Bab 23

1341 Kata
3  chat baru dari AKU TSEL Benda pipih itu bergetar ketika Rara sampai di kamar. Gadis itu segera menuju ke lemarinya. Ia melepas kerudung dan berganti baju. Ketika sudah memastikan Diana sudah tidur, Rara pun baru berani membuka ponselnya. Aku tsel? Apakah itu Bayhaqi? Aku t-sel: Rara, Udah di kamar? Ganti nama kontaknya gih, pasti kamu bingung Firasat Rara benar, gadis itu pun segera mengganti username kontaknya menjadi ‘Gus Al’.  Setelah ini kayaknya Rara akan memanggil lelaki itu Gus Al terus, karena akan terasa aneh jika ia tetap memanggil Bayhaqi sementara semua orang di pondok memanggil lelaki itu dengan sebutan Gus Al. Rara : Sampun Gus, njenengan mboten tidur? Balas Rara. Sedetik kemudian, ia mendapatkan balasan dari Gus Al. Wah, cepet banget—pikir Rara. Gus Al: Katanya Umik besok km mau plg? aku disuruh ikut? memang gpp? Oh, Umik sudah bilang pada Gus Al tentang itu. Rara : Nggih Gus, mau nggak? Tapi kata Umik disuruh bawah teman. Setelah membalas, Rara menuju lemari. Ia lupa tak mengambil selimut. Gus Al: Ya, besok aku minta antar Nizam . Kamu minta antar siapa? Rara jadi berpikir, iyaya? Besok dia minta antar siapa? Apa dia minta antar diana saja? Rara: Diana kayaknya, tapi dia nggak tau apa-apa. Gus Al: Jelasin ke dia pelan-pelan, kalau dia nggak mau. Nanti sama Syifa aja. Rara: Nggih gus Rara menunggu balasan Gus Al lama, tapi balasan itu tak kunjung datang. Rara jadi binggung, kenapa gus al tak membalasnya? Tapi kalau dibalas memangnya mau dibalas apa? apa rara berharap gus al mengatakan selamat malam untuknya? Dan sampai Rara tertidur pun tak ada ucapan selamat malam dari Gus Al.   --   “Di,” ketika diana hendak keluar dan suasana kamar sepi, Rara memanggil Diana untuk membicarakan masalah semalam. “Ada apa Ra?” “Kamu sibuk nggak hari ini?” Tanya Rara. “Emm, Cuma bantu umik aja sii.” Jawab Diana. “Aku boleh minta anterin?” “Anterin? Kemana? ke kantiin? Ayok!” Rara tertawa, dia memang selalu mengajak Diana ke kantin. Lebih tepatnya, Rara ingin ditemani diana karena gadis itu tidak berani ke kantin sendiri. tuhkan? Diana memang selalu menemani Rara disaat dia susah. “Bukan, pulang. Umik nyuruh aku bawa teman buat pulang.” “Loh kenapa?” “Sini biar aku ceritaiiin,” rara menyuruh Diana duduk di dekatnya. “Kenapa Ra?” Diana terlihat sangat penasaran. Ia juga terlihat khawatir, takut ada apa-apa dengan Rara kok sampai harus pulang. “Kamarin malam, Umik nggak marahin aku.” “Terus? Kok kamu pulang?” “Gus Al—“ “Kenapa? Kenapa gus al? Dia tau kalau kamu suka dia?” Saut Diana cepat ketika mendengar nama itu. “Nggak gitu di, ternyata dia mau ngelamar aku.” “...” Diana masih diam, ia menatap rara tak percaya. Rara yang tadinya menunduk pun mendongak ketika tak kunjung mendapatkan jawaban Diana. Diana benggong, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Di kamu kenapa?” melihat Diana yang hanya menatapnya dan tak mengatakkan apapun membuat Rara takut. “Aku nggak salah denger kan Ra?” “Nggak Di, beneran. Gus Al mau ngelamar aku, dan umik bilang itu kemarin.” “Jadi..perempuan yang disuka gus Al itu kamu?” Sumpah diana masih nggak percaya, karena bagaimana bisa? Bagaimana bisa Gus al tau Rara? “Iya, aku juga nggak tau Diii. Aku juga kaget banget. Aku juga ngiranya ini Cuma mimpi.” “Kok bisa si?” Rara menggeleng, “aku juga nggak tau.” “Kalian kenal dimana?” “loh kamu nggak tau?” oh iya, Rara seketika baru ingat jika semua orang disini tidak ada yang tau jika dia dan Gus Al pernah sekelas. “AKu sama Gus Al pernah satu pondok, dan satu kelas.” “Oalahh!!! Iya betul, Umik pernah cerita kalau perempuan yang disukai Gus AL itu temen sekelasnya. Ya Allah Ra, aku nggak nyangka banget!” Dan rasa binggung Diana kini sudah terpecahkan. Oh pernah satu kelas, pantas saja—pikir diana. Rara sangat terkejut karena tiba-tiba Diana memeluknya. “Selamat ya Ra,” Sumpah Rara nggak nyangkah Diana akan bereaksi seperti ini. Ia sangat terkejut dan lega tentunya. “jadi mau nemenin aku pulang?” “Mau!” Jawab Diana semangat. Rara tersenyum,”makasi ya.” “Sama-sama, tapi naik apa pulang?” “kayaknya naik mobil gus Al.” “Apa? kamu pulangnya sama Gus Al? Ciyee~” “Di suruh Umik Dii, katanya biar mama papa tau Gus AL dulu.” “Oh, oke deh. Kapan ni berangkatnya? Sekarang?” “Bentar, aku tlp gus Al dulu.” Rara mengeluarkan ponsel dari dalam saku gamisnya. “Loh sejak kapan kamu bawa hp?” Rara menampakkan deretan giginya, “dikasih gus Al.” “Wahhhh, so sweet!!!” Rara hanya senyum mendengarkan seruan Diana. Ia pun segera mencari kontak al dan segera menelponnya. “Iya Ra?” “Diana mau Gus.” “Oke, berangkat jam berapa?” “Jam 8 aja nggih Gus, biar aku sama Diana siap-siap dulu.” “Ya.” Rara pun segera mematikan sambungan telepon itu. Mereka berdua pun segera bersiap. Jam menunjukkan pukul setengah delapan. Masih ada setengah jam untuk mempersiapkan barang-barang yang dibawa pulang. Rara berpikir, mungkin mereka akan menginap di rumahnya.   ---   “Gus dimana?” tanya Diaana ketika mereka berdua selesai berpamitan ke Umik dan hendak keluar dari ndalem. “Katanya sudah di parkiran Di, kita ke sana aja.” Jawab Rara sembari mengecek ponselnya. Dimana menampilkan pesan singkat dari Al yang menjelesakan keberadaannya. “Oke.” Ketika mereka hendak pergi ke parkiran, tak sengaja bertemu Via dan Upik yang baru selesai dari pasar. Mereka berdua tentu saja menatap Diana dan Rara binggung. “kalian mau ke mana?” tanya Via. “Ceritanya kalau kita uda kembali, pokoknya aku mau anter Rara pulang.” Jawab Diana sembari terkekeh geli. Ia senang melihat wajah penasaran teman-temannya. “Loh kok pulang? Ada apa?” “Wes ta, pokoknya kalau aku udah balek ke pondok aja ceritanya. Sekarang kalian berdua bantu Umik yang rajin ya...” ucap Diana lagi. Rara hanya menahan senyumnya, diana memang jail sekali. “Ra, kamu ada apa? kok pulang? Sakit ta?” tanya Upik. Rara menggeleng, “enggak pik. Ada keperluan mendadak. Nanti aku akan cerita kok.” “Janji ya? awas kalau kalian berdua nggak cerita!” ucap Via sembari menampakkan wajah marahnya. “Iya Via.” Jawab Rara. “Yauda, hati-hati Ra, Di!” Diana dan Rara pun keluar dari ndalem dan menuju tempat parkir. Tempat parkir yang cukup sepi itu membuat keduanya bisa dengan mudah mengenali mobil yang berisi Gus Al. Keduanya pun menuju mobil hitam yang mesinnya sudah dinyalakan. Sebelum Rara sampai, pintu mobil terbuka dan menampakkan Gus Al dengan menggunakan pakaian santai. Menggunakan jaket dan celana hitam yang membuat Rara dan Diana takjub. Pasalnya, keduanya jarang sekali melihat Gus al menggunakan pakaian begitu. yang tentu saja membuat Gus al terlihat sangat tampan. jika tidak ingat Gus Al akan menjadi milik temannya, mungkin diana akan jatuh hati. “Sudah siap?” “Nggih sampun,” jawab rara. “Yauda ayok! Wafer udah di dalam.” “Wafer?” tanya Diana seolah mengintrupsi Rara dan al yang hendak masuk ke dalam mobil. “Iya. Nizam nggak bisa jadi aku sama Wafer.” Rara mengangguk mengerti. Baginya tidak penting nizam atau wafer, yang terpenting Gus Al ada yang menemani. Namun tampaknya, bagi Diana itu penting. Karena gadis itu kini terlihat mematung dengan wajah yang masih syok. “Di, kenapa?” tanya Rara karena temannya itu tak kunjung masuk ke dalam mobil. “eh—emm gpp Ra.” Kemudian Diana masuk ke dalam mobil. Para perempuan duduk di kursi belakang, sementara di depan, Gus Al menyetir mobil dan di sampingnya seseorang yang bernama wafer. “Ra, kamu sudah makan kan?” tanya Gus Al ketika mobil mereka berhasil keluar dari area pondok. “Sampun,” “Yah...padahal mau aku ajak makan nasi pecel langganan aku.” “Gus si nggak bilang,” saut rara. “Aku aja Gus, aku belum makan.” saut Wafer. Gus Al terkekeh, “Ojo mbujuk!” Wafer tertawa pelan, “masih lapar Gus!” “Yawes, aku sama wafer nanti makan dulu ya Ra. Oh ya, diana juga sudah makan?” “Nggih, sampun Gus.” “Barangkali mau makan lagi ya gpp Di, nanti tak traktir!” “Heheh, mboten gus.” “Kata wafer kamu mantannya ya Di?” Ucap Gus Al dengan nada bercanda. Namun bukannya membuat suasana di mobil menjadi hangat, suasana di mobil itu malah jadi canggung. Rara melempar tatapan tajam pada Gus Al melalui kaca sepion. Menurut Rara, Gus Al sama sekali tidak bisa membaca situasi. Kenapa hal begitu pakai ditanyakan siii? “Heheh,” Diana menampakkan wajah canggungnnya sembari tertawa pelan. Jujur ia tak mengira gus Al akan menanyakan hal seperti itu. dan, kenapa wafer bilang-bilang si kalau mereka pernah pacaran? apa menjadi mantannya adalah hal yang membanggakan sampai-sampai dia mengatakan itu pada gus Al? “Jadi bener yang dikatakan wafer? Aku kira dia halu.” “GUS!!!!!!” dan kini Wafer sudah menatap Gus Al kesal. Jika saja bukan Gusnya, mukin wafer sudah memukul orang yang kini malah tersenyum tak bersalah. Mobil mereka pun membelah hiruk pikuk desa, menuju sebuah kota diamana Rara lahir. Perjalanan mereka menyenangkan, apalagi Gus Al banyak sekali bicara. Membuat ketiga penumpang lainnya keheranan. Pasalnya, sosok gus yang mereka segani itu, ternyata tau banyak guyonan khas anak muda. Mereka bertiga baru sadar, jika gus mereka juga sama seperti mereka, yang hendak beranjak dewasa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN