29

1092 Kata
Gus Al sudah di bawa pulang, tapi Rara masih belum berani berjumpa dengan pemilik hatinya itu. Rara takut, jika bertemu Gus Alㅡdia akan mengatakan kata-kata yang membuat Rara terluka. Sudah cukup jelas malam itu, jika Gus Al benar-benar tak menginggat Rara lagi. Rara tak mau mendengar lagi pertanyaan 'siapa kamu?' atau 'beneran Rara calon istri aku?' dari mulut Gus Al. Sebab itu, Rara meminta Umik dan Abi untuk tidak mengungkit masalah lamaran dulu sebelum Gus Al sembuh. Dan kabar buruknya, dokter pun tak tau kapan Gus Al akan seperti sedia kala. Mereka hanya bilang, kita harus menunggu. Entah sampai kapan, yang jelas memori yang hilang itu akan kembali. Namun Rara takut, sebelum memori itu kembali, Gus Al akan jatuh cinta lagi pada perempuan lain. Katakutan Rara itu, kata Zakiyah terlalu berlebihan. Zakiyah yakin Gus Al akan kembali ke dalam pelukan Rara. Untuk sekarang, Rara hanya perlu sabar. Karena Zakiyah percaya, jika yang hilang pada Gus Al hanya memori bukan perasaan. Jadi sekalipun Gus Al lupa sosok Rara, Zakiyah yakin Gus Al pasti masih memiliki perasaan yang sama. Sayangnya, keyakinan Zakiyah tidak membuat ketakutan Rara hilang. Rara juga punya alasan yang kuat kenapa gadis itu setakut itu. Sekalipun alasan itu terdengar seperti dibuat-buat olehnya sendiri, oleh pikirannya sendiri. Oleh perasaan insecurenya sendiri. Pertama, Rara sadar diri. Dia bukan gadis cantik yang lahir di keluarga pesantren, dia juga bukan princess di keluarga yang kaya. Dia hanya dia, gadis biasa yang bahkan tidak bisa dibilang cantik. Ia juga tidak lahir dari keluarga kaya, sekalipun tidak bisa juga dibilang miskin. Ia tidak seberapa pintar, hafalan qurannya masih belum lanyah, dan dia tidak sebaik teman-temannya. Dia banyak kurangnya, dan tentunya tidak pantas jika harus bersanding dengan Gus Al. Dalam dirinya, tidak ada yang memenuhi spesifikasi menjadi calon istri Gus Al yang merupakan putra pemilik pondok. Entah bagaimana bisa dulu Gus Al mencintainya dan mengajaknya menikah. Mungkin waktu itu Gus Al dibutakan oleh cinta. Jadi, jika sekarang Gus Al lupa dengan dirinya bisa saja cinta butanya itu hilangkan? Karena tak ada alasan khusus untuk mengingatkan perasaan itu kembali. Apalagi Rara tau, akhir-akhir ini Gus Al sering menyebut nama perempuan lain. Mencari keberadaan perempuan itu dan meminta perempuan itu datang mengunjunginya. Siapa lagi kalau bukan Ning Salma, yang kini menjadi 'calon istri' sementara diingatan Gus Al. Katanya, hari ini Ning Salma akan datang berkunjung. Sebab itu Rara menyembunyikan diri di kamar. Ia tidak ingin melihat pemilik hatinya itu bersama perempuan lain. Cukup mendengar perempuan itu akan bertemu pemilik hatinya sakit, apalagi melihatnya secara langsung? Mungkin air mata Rara akan jatuh begitu saja. "Kalau aku izin Umik pulang boleh nggak ya?" Rara memecahkan keheningan di kamar yang hanya ada dia, Zakiyah dan Via. Upik dan Diana tengah sibuk membantu Umik menyambut kedatangan Ning Salma. Bagaimana pun Ning Salma tetaplah anak dari guru Abi, sebab itu Umik sangat menyambutnya. Zakiyah yang mendengar ucapanku itu sontak mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. "Menghindar bukan jalan yang baik Ra." Zakiyah itu pintar membaca situasi. Dia sering mengerti apa yang kurasakan tanpa kujelaskan. "Betul, harusnya sekarang kamu bukan sembunyi. Tapi kamu bantu Gus Al buat ingat kamu." Saut Via yang membuatku berdecak kesal. "Kalau memang tidak ingat ya ndak usah dipaksa Vi." Aku kesal karena kembali ingat malam itu. Di saat Gus Al malah mengira aku dan dia dijodohkan dan dia bilang padaku tak punya perasaan apa-apa. Sekalipun sudah seminggu berlalu, menginggatnya lagi masih membuat dadaku sesak. "Perkataan Zakiyah waktu itu benar Ra, Gus Al hanya lupa dengan sosokmu bukan dengan perasaannya. Bukannya memaksa Gus Al ingat kembali denganmu, tapi setidaknya Gus Al ingat akan perasannya padamu. Bukankah itu sudah membuatnya yakin jika kamu adalah calon istri sebenernya dan bukan Ning Salma?" "Tapi bagaimana caranya?"  "Yang jelas bukan dengan kabur dari masalah." Via menatap Rara sinis. Seprtinya, sikap Rara yang seperti pengecut ini sudah membuat Via muak. Rara menghembuskan nafas panjang. s**l, ucapan Via kali ini mampu membuat Dadanya tertohok. Apa ia memang sepengucut itu? Tapi, jika menghadapinya akan terlalu sakit untuk di rasakan! "Aku punya rencana." ucap Zakiyah. Via mendekat ke arah Zakiyah, "apa?" dan bukannya Rara yang bersemangat malah Via yang terlihat lebih tertarik dengan apa yang akan di katakan Zakiyah. Rara masih bimbang, haruskah ia mempercayai ucapan Zakiyah? Tapi bagaimana jika ucapan Zakiyah tidak benar? Dia akan semakin terluka tentunya. "Kalian pernah nggak ngelakuin hal yang berkesan?"  Zakiyah menatap Rara penasaran. "Maksudnya?" Rara masih tidak mengerti, bagi gadis itu, seluruh waktunya bersama Gus Al tentu saja berkesan. "Ada nggak momen kalian berdua, yang menurut kamu susah buat dilupain?" Jelas Zakiyah. Rara pun terlihat binggung, "ada, waktu Gus Al nolak aku!" menginggat masa lalu, membuat Rara sangat antusias. "Gus Al pernah nolak kamu?" Via segera mendekat ke Rara. Sembari menatapnya penasaran. "Iya." "Sumpah aku kepo, gimana sii perjalanan cinta kamu sama Gus?" Ucap Via, dengan raut wajah penasaran. "Ya gitu, nggak ada spesialnya." Ucap Rara yang membuat Via mengerucutkan bibirnya. "Ceritaiiin dong Raaa!!!" Paksa Via. "Iya, Ra. Ayo ceritaiiin!" Tanpa di duga, Zakiyah juga tampak penasaran. Membuat Rara bimbang. Haruskah ia menginggat dari awal bagaimana ia dan Bayhaqi bisa bersatu dan menceritakan pada mereka? Dan akhirnya, Rara pun memutuskan untuk bercerita. Ia menceritakan perjalanan cintanya dengan Gus Al kepada Via dan Zakiyah. Cerita singkatnya saja, dan itu mampu membuat kedua temannya itu menjerit iri. Karena bagi Via dan Zakiyah, cerita Rara dan Gus Al seperti ada di dunia novel. "Kapan ya aku punya seseorang yang kayak Gus Al? Yang nggak mau diajak pacaran tapi langsung serius?" Zakiyah yang mendengar ucapan Via, tertawa. "Sama, aku juga kapan ya ketemu jodohku?" dan mereka pun tertawa bersama. Menertawakan nasib mereka yang tak kunjung menemukan pemilik hati. "Aku jadi punya usul Ra," Ucap Zakiyah tiba-tiba. "Usul apa Zak?" "Gimana kalau kamu ngasih Gus Al surat cinta lagi kayak pas jaman sekolah?" "Surat? Nggak Ah!" Ucap Rara sembari menggelengkan kepala, "aku nggak mauu nulis surat gituan lagi!" Via tertawa kecil, "kenapa? uda gpp, pasti Gus Al langsung inget tuh. Kalau bisa, surat yang dulu aja kasihkan lagi." "Iya betul itu, kamu kasihkan aja surat yang dulu Ra." Ucap Zakiyah. Rara menggeleng, "nggak! aku aja malu kalau baca lagi surat itu!" Via dan Zakiyah pun tertawa. "Aku mau baca dong!" "Nggakkk!!! Aku maluuu!" ucap Rara yang semakin membuat tawa via dan zakiyah pecah. "Pokoknya Ra, kamu inget-inget, momen apa yang berkesan bagi kalian. Kalau uda nemu, kamu harus bikin kalian ngerasain momen itu lagi. Siapa tau dengan begitu, perasaan Gus Al akan tersentuh dan dia bakal yakin kalau kamu itu calon istrinya." Mendengar ucapan zakiyah itu, Rara terdiam. Gadis itu pun mencoba menenangkan pikirannya. Ia akan memikirkan saran zakiyah, tapi disisi lain hatinya menjerit ingin pulang. Apalagi ketika Upik dan Diana  kembali ke kamar, dan membawa berita jika Ning Salma suda datang. Membuat d**a Rara sesak mendengar Gus Al yang katanya terlihat bahagia sekali menyambut kedatangan Ning Salma. tbc follow i********:: muffnr xoxo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN