja. Biar dia tau rasa!" ucap Diana sembari memasang wajah marah.
-
"Hari ini kamu harus check up." Ucap Umik kepada anak laki-lakinya yang kini sibuk menatap ponselnya sembari senyam-senyum nggak jelas sejak tadi.
"Ok!" jawab Al dengan mata yang tak terlepas dari layar ponselnya.
"Nanti Umik ndak ikut, biar dianter Zakiyah sama Rara." Ucap Umik lagi, ia masih menatap AL yang tak kunjung menatapnya.
"Rara?" Mendengar nama itu, Al pun menjadi sedikit terusik. Akhirnya ia mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menatap Umik. "Sebenarnya hubunganku sama Rara itu apa si Mik?"
Umik menghembuskan nafas panjang, "Dia tunangan kamu Al." Umik sudah menjelaskan pada Al berulang kali, namun Al masih saja tetap menanyakannya seolah jawaban umik bukan hal yang ia dengar.
"Umik, Al boleh meminta sesuatu?"
Umik mengangguk, "apa?"
"Aku mau batalin tunanganku dengan Rara."
Tubuh Umik bergetar, "Kenapa Al? kamu dulu cinta banget sama Rara. Kenapa harus dibatalin?"
Al menggelengkan kepala, "Nggak Umik, pasti dulu aku cuma pura-pura cinta sama Rara. Karena perasaanku sampai sekarang masih menyukai Salma."
"Baiklah, Umik mengerti. Tapi jangan pernah katakan itu di depan Rara!" Karena Umik tau, perasaan Rara pasti akan sangat sangat terluka mendengarnya.
"Jadi..Umik mau batalin?"
"Tidak segampang itu Al, kamu dulu melamar Rara dengan baik-baik. Jadi kita harus beritikad baik ke rumahnya. Tapi nunggu kamu sembuh dulu ya..." Ucap Umik .
"nggih Mik."
"Dan selama itu, kamu jangan pernah bikin Rara nangis lagi!" Umik tau, Rara setiap hari menangis. Dan Umik tentu saja sedih melihat keadaan calon menantunya itu.
"Nggih," jawab Al cepat. Karena ia juga tidak berniat menyakiti perasaan gadis itu.
Dan ketika ingatan Al kembali, Umik yakin Al tidak akan meminta permintaan pembatalan pertunangan itu lagi. Sebab itu, Umik selalu berdoa semoga Al segera sembuh. Agar kekacauan ini segera membaik.
"Yaudah, sekarang kamu siap-siap."
"Nanti cuma sama Rara dan Zakiyah?"
"Nggak, Kang Rijal juga ikut."
"Sekalian suruh wafer ikut dong Mik, biar suasana rame."
"Iya, suruh aja nanti sendiri."
"sama teman-temannya Zakiyah juga ya."
"Lah kenapa mereka juga ikut?"
"Biar wafer bisa melancarkan pendekatannya dengan diana."
"mereka uda deket Al, kamu saja yg nggak ingat"
"Yang bener Mik? Ya allah, sayang banget aku nggak ingat gimana dulu wafer deketin Diana sampek dapetin hatinya. terus sekarang gimana?"
"pihak keluarga Wafer masi belum setuju kalau mereka ke jenjang yang lebih serius"
"ya allah, ternyata terjadi banyak hal ya...selama tiga tahun ini."
"Udah, kamu cepetan siap-siapnya! Umik mau ke kamar Zakiyah dulu."
"Nggih" dan Al pun segera ke kamar untuk berganti baju.
Hari ini suasana hatinya sangat bagus, karena sudah mendapatkan pesan semangat dari Salma pagi tadi, ia juga akhirnya lega karena sudah mengatakan pada Umik tentang rencana pembatalan itu.
tbc
Follow instagramkuu: muffnr
xoxo, muffnr