"Semuanya akan baik-baik saja Ra," ucap Diana sembari memeluk Rara yang kini tak mau berhenti menangis.
"Aku mau ketemu Gus, aku mau liat keadannya," Ucap Rara dengan air mata yang mengalir deras. Sejak mendengar kabar jika Gus Al kecelakaan, Rara jadi tak bisa mengendalikan dirinya. Ia hanya menangis dan merancau hal yang tak jelas.
"Iya Ra, Zakiyah masih ke ndalem. Nanti kata Zakiyah dia bakal temani kamu buat liat Gus." Di sana juga ada Upik dan Via yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Rara.
Rara masih tak mau berhenti dan semakin menangis tersedu. Sampai Zakiyah datang dengan raut wajah yang ingin menangis.
"Zakiyah, ada apa?" Tanya Via khawatir.
Zakiyah duduk di samping Via, kemudian tangan kanannya mengelus punggung Rara.
"Sabar ya Ra," ucap Zakiyah sembari menitihkan air mata.
"Zak, ada apa? Kok kamu nangiss?" Tanya Via panik.
Upik yang baru datang pun turut membasuh air matanya yang mengalir, Upik juga ikut menangis..
"Upik ada apa?" Tanya Diana heboh. Ia bingung, kenapa semua orang ikut menangis?
"Kasihan Umik, beliau terlihat terpukul sekali." Jawab Upik dengan air mata yang semakin deras.
"Tapi Gus Al gimana keadaannya? Gpp kan?" Diana yang masih bisa menahan rasa sedihnya, karena Via juga ikut menangis. Gadis itu sudah berpelukan dengan Upik dan menangis bersama.
Mereka semua sayang sekali dengan Umik, dan jika Umik sedih seperti sekarang, hati mereka juga ikut sedih dan hancur.
"Kita semua nggak tau keadaan pastinya, Umik habis ini mau ke rumah sakit tempat Gus Al dirawat." Jelas Upik.
"Aku mau ikuut!" Ucap Rara cepat.
"Kalau gitu kamu harus siap-siap, Umik udah mau berangkat." Zakiyah beranjak dari duduknya, dan menuju lemari untuk mengambil beberapa barang-barang yang akan ia bawa. Karena Zakiyah juga akan ikut melihat keadaan sepupunya itu.
Sama halnya dengan Zakiyah, sembari menghapus air mata yang tak bisa berhenti, rara pun beranjak dari duduk dan menuju lemari untuk mengganti baju tidur. Ia menatap cincin kayu yang melingkar di jari manisnya, Bayhaqi aku cinta kamu! Aku mohon kamu baik-baik saja! Ya Allah lindungi Dia!! bisik Rara dalam hati.
--
Umik dan Abi sudah ada di dalam mobil ketika Rara dan Zakiyah tiba di teras ndalem. Suasana pondok sore itu entah kenapa jadi suram, langit pun mendung, seolah mendukung kesedihan yang tersirat di dalam benak setiap orang yang mencintai Al. Tampaknya, banyak orang yang khawatir dengan cowok tinggi berkulit putih itu. Tidak hanya Rara, tapi beberapa warga pondok yang mendengar kabar Gus Al jika tengah kecelakaan pun turut sedih. Mereka semua turut prihatin, dan berdoa dalam hati masing-masing semoga Gus Al tidak apa-apa.
"Nduk, Ayo!" Abi turun dari mobil menyusul Zakiyah dan Rara yang baru tiba di teras ndalem.
Mobil honda jazz putih itu sudah menyala sejak tadi, di dalamnya ada Umik dan Rijalㅡsantri yang biasanya nganterin Abi kemana-mana. Rara dan Zakiyah pun masuk ke dalam mobil. Disambut raut wajah Umik yang terlihat sangat sedih, sekalipun air matanya tak lagi turun. Mata Umik dan Rara sempat bertemu, namun keduanya tak mampu mengucapkan apapun. Alhasil, keduanya hanya saling bertukar senyum. Rara dan Zakiyah duduk di kursi paling belakang, di tengah Umik dan Abi, dan di depan sendiri Rijal yang menyetir dan Wafer duduk di sampingnya.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, mobil honda jazz bewarna putih itu pun keluar dari area pondok, menuju ke rumah sakit dimana Gus di rawat. Di sepanjang jalan, mulut Umik tak berhenti mengucap Sholawat dan tangan Abi tak berhenti memutar tasbihnya. Rara yang terlihat hanya diam sembari menatap nanar ke arah luar pun sebenarnya dalam hati tengah berdoa. Zakiyah yang disamping Rara sejak tadi berbisik membaca ayat-ayat quran untuk menenangkan hatinya. Suasana mobil sangat sunyi, karena setiap orang sibuk dengan caranya sendiri untuk mendokan orang yang sama. Berdoa semoga Gus Al baik-baik saja.
Membutuhkan waktu dua jam menuju rumah sakit dimana Gus Al di rawat, mereka mampir sebentar ke masjid yang ada di samping jalan ketika adzan maghrib terdengar. Bersama Abi dan Umik yang membatalkan puasa daudnya, Rara, Zakiyah, Wafer dan Rijal pun turut diajak makan di restoran dekat masjid. Jika tidak dalam keadaan seperti ini, mereka pasti sudah senang sekali karena makan bersama Abi dan Umik. Tapi sayang, rasa senang itu bahkan tak mampir karena mereka tau, keadaan hati Umik dan Abi yang lagi sedih. Meja makan mereka bahkan sangat suram karena Abi dan Umik yang tak berbicara apapun.
"Ayo," setelah makan, mereka segera menuju mobil dan kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika mobil sudah kembali melaju, Rara melihat ponselnya. Ia membaca kembali pesan-pesan yang dikirimkan Gus Al. Tiba-tiba dalam hatinya perasaan rindu itu ada, membuat Rara kembali menitihkan air mata. Rara mengusap air matanya, ia harus kuat dan tak boleh lemah. Jika ia terus menangis, ia hanya akan menjadi beban pikiran buat Umik. Setidaknya dia akan pura-pura kuat agar Umik tidak kepikiran.
"Kamar berapa Bi?" Tanya Zakiyah ketika mereka sudah turun dari mobil.
Hanya butuh lima belas menit perjalanan, mereka sudah sampai di rumah sakit di mana Gus Al dirawat.
"Ini nduk, coba tanyakan dimana." Ucap Abi sembari menyerahkan ponselnya pada Zakiyah.
Zakiyah pun segera meraih ponsel bewarna putih itu, dan membaca pesan dari Syifa yang menunjukkan letak kamar Al.
"Kamar melati nomor 15 lantai 5."
"Kita naik lift saja." Usul Rijal sembari menujuk lift yang berada tak jauh dari posisi mereka.
"Ayo," Umi memimpin jalan, sepertinya beliau tak sabar untuk segera menemui Al.
Sampai di lantai 5, tanpa disuruh Wafer dan Rijal segera mencari dimana itu kamar melati yang bernomor 15. Abi dan Umik duduk di kursi yang ada di sana, Zakiyah dan Rara berdiri di samping kanan kiri mereka. Membutuhkan waktu sepuluh menit, Wafer akhirnya menemukan kamar itu.
"Bi, monggo disini kamarnya." Ucap Wafer sembari menujuk ke arah samping kanan dari tempat Abi dan Umik duduk.
Dengan dipimpin Wafer, mereka pun menuju kamar dimana Gus Al berada.
Di luar kamar, ada Syifa dan dua orang tua yang duduk di kursi depan kamar. Ketika melihat Umik dan Abi datang, mereka sontak berdiri dan menghamliri Abi dan Umik.
"Gpp, Ning. Al gpp," Ucap wanita paruh baya yang Rara tebak itu saudara Abi. Karena wajahnya yang mirip sekali dengan Abi. Wanita itu memeluk Umik lama, sembari menggelus punggung Umik pelan. "Jangan khawatir, dia gpp."
Sekuat kuatnya Umik, Umik hanya manusia. Ia pasti akan merasa sedih juga. Kini, wanita nomor satu di pondok pesantren yang biasanya selalu tersenyum dan tidak pernah terlihat sedih itu tengah menangis sesenggukan di pelukan adik iparnya.
"Apa kata dokter?" Tanya Abi pada pria tua yang mengenakan sarung hitam dan kemeja abu-abu.
"Al gpp, Gus. Alhamdulillah, organ dalam, tulang tidak ada yang terluka. Padahal bagian depan mobilnya uda penyet."
"Alhamdulillah," semua orang sontak mengucapkan hamdallah. Hati mereka pun seketika menjadi lega setelah mendengar kabar itu.
"Tapi-" pria tua itu menghentikan ucapannya. Raut wajahnya yang tadinya terlihat senang kini berubah jadi serius.
"Tapi apa Nur?" Tanya Umik dengan nada yang keras.
"Sepertinya kepala Al terbentur, jadi ada sebagian memorinya yang hilang."
"Ya Allah," Umik kembali menangis lagi.
Rara dan zakiyah pun ikut menangis.
"Maaf Yai, apa maksudnya Gus Al amnesia?"
"Bukan le, dia masih ingat tapi ingatannya hanya sampai ketika usia 15 tahun."
"Jadi dia nggak inget memorinya ketika usia 16, 17 dan sampai sekarang?"
"Betul zak," Jawab Syifa.
Semua yang mendengar kabar itu tentu saja syok, termasuk Rara. Ia jadi punya firasat buruk. Jika Gus Al hanya ingat ketika dia usia 15 tahun, berarti dia tak mengingatnya? Berarti Gus Al tidak ingat jika ia akan bertunangan dengannya? Apa itu juga sama dengan gus Al tidak menyukainya lagi?
Pikiran-pikiran buruk itu, membuat Rara kembali menangis. Gadis itu bahkan tersungkur di lantai, badannya tiba-tiba lemas dan pengelihatannya menjadi buram. Lama kelamaan, Rara pingsan tidak sadarkan diri.
Baru saja ia merasa cintanya terbalas, haruskah ia merasa cintanya tak terbalaskan lagi kini?
-tbc-