Bab 26

1411 Kata
Malam ini Rara, Al, Diana dan Wafer tidur lebih awal, karena mereka janji akan kembali ke pondok habis subuh. Umik bilang jika urusan sudah selesai, mereka harus segera pulang. Sebab itulah mereka putuskan untuk kembali habis subuh agar masih bisa tiba di pondok pagi. Dan ketika subuh sudah tiba, keempat anak manusia itu sudah bangun, mandi dan melakukan sholat subuh jamaah. Setelah itu mereka bergegas kembali ke pondok. Jalanan yang sepi karena masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas membuat mobil mereka melaju sangat cepat.  Diperjalanan, Diana dan Wafer kembali meneruskan mimpinya. Rara sebenarnya juga ingin tidur, tapi ia merasa tak enak dengan Al yang harus melek sendiri. Gadis itu pun memaksa kedua matanya untuk terjaga dengan melihat video-video di youtube. "Ra, besok aku harus kembali ke pondoknya Kakek." Ucap Al pada Rara. Rara yang tengah melihat video Gitasav pun mengalihkan perhatiannya, "apa? kamu mau kemana?" Rara melepas earphonenya agar bisa mendengar dengan jelas ucapan Al. "Ke pondok kakek Ra," "Ke sana lagi?" "Iya." "Yaaahhh," Rara tidak bisa menahan perasaan sedihnya. "Tapi gpp, kan kita masi bisa kirim pesan lewat hp!" "Engh...aku juga nggak pegang hp Ra disana." "Loh kenapaaa nggak pegang hp Gus?" "Yaaa, palingan hari jumat sampai minggu aja." Rara benar-benar sedih, ia kira setelah ini ia akan sering bisa bertemu Gus Al, tapi harapannya itu sepertinya tidak akan terjadi. Gadis itu menghembuskan nafas panjang, berharap perasaan sedihnya hilang. "Maaf ya," tiba-tiba Rara jadi marah, padahal Gus Al tidak salah, tapi Rara ingin marah saja rasanya. Toh Gus Al ke pondok kakeknya buat belajar kan? "Raaa," Gus Al tau ada yang tidak beres dengan Rara. ia pun menghentikan mobol di pinggir jalan. Rara yang sadar mobil berhenti pun jadi kaget. "Ra, maaf kalau aku nggak bilang dari awal." Setelah menghentikan mobil, Gus Al menatap Rara yang duduk di kursi belakang. Yang ditatap pun hanya menundukkan kepala. "Sabar Ra, kita cuma harus nunggu satu tahun biar kita bisa bareng terus." Seolah tau isi hati Rara, Gus Al pun meyakinkan Gadis itu. Rara pun mengangguk, ia sadar sekarang, tak seharusnya ia bersikap seperti anak kecil. "Nggih Gus." Ucapnya sembari tersenyum. Setelah memastikan Rara sudah baik-baik saja, Al pun melajukan mobil lagi. Mereka masih membutuhkan waktu satu jam perjalanan sebelum tiba di pondok, dan Al menyuruh Rara untuk tidur. Rara menurut, suasana hati yang tidak enak membuatnya ingin tidur saja. Mengabaikan Al yang harus terjaga sendirian. --- "Kamu berangkat kapan?" Pertanyaan itu yang pertama keluar ketika Rara turun dari mobil. Mereka sudah tiba di pondok, dan segera kembali ke kamar masing-masing. "Habis ini." "Habis ini?" Rara kira, besok atau nanti malam. Sebab itu ia sangat terkejut ketika Gus Al bilang ia akan berangkat setelah ini. "Sama siapa? Ada yang nganter kan?" "Sendiri Ra, biar besok kalau pupang nggak nyusahin siapa-siapa." "Gus, njenengan itu capek habis nyetir dari tadi. Terus sekarang mau nyetir lagi? Kalau memang mau berangkat sendiri, tidur dulu baru berangkat." Omel Rara. Ia khawatir dengan kesehatan calon tunangannya itu. Dan entah kenapa firasat Rara tidak enak. Gadis itu ingin sekali menahan Gus Al untuk tidak berangkat. Tapi dia jika melakukan itu pasti Gus Al akan marah.  Rara pun menghembuskan nafas panjang, ia mencoba berpikir yang baik-baik saja. "Gus," "Iya Ra?" "Tidur dulu nggeh, baru berangkat." Ucap Rara dengan nada yang lebih lembut. Berharap usulnya didengar oleh lelaki di hadapannya. Gus Al tersenyum seolah meminta maaf, "nggak bisa Ra, uda janji tiba disana sebelum ashar." Rara kehilangan senyumnya, ia pun mengalihkan pandangannya menatap tanah. Kemudian sebuah cincin muncul di pandangannya. Cincin yang dipegang Gus Al itu bewarana coklat. Terbuat dari kayu dan terlihat sangat cantik. "Pakai ini, aku juga pakai." Ucap Gus Al sembari menampakkan cincin kayu yang melingkar indah dij jari manisnya. Rasa marah Rara hilang separuh melihat cincin itu. Ia pun mengambilnya dan segera mengenakannya. Ini adalah barang pertama dari Gus Al, yang tentunya membuat Rara senang sekali. "Itu nggak baru Ra, aku kebetulan punya dua. Dan aku pengen ngasih kamu sesuati sebelum pergi, jadi aku ngasih kamu itu. Maaf ya." "Gpp Gus, aku suka." "Bagus banget di tangan kamu, aku harap kalau kamu liat cincin itu, kamu juga jadi inget aku yang pastinya selalu ingat kamu." Rara mengangguk, ia menahan tangisnya. Ahh, tak menyangka Gus Al seromantis ini. "Udah, kembali ke kamar sana! aku mau mandi terua berangkat!" Ucap Gus Al. Rara pun mengangguk, perasaannya kini sedikit lebih rela melepas Gus Al setelah diberi cincin kayu itu. Setelah melambaikan tangan, Rara pun kembali ke kamar sendiri. Ya, karena Wafer dan Diana memang sudah kembali ke kamar sejak tadi. Mungkin mereka berdua sudah muak melihat keuwuan dua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu. Tiba di kamar, Rara sudah disambut dua temannya yang sudah menunggunya sejak tadi. siapa lagi kalau bukan Via dan Upik, mereka berdua menagih janji Rara untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Di kamar itu ternyata bertambah santri baru, yakni Zakiyah. Dia katanya saudara Umik, jadi diberi kamar yang dekat di area ndalem. Untungnya Zakiyah tipikal yang mudah akrab, jadi Rara dan Diana langsung nyaman dengan gadis itu. Padahal baru bertemu satu jam yang lalu. "Ayoo ra ceritaiiiin," ucap Upik setelah melihat Rara selesai beres-beres. Gadis itu kini duduk di lantai di dekat jendela. Upik dan Via duduk di samling Rara. sementara Diana tengah sibuk membaca buku, dan Zakiyah masih sibuk dengan barang-barangnya. "Jadiii aku sama Gus Al mau tunangan," ucap Rara yang membuat semua orang di kamar terkejut, kecuali Diana tentunya dan Zakiyah. "Apaaa????" "Yang benerrr?? Kamu nggak bercanda kan?" Rara menggaruk sudut belakang kepalanya, "aku uda tau respon kalian pasti kayak gini. memang ini hal yang sulit dipercaya kan?" "Iya, soalnya...kok bisa siii? Kan kalian nggak pernah ketemu." "Iya, kamu juga baru pindah ke sini kan? memangnya kapan kamu ketemu sama Gus?" "Aku sama Gus dulu satu pondok, gais." jelas Rara. "OOOOH PANTESAN!!!" ucap Via dan Upik kompak. "Kok nggak bilang siii? Kalau kamu bilang kita pasti nggak bakal heran kayak tadi." Ucap Via. "Iya betol." Saut Upik. "Tapi...sebentar, Zakiyah udah tau? Kok. nggak terkejut sii?" tanya Via smebari menatap Zakiyah yang wajahnya terlihat biasa-biasa saja. "Iya," Saut Zakiyah sembari tersenyum. "Sekalipun Aku nggak deket sama Al, tapi di keluarga kami uda tau semua kalau Al mau lamaran." "Oh ya?" kali ini Rara yang terkejut. "Iya Ra, Umik sii yang bilang ke keluarga besar. katanya beliau seneng banget akhirnya punya mantu." Rara jadi malu, tidak menyangka jika kebaradannya benar-benar membuat Umik senang. "Tapi lamarannya masih lama kok, masih satu bulan lagi." "Tetap saja, kamu yang pasti akan dilamar Gus Al." Saut Upik sembari tersenyum senang. "jadi temanku akan jadi ning pondok niiih??" Goda Via dengan senyum manisnya. Rara jadi malu, kemudian Upik dan Via memeluknya erat. "selamat yaa, bilang ke Gus Al suruh cariin cowok buat kita-kita. siapa tau banyak temennya yang masih jomblo."  Ucap Via di sela-sela peluk mereka. Rara sontak mengurai peluk mereka. Wajahnya jadi bersemangat. "Gimana kalau sama wafer? dia jomblo dan baikkk." "Siapa? waferr?" Ucap Upik dan Via bersamaan. Rara mengangguk dan melirik Diana yang kini terkejut, yes! akhirnya dia berhasil memancing Diana untuk buka suara. Pasalnua sejak kemarin, Rara sangat sangat penasaran, sebenarnya ada apa diantara Wafer dan Diana. "Kamu nggak tau Ra? wafer itu mantannya diana!" Upik berbisik pada Rara. "Jadi yang dikatakan Gus Al benar kalau wafer sama diana itu pernah pacaran?" Rara sengaja membesarkan suaranya sembari melirik Diana yang kini menatapnya tajam. "Iyaaa! Diana itu belum bisa move on dari wafer!" Saut Via yang semakin membuat Diana murka. Diana pun sontak menuju ke arah kami, yang tentu saja aku, Upik dan Via mencoba menghindar dari sosoknya. Senang sekali memang memganggu Diana, selain karena dia menggemaskan sekali ketika marah, ia juga mudah emosi dan mudah padam emosinya. Jadi, dia tidak pernah marah lama-lama. Ketika Rara tengah sibuk bercanda dengan teman-teman sekamarnya yang kini bertambah anggota, ponsel yang ia letakan di meja dekat jendela bergetar hebat. Rara segera menuju meja itu, dan mendapati nama Syifa di layar. telpon dari syifa?  apa syifa kira ini nomor Gus Al ya? Setelah berpikir lama, Rara menerima telpon itu. "Halo, ini Rara?" "Iya," "Ra, Mas Al kecelakaanㅡ" Bagaikan petir yang menyambar tubhnya, Rara tak bisa bergerak setelah mendengar ucapan Syifa. Ponsel yang ia pegang bahkan terjatuh di lantai. Bugh. membuat semua penghuni kamar terkejut dan sontak mendekat ke tempat Rara. "Ra ada apa?" "Rara???" Teriak teman-teman Rara. Zakiyah yang mendapati nama yang ia kenal di layar ponsel yang menyala itu pun meraihnya. Dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Ada apa Fa? Ini aku Zakiyah." "Mas Al, Mbak Zak!" Suara Syifa kini menangis, membuat jantung Zakiyah berdetak sangat cepat. "Mas Al kecelakaan!" Zakiyah sontak menatap Rara, calon tunangan sepupunya itu kini menangis dipelukan ketiga sahabatnya. "Keadannya sekarang bagaimana? Dirawat dimana?" "Masih belum sadar Mba, di rumah sakit dekat sini Mbak." "Tapi kecelakaannya nggak parah kan?" "Parah," "Ya Allah," desis Zakiyah sembai menatap Rara sedih. Baru saja, bunga-bunga di hati bermekaran. Baru saja, dua sejoli itu bahagia karena tanggal lamaran mereka sudah ditentukan. Tapi, tampaknya Tuhan selalu mencoba hamba-hambaNya yang ia cintai. Ia mencintai Rara dan Al, sebab itu hal ini terjadi. Hal yang membuat keduanya belajar sabar, ikhlas dan merelakan. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN