Bab 25

962 Kata
Rumah yang biasanya sepi itu malam ini ramai sekali, beberapa orangnya sibuk di halaman belakang untuk menyiapkan acara makan malam. Ada yang sibuk di dapur dan ada pula yang sibuk berbicara di ruang tengah. Semua orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, hanya Rara yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Gadis itu kini tengah mondar-mandir di dapur, ia cemas memikirkan Gus Alnya yang kini tengah berbicara dengan Mama dan Papanya di ruang tengah. Rara takut Gus Al kesulitan menjawab pertanyaan Mama dan Papanya. Ia menyesal karena tidak memberontak ketika Papanya bilang, dia sebaiknya tidak usah ikut pembicaraan itu. Harusnya ia tetap ngotot buat ikut, agar memastikan jika Gus Al tidak kenapa-napa. "Ra, bisa kesini nggak?" Diana mengintrupsi langkah kaki Rara, gadis itu ingin membuat temannya itu sibuk, agar pikiran buruk di otaknya bisa keluar. "Kenapa Di?" Rara yang tadinya mondar mandir di teras dapur pun masuk ke dalam dapur, berdiri di samping Diana yang tengah sibuk di depan kompor. "Cobain ini, kurang apa.." Diana menyendokkan kuah Soto buatannya dengan sendok kecil kemudian menyodorkan pada Rara. Rara meletakkan kuah itu di tangannya kemudian mengincipinya, "udah mantap kok, tapi ini nggak kepedasan?" Diana sontak terkejut, "masak kepedesan sii? perasaan tadi lomboknya juga nggak banyak-banyak amat." "Yauda sini biar aku urus, kamu bisa urusin yang lain." Diana tersenyum, yess rencananya berhasilㅡucapnya dalam hati. Diana akhirnya bisa menghentikan Rara yang sejak tadi mondar-mandir di teras dapur. Setidaknya dengan begini, dia tidak ikut-ikutan cemas. Karena jujur, melihat Rara cemas membuatnya cemas juga. "Kok mereka lama ya ngomongnya?" Ucap Rara yang sepertinya sudah mengurus kuah soto yang kepedesan. Gadis itu duduk di kursi yang ada di sana  sembari bertopang dagu. Diana melirik temannya sembari tersenyum miring, "sabar...mungkin mereka juga sekalian ngomongin rencana pernikahan kalian." "Nggak mungkin!" Jawab Rara pesimis. "Disetujui Papa aja kayaknya nggak mungkin banget." "Kenapa nggak mungkin sii? Kan bisa aja, Papa kmu sama kayak Mama yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke gus Al." Diana tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Tidak dengan Rara yang hanya memanyunkan bibirnya, merasa ucapan Diana terlalu tidak mungkin. "Dari pada diem aja gitu, mending cuci piring sana!" Omel Diana. "toh diem gitu apa juga manfaatnya? yang ada malah kamu mikir aneh-aneh." Rara pun segera bangkit dari duduknya dan mencuci piring, sekalipun hatinya masih tidak tenang, gadis itu mencoba untuk baik-baik saja. Ada benarnya juga ucapan Diana. Ia hanya akan semakin takut jika diam saja. Akhirnya pikiran cemas Rara sedikit demi sedikit hilang, bersamaan dengan tangannya yang membersihkan piring-piring kotor di hadapannya. Disaat Rara tengah khusyuk mencuci piring, seseorang berdiri di sampingnya. Dari aroma parfumnya saja Rara sudah bisa tebak itu siapa. Jantungnya sontak berdetak sangat kencang, dan ia menahan kepalanya agar tidak menoleh ke arah samping. "Ra," Ketika namanya dipanggil, Rara baru mau menoleh. Menatap wajah lelaki yang ia cemaskan sedari tadi. Pertanyaan yang ada di otaknya hilang begitu saja ketika melihat lelaki itu tersenyum seperti sekarang. Senyum manis yang rasanya membuat kaki Rara meleleh seperti permen yang terkenak panas. "Gimana? Lancar ngobrol sama Mama dan Papa?" tanya Rara. Bukannya menjawab, Gus Al hanya tersenyum manis. Membuat Rara frustasi, bisakah Gus Alnya itu berhenti tersenyuummm? Karena senyuman itu membuat Rara semakin tak sabar untuk menjadi istrinya. "Gus, kok malah senyum siii?" "Kenapa? Kamu takut ya Mama Papa nggak ngizinin kita?" Rara mengangguk cepat. "Tenang, beres semua." "Beneran?" Gus Al mengangguk. "Ih, kok bisa siiii? Memangnya Papa nggak ngomong apa-ap?" "Ngomonglah, tapi rahasia." "Ya! Kok pakek rahasiaan segala sii guus!" Gus Al tertawa, membuat Rara sedikit kesal. Gadis itu pun memercikkan air ke badan Gus Al. "Ih nyebeliin!" "Eh-" Gus Al yang terkejut pun tak bisa menghindar, membuat sebagian bajunya sedikit basah. Ia tak terima dan membalas Rara dengan hal yang sama. Akhirnya mereka melakukan adegan bak sinetron yang di adegannya diberi efek slowmotion dan lagu-lagu romantis. Wafer yang kebetulan lewat pun jadi benggong aja ngeliat penampakkan Gusnya ketawa ketiwi sama Rara. Begitu pula Diana yang tadinya sibuk dengan masakannnya jadi lupain masakan dan ngeliatiin adegan sinetron yang lagi tayang live di depan matanya. Kalau lagi jatuh cinta, dunia memang serasa milik berdua ya? --- "Wah, ini semua masakan Diana?" Ucap Mama Rara ketika tiba di meja makan yang disiapkan di halamn belakang, bersama Papa Rara yang kini sudah duduk di tempatnya. Makan malam hari ini memang mengusung tema outdoor, karena meja makan di dalam terlalu sempit jika diisi banyak orang seperti ini. "Iya te," Diana sudah tidak lagi memanggil Mama Rara, bu-bu, karena Mama Rara tidak nyaman dengan sebutan itu. Ia mengusulkan pada Diana untuk memanggilnya Tante. begitupun dengan Al dab Wafer. "Wahhh pinter bangettt!" "Rara juga bisa kali Ma," celoteh Rara yang sedikit syirik mendengar Diana dipuji Mamnya sendiri. "Masak? nggak percaya tuh!" "Kalau nggak percaya tanya aja ke Diana," saut Rara sedikit kesal. Mamanya memang selalu meremehkannya. "Iya tante, Rara sama saya punya guru masak yang sama, Ummik. Dan biasanya Rara juga sering bantuiin masak dengan teman-teman yang lain. Bahkan bisa dibilang lebih jago Rara kalau masak dari pada saya." Diana sengaja merendah, untuk membuat Mama Rara senang. Padahal aslinya, Diana ogah ngomong kayak gini jika cuma berduaan dengan Rara. "Ah masak sii Diii? Soalnya dia di rumah nggak pernah masak dan Tante ajarin masak." Ucap Mama Rara heran, sekalipun di dalam hatinya ia merasa senang dan bangga. Ternyata anaknya yang tidak bisa apa-apa sekarang benar benar menjadi sosok wanita. "Di pondok memang diajarin masak Tante, jadi kayaknya Rara sudah latihan masak sejak dulu." Bela Al yang membuat Rara senang. "Benar tuh Ma kata Al." "Oh, syukurlah kalau kamu uda bisa masak. Kalau nggak bisa nanti suamimu makan apa." "Tenang Tante, sekalipun Rara nggak bisa masak saya bisa masak kok." Saut Al dengan wajah percaya dirinya. Ucapan Al dan lagaknya yang sudah menjadi suami Rara, membuat semua orang di meja makan tergelak. Tawa pun tercipta diantara mereka, membuat suasana malam itu terasa sangat hangat. Rara baru menyadari, Gus Alnya itu selain tampan ia juga cerdas. Cerdas menggambil hati Papanya. Buktonya sedari tadi Rara liat, Papanya selalu mengajak Gus Alnya bicara. membuatnya tau, jika Papa pasti suda menyukai calon suaminya itu. Ahhhh, bolehkan Rara memanggil Gus Alnya itu calon suamiii??? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN