"Gus Al!" Rara bangun dari pingsan dengan menyebut nama Al. Matanya yang terpejam kini kembali mengeluarkan air mata.
"Ra," Zakiyah yang sedari tadi menunggu Rara bangun pun mendekat ke tempat gadis itu. Meraih tangan gadis itu dan menenangkannya. "Gpp Ra, semuanya baik-baik saja." Ucap Zakiyah.
"Gus Al gimana Zak? Gus Al baik-baik aja kan?" Ucap Rara panik. Gadis itu ingin turun dari ranjangnya, namun ditahan Zakiyah.
"Kamu istirahat dulu, Gus Al baik-baik saja. Dia juga sudah siuman." Jelas Zakiyah.
"Aku mau ketemu Gus Al, Zak!" Rara ingin melihat pemilik hatinya. Ia ingin menatap wajah pemilik hatinya. Sekalipun, sang pemilik hati mungkin lupa dengan dirinya. "Zak, aku cuma mimpi kan? Gus Al nggak mungkin lupa sama aku kan?"
Melihat kondisi Rara yang masih buruk, Zakiyah tak bisa menahan tangisnya. Ia memeluk Rara erat, berharap dengan begitu Rara bisa kembali tenang. Pelukan itu membuat Rara kembali menangis, Ia menangis tersedu dan Zakiyah membiarkannya. Zakiyah tau, ini akan terasa sangat berat bagi Rara. Siapapun orangnya pasti akan sangat terluka jika orang yang dicintai tidak mengenalinya.
"Aku mau ketemu Gus Al," Rara sekarang terlihat lebih tenang, air matanya sudah tidak lagi turun dan ia bisa mengendalikan diri.
Zakiyah pun melepas pelukannya, ia menatap Rara dan memastikan jika gadis itu sudah baik-baik saja. "Ayo, aku anterin."
Zakiyah membantu Rara turun dari tempat tidur di salah satu kamar rumah sakit. Letak kamarnya pun tak jauh dari kamar Gus Al, dengan berjalan mereka hanya butuh waktu lima menit untuk sampai. Kamar yang tadinya ramai itu kini sudah sepi. Di dalam pun hanya ada Wafer dan Rijal. Umik dan Abi mungkin sudah ke rumah Kakek Gus Al yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Ketika Rara dan Zakiyah masuk kamar, Gus Al yang tadinya tidur tiba-tiba bangun. Menyambut seseorang dengan sebuah senyuman manis.
Ya, Gus Al tersenyum melihat kedatangan mereka. Membuat hati Rara seketika lega dan senang sekali. Akhirrnya, ia bertemu sang pemilik hati dan melihat senyum manisnya. Akhirnya, ada bagian hati Rara yang bisa mengincip bahagia setelah beberapa jam lalu hanya sedih yang ia rasa.
"Loh Zakiyah? Kamu disini?" namun bahagia Rara sepertinya memang hanya mampir, karena ternyata Gus Al terlihat senang bukan karena melihat dirinya. Tapi melihat Zakiyah. Gus Al kini menatap Rara seprti menatap orang asing. "Siapa ini? Teman kamu?" ucapnya.
Mendengar itu, tentu saja hati Rara hancur. Apa katanya tadi, Siapa ini? Apa Gus Al bahkan tidak menginggat sosok Rara sama sekali di memorinya? Dia tidak menginggat calon istrinya sendiri?
Rara yang tadinya berdiri tegar di belakang Zakiyah, harus meraih besi yang ada di pinggiran ranjang. Gadis itu memegang besi pinggiran ranjang dengan kuat, seolah tengah mencari kekuatan. Karena terlihat, ia tidak kuat untuk berdiri tegar mendengar sang pemilik hati tak mengenalinya lagi.
"Gus kenalin, ini Rara." Ucap Zakiyah pada Gus Al. "Dia..." Zakiyah menghentikan ucapannya. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, apakah tidak apa-apa? Apakah itu membuat Gus Al baik-baik saja? Zakiyah takut Gus Al akan terkejut dan membuat kondisinya semakin memburuk.
"Dia calon istri njenengan Gus." Saut Wafer yang sepertinya sudah gemas melihat Zakiyah yang tak kunjung meneruskan ucapannya.
Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan Wafer, tapi Gus Al yang paling terlihat binggung, ia menatap Wafer tak percaya. "Maksudmu apa Waf? Kamu bercanda kan?" Gus Al pun tertawa,membuat suasana semakin canggung.
Rara menundukkan kepala, ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia kenapa terlihat sangat bodoh si? Apa yang ia harapakan dari Al yang 15 tahun? Mengenalinya dan melamarnya bulan depan? Jangan bodoh, bahkan di mata Al yang 15 tahun, Rara terlihat sangat asing. Bagai manausia yang baru Gus Al temui.
"Gus," Wafer menatap Gus sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan miris. Pagi tadi, Gus Al masih baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang ia tidak bisa mengenali calon tunangannya sendiri? "Rara beneran calon istri sampean."
Al menatap Rara, kali ini Al seolah ingin meyakinkan dirinya dengan fakta yang baru saja ia dengar. Tentu saja sulit, karena seingatnya, ia tidak menyukai gadis di hadapannya. Jangankan menyukai, menatap gadis itu saja baru pertama kali hari ini. "Bukannya calon istriku itu, Salma ya?"
Rara ingat, siapa itu Salma. Ia adalah yang dulu dikira sebagai calon isri Gus Al. Yang katanya Diana, dulu Salma sering main ke ndalem.
"Mboten Gus, sampean mau lamaran sama Ning Rara bulan depan." Jelas Wafer.
Al semakin terlihat binggung, ia menatap wafer tak percaya. "Wafer, udah bercandanya. Nggak lucu! Kenapa aku lamaran sama dia? Aku aja baru ketemu dia hari ini."
Tangis Rara semakin tak bisa ia bendung, ia menangis deras di depan Gus Al. Melihat Rara menangis, Gus Al bukannya merasa simpati, malah melihat Rara sebagai gadis aneh.
"Gus," Zakiyah menghampiri Al, "sudah nggak usah dipikirin ucapan Wafer. Mending Gus istirahat dulu." Zakiyah menenangkan suasana. Jika diteruskan, Zakiyah tau, ini hanya akan menyakiti Gus Al dan Rara.
Gus Al menggelengkan kepala, "aku mau ngomong sama Rara, boleh kalian keluar sebentar?"
Awalnya Zakiyah tak mau, ia tidak ingin membuat Rara semakin sedih. Tapi Wafer dan Rijal memaksa gadis itu untuk setuju. Karena bagi para cowok, urusan mau tak mau harus dihadapi Rara. Rara harus tau kondisi Gus Al, dan Gus Al harus tau situasinya sekarang. Mereka pun keluar kamar dan menyisahkan Gus Al dan rara berdua di ruangan itu.
"Duduk sini Ra." Gus Al menyuruh Rara duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.
Rara menghapus air matanya, dan menurut ucapan Gus Al. Ia duduk di kursi yang membuatnya bisa melihat wajah tampan Gus Al dengan jelas.
"Maaf, aku bener-bener nggak ingat sama kamu." Ucap Gus Al dengan suara yang membuat hati Rara tersentuh. Lagi, gadis itu menangis lagi. Entahlah, sudah berapa ribu tetes air mata yang keluar dari matanya hari ini. "Kamu beneran calon istri aku?"
Rara menganguk pelan, mulutnya tak bisa mengatakan apapun.
"Kita dijodohkan?"
Rara diam, tak menjawab pertanyaan Gus Al. hatinya merasa sakit, mendengar tebakan Al yang malah mengira mereka dijodohkan. Seolah menganggap hubungan diantara mereka berdua tidak melibatkan perasaan.
"Benarkan Ra? Karena aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu." Ucap Gus Al, yang membuat Rara sangat terpukul.
Rara ingin pergi dari kamar agar menangis dan berteriak. Karena sungguh, hari ini benar-benar berat. Baru saja tadi pagi Gus Al memberinya cincin, kenapa sekarang Gus Al malah lupa segelanya tentang dirinya?
"Ra?"
"Aku mau pulang Gus, semoga Gus cepat sembuh." Rara beranjak dari duduknya, meninggalkan Gus Al di kamar tanpa menatap wajah Gus Al yang tengah kebinggungan sekarang.
Bersama perginya Rara dari kamarnya, entah kenapa ada perasaan sakit yang turut datang di hati Gus Al. Perasaan sakit yang aneh, dan Gus Al tak tau itu berasal dari mana.
"Ra," Zakiyah memeluk Rara ketika gadis itu kuar ruangan dengan air mata yang membasahi pipinya. "Gus Al bilang apa?"
"Dia nggak ngenalin aku sama sekali Zak," Ucap Rara dipelukan Zakiyah.
Wafer dan Rijal yang ada disitu menatap Rara prihatin.
"Kata dokter ini cuma sementara Ra, Gus Al akan ingat semuanya jika sudah waktunya." Ucap Wafer menengangkan.
"Nggih Mbak Rara, sabar aja. Semua pasti berakhir indah." Ucap Rijal.
Semuanya merasa kasihan pada Rara, karena semua tau, jika ini pasti sangat menyakitkan bagi gadis itu.
"Aku tau aku harus sabar, aku tau ini cuma sementara, tapi rasanya sakiiiit sekali mihat orang yang kita sayangi tidak mengenali kita. Bahkan, mengira kita sebagai orang asing." Rara kembali menangis tersedu, baju Zakiyah sampai basah dibuatnya.
"Sudah, mending kita istirahat dulu hari ini." Ucap Rijal, "aku nemenin Gus disini, wafer kamu anterin Ning Zakiyah sama Ning Rara ke rumah Abah."
"Nggih Kang." Setelah berpamitan pada Gus Al, mereka pun pergi dari rumah sakit.
Hari ini sangat panjang, dan yang dibutuhkan Rara memang istirahat. Hatinya sudah lelah merasakan sedih, dan matanya juga lelah mengeluarkan air mata. Ia ingin menghilang di bumi untuk sementara. Melupakan fakta, orang yang dicintainya tak menginggatnya lagi.
TBC