Bab 24

1337 Kata
“Loh Ra? Kok pulang?” Mama Rara yang masih terlihat muda sekalipun sudah berusia hampir setengah abad itu sangat terkejut ketika membuka pintu dan mendapati anaknya bersama beberapa orang di belakangnya. Rara hanya tersenyum sembari berlari dan memeluk Mamanya. “Rara, kangen.” Bukannya menjawab pertanyaan Mamanya, rara malah mengucapkan kata rindu. Kira-kira sudah enam bulan rara tidak bertemu Mamanya. Jadi wajar saja kan kalau gadis itu sekarang rindu? Sekalipun bagi seorang santri, tidak bisa bertemu orang tua dalam kurun waktu yang lama itu hal yang biasa. “Ra? Kamu kenapa?” tanya Mama Rara yang terlihat khawatir. Rara pun melepas peluknya, “aku gpp Ma. ayo kita masuk dulu, nanti aku jelasin.” Mama rara pun mengangguk, kemudian mempersilahkan Al, Wafer dan Diana masuk ke dalam rumah. “Ini siapa aja namanya? Anak ganteng sama cantik ini?” Tanya Mama Rara ketika mereka semua sudah duduk di kursi ruang tamu. “Saya Diana bu, temen sekamarnya Rara.” “Oh, nggih Kalau yang ganteng ini siapa?” tanya Mama Rara sembari menatap Al. Walaupun sudah tua, mama Rara ternyata tau saja orang ganteng. “Oh itu pacarnya Rara Bu,” ucap wafer sembari memamerkan deretan giginya. Membuat Al dan Rara salah tingkah. “Ha? Kamu pacaran Ra?” tanya Mama Rara pada Rara yang kini menatap tajam wafer—seolah ingin membunuh lelaki itu sekarang juga. “Nggak ma,” “Lah terus?” “Saya Al Bu, saya bukannya pacaran sama Rara seperti yang dibilang wafer, tapi saya suka anaknya ibu.” “Haaaa?” Mama Rara tentu saja sangat terkejut. Seumur hidupnya baru kali ini ada seorang lelaki yang di depan matanya dan mengatakan menyukai anak perempuan satu-satunya. Sama seperti mama rara yang terkejut, ketiga anak manusia yang ada di ruang tamu itu juga sama terkejutnya. Tidak menyangka, Al akan mengatakan hal yang seperti itu. “maksudnya apa Nak?” tanya Mama rara. “Saya suka sama Rara Bu,” ucap Al dengan menatap mata Mama Rara mantap. Tanpa ada keraguan dan ketakutan. “Serius kamu yang ganteng suka sama Rara yang begini?” jawaban tak terduga dari mama Rara membuat Rara menatap Mamanya kesal. “MAMA!!!” Membuat semua orang tertawa terbahak termasuk Al. “Bercanda sayang,” Mama rara mengelus punggung rara agar anak gadisnya itu tak marah. “Ishhh,” namun Rara masih menampakkan wajah cemberutnya. “Jadi kamu suka Rara Al?” Tanya Mama rara pada Al. Al mengangguk, “Iya Bu. Dan tujuan saya kesini mau kenalan sama Ibu dan Ayahnya rara.” Mama Rara masih takjub dengan keberanian Al, sebab itu sejak tadi hanya mengangguk-ngangguk dan tak bisa berkata apapun. “Saya beneran suka rara Bu, dan berniat melamarnya bulan depan.” Jika tidak malu, Mama Rara mungkin sudah ingin memeluk tiang rumah karena saking binggungnya. Ia masih belum tau alasan Rara pulang ke rumah, dan sekarang apalagi ini...ada seorang anak laki-laki yang bilang mau melamar rara? Sungguh, banyak sekali kejutan yang membuat jantung mama Rara rasanya mau copot. “Ma—“rara menyenggol bahu Mamanya yang kini tengah benggong. “Oh em...maaf, saya masih bingung.” Ucap mama Rara sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Jadi sebenarnya tujuan rara pulang, mau ngenalin saya yang berencana melamar Rara bulan depan.” Dan dengan baik hati, Al merangkai kalimat yang jelas dan mudah dimengerti, agar mama rara tidak binggung lagi. “Oh,” Mama Rara mengangguk mengerti. Kali ini penjelasan Al membuat semuanya terdengar lebih jelas. Namun masih sangat mengejutkan tentunya. “Wah, harus tante akui kamu berani sekali ya Al. Tapi apa kamu sudah memikirkan keputusanmu itu matang-matang?” “Sudah Bu.” Tanpa menunggu lama, Al menjawab dengan cepat pertanyaan Mama Rara. “Kamu yakin mau jadiin Rara istri kamu?” “Yakin Bu.” “Siap menerima segala kekurangannya dan membersamainya sampai akhir?” “Siap!” Bukan hanya Mama rara yang dibuat takjub dengan Al, tapi juga Diana dan Wafer yang kini tengah geleng-geleng kepala. Mereka baru tau, kalau gusnya itu punya jiwa bucin juga. Sementara itu, kini Rara ingin menangis. Menangis karena terlalu bahagia. “Yasudah, kalian boleh istirahat dulu di dalam. Ra, Diana ajak ke kamar kamu. Wafer sama Al ajak ke kamar tamu.” “Okeh Ma.” “Al, obrolan kita dilanjut nanti saja ya pas ada Papanya Rara. Biar lebih enak.” Ucap Mama Rara pada Al. “Iya Bu.” Dan mereka pun menuju kamar masing-masing untuk istirahat. sementara itu, Mama Rara langsung menelpon suaminya, memberi tau kabar yang sangat-sangat mengejutkan ini. menyuruh suaminya untuk segera pulang.   ---   “Sumpah Gus al tadi keren bangett Ra!!” ucap diana ketika mereka berdua sudah di kamar rara. Rara yang tengah menyalahkan ac dan membuka jendela kamarnya pun senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian tadi. “Dia berani banget Ra, bilang gitu ke mamamu!” “Iya kan Di? Aku juga mikirnya gitu. dia nekat apa gimana si,” saut Rara sembari duduk di ranjang menghadap Diana yang kini menatapnya. “Dia itu BUCIN sama kamu Ra!” ucap Diana dengan intonasi yang tegas pada kata ‘bucin’. “Hahahahah masih si?” “Ya kalau nggak bucin apa namanya? Dia itu beneraan suka sama kamu ra, coba kalau dia nggak beneran suka kamu, pasti dia juga nggak mau jauh jauh ke sini.” “Iya juga si.” “Apa dia nggak degdegan ya? apalagi nanti dia harus ketemu Papa kamu.” Rara tersenyum miris, “mungkin urat takutnya udah putus.” “kamu juga takut kan ra?” tanya Diana. “Iyaah diii, aku takut kalau Mama dan Papa nggak setuju dan nentang hubunganku sama Gus Al.” “Halah, entar kalau mereka tau Gus Al anaknya pak yai pasti setuju kok.” “Tapi kayaknya Gus Al nggak mau ngasih tau identitasnya ke Papa Mama, tadi aja dia nggak nyinggung masalah itu sama sekali kan?” “Iya, dia bener-bener mau diterima sebagai ‘Al’ bukan sebagai Gus Al.” Rara mengangguk setuju dan menghembuskan nafasnya panjang. sepertinya urusan ini tidak akan mudah selesai seperti yang ia kira. Drrt...drtt....drt....drt..... Ponsel Rara yang masih ada di dalam tas bergetar kencang, membuatnya segera mengambilnya. Dan menadapati nama Gus Al di sana. “Halo, assalamualaikum gus.” “Waalaikumsalam Ra, kamu lagi apa?” “Lagi ngobrol sama Diana Gus, ada apa?” “Gpp, aku pengen denger suara kamu aja.” “Padahal belum satu jam kita pisah masak udah kangen?” “Kamu yang kangen, aku sii nggak!” “Terus kenapa nelpon?” “Kan aku sudah bilang, aku pengen denger suara kamu Rara.” “Ya itu kangen namanya.” “Ya enggak dong, beda.” “Yauda terserah!” ucap Rara dengan nada kesal yang dibuat-buat. Di ujung telpon sana, Al terkekeh pelan. “Mau jalan-jalan nggak nanti malam?” “Jalan-jalan kemana? memangnya kamu tau daerah sini?” “Loh kan kamu ada.” “Memangnya yakin dapet izin dari Ayah?” “Yakin dong!” jawab Al cepat. “Pd banget!” “Bukan pd Ra, jadi orang kan memang harus optimis.” “hmmmm, yayaya.” “Udah kamu istirahat sana! Jangan ngobrol terus.” “Iya kamu juga!!! Tadi kayaknya capet banget habis nyetir.” “Nggak aku mau bantuin Mama masak.” “Haduuh, nggak usah cari muka kamu! Wes tidurooo!” Al tak menanggapi ucapan Rara, ia tertawa kemudian menutup sambungan telepon itu. membuat Rara khawatir dengan ucapan terakhir lelaki itu. jangan-jangan Gus Al beneran bantu mamanya di dapur? Memangnya dia bisa? “Kenapa Gus Al?” tanya Diana ketika Rara sudah menyudahi telponnya. “Dia bilang mau bantu mama masak.” Diana tertawa, “sumpah ya, gus al beneran bucin sebucin bucinnya. Sampek-sampek harus cari muka dan bantuin Mama kamu.” “Huft, nggak tau deh.” Ucap Rara yang binggung dengan sikap Al. “memangnya dia bisa masak ya Di?” “Wah jangan salah Ra, gitu-gitu kalau masak mi enak banget.” “Ha? Mi?” “Iya, dulu aku sempet diincipin Umik masakan buatan Gus Al. Dan emang enak banget. Waktu itu, dia masak Mi instan.” “Yaelah, semua orang di dunia ini juga kalau masak mi enak kali Di.” Diana kembali tertawa, “udah pokoknya kalau kamu jadi sama Gus Al, pasti kamu bakal jadi cewek terberuntung di bumi ini.” “Hahaha, iya ya?” “Iya! Mana ada ibu mertua sebaik Umik di dunia ini?” Rara tersenyum, seolah setuju dengan ucapan Diana. Benar, Umik adalah salah satu  faktor Rara mantap menerima Al. Sekalipun jika ia menikah dengan Gus Al, akan ada banyak sekali beban yang tersemat di pundaknya. Tapi setidaknya, jika ada umik Rara bisa membawa beban itu.  "Dulu aku kira Gus Al dijodohin loh Ra."  "Ha dijodohin?"  "Iya, kan biasanya anak pemilik pesantren dijodohin sama anak pemilik pesantren." "Iya juga ya?" "Hmm," Diana mengangguk, "dan dulu ada kabar kalau Gus Al dijodohin sama Ning Salma." "Ning Salma? Putrinya siapa?" "Putri pengasuh pondok Darul Ihsan." "Oh pondok di kediri yang termasuk pondok tertua itu?" Diana mengangguk, "soalnya dulu Abi kan pernah nyantri disitu. Dan Ning salma juga sering main ke pondok, jadi semua orang kira Ning salma sama Gus Al bakal dijodohin." "Aku tau Ning Salma, dia cantik banget." "Iya emang, tapi kamu juga cantik Ra." "Tapi aku nggak ada apa-apanya kaalau dibandingkan Salma Dii." "Iya siiih," jawab Diana jujur. Yang membuat Rara semakin sibuk dengan pikirannya sendiri.  Lagi, gadis itu merasa tak pantas bersanding dengan Gus Al.  TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN