Bab 22

981 Kata
“Umik, apakah yang dikatakan Gus benar?” Tanya Rara pada Umik ketika mereka berdua sudah duduk di kursi yang ada di kamar Umik. Umik tidak langsung menjawab, beliau menatap Rara lama dan dalam. Tatapan yang jarang Umik berikan pada Rara. Membuat Rara malu dan hanya bisa menunduk. “Benar Nduk.” Jika umik sudah bilang begitu, Rara sekarang percaya apa yang dikatakan Bayhaqi. Apa yang ia dengar dari Bayhaqi benar adanya dan dia sekarang tidak berhayal. “Apa itu juga alasan Umik memintaku tinggal di dekat ndalem?” “Betul.” “Dan itu juga alasan Umik ngajarin aku masak?” Umik mengangguk. Rara menjadi mengerti sekarang, hal-hal yang mengganjal dalam hatinya selama ini. dulu Rara sering berpikir, kenapa Umik memintanya untuk tinggal di asrama dekat ndalem? Kenapa Umik jadi sering memintanya membantu di dapur, padahal masih banyak Mbak-mbak lain yang mondok disini lebih lama darinya? Dan hari ini, dua pertanyaan itu terjawab. Semua sudah direncanakan Umik dan Gus Al. “Awalnya Umik mikirnya Al hanya cinta monyet sama kamu, tapi ternyata dia bener-bener suka sama kamu Ra. Makanya Umik bikin persyaratan buat dia, dan sebagai gantinya Al minta Umik harus terima kamu jadi menantu Umik.” Jantung Rara bedetak sangat cepat, kali ini debarannya lebih kencang dari pada ketika Bayhaqi mengakui perasaanya. Ada perasaan takut yang menghinggap di hatinya, ia takut ia tak pantas menjadi menantu Umik. “Itulah alasan kenapa Umik nyuruh kamu untuk bantuin Umik di dapur sampai nyuruh kamu pindah di dekat ndalem. Semua itu Umik lakukan agar Umik bisa mengenal kamu lebih dalam,” Rara seketika menginggat sikapnya selama di dekat Umik, apa dia pernah membuat kesalahan? Apa sikapnya selama ini sudah membuat Umik menerimanya menjadi menantu? “Jujur, umik tak melihat yang spesial dari kamu. Kamu sama seperti santri lain, yang nurut, baik, rajin dan jujur. Tapi itu tak menjadi masalah, Umik malah merasa tenang. Karena kamu yang biasa-biasa ini, akan membuatmu selalu rendah hati.” Ketika Umik bilang, tidak ada yang spesial darinya, Rara merasa buruk. Ia seketika berfirasat jika Umik tak suka dengannya. Namun setelah mendengar ucapan Umik selanjutnya, membuat Rara senang dan tenang sekali. “Ra?” “Nggih Mik?” “Mau ya jadi mantunya Umik? Nanti Umik ajarin kamu banyak hal. Gpp, jangan ngerasa kamu nggak tau apa-apa. dulu umik seumuran kamu juga nggak tau apa-apa. tapi umik nggak pernah berhenti belajar.” “Mik...” Rara kehilangan kata-kata. Gadis itu merasa terharu, apakah ia pantas mendapatkan kebaikan hati Umik? “Kehidupan menikah akan berat Ra, apalagi setelah menikah nanti kamu tak hanya akan menyandang status istri dan Ibuk tapi kamu juga akan dilihat sebagai mantu anak Kiyai, dan itu pasti berat. Umik janji, akan bantu kamu berubah menjadi sosok yang kuat, agar kamu bisa menghadapinya walau berat. Mau ya?” Air mata Rara mengalir begitu saja, terharu dengan kebaikan hati Umik dan takdir Allah. Rara tidak pernah menyangka akan mendapatkan takdir sebaik ini. menjadi bagian dari keluarga pondok pesantren? rara bahkan tak pernah bermimpi seperti itu. “Loh Nduk, kok nangis? Umik ndak maksa Nduk, kalau kamu nggak mau ya gpp. Umik pasrah, paling sedih aja karena Al pasti bakal jadi gila kalau nggak nikah sama kamu.” Rara semakin menangis tersedu, ditengah tangisnya ia berkata, “Mau Mik.’ Umik pun mendekat ke tempat Rara, dan memeluk gadis itu. “Ya Allah nduk, kok nangis kalau mau? Wah tampaknya calon bu nyai ini cenggeng sekali.” “Huhu, maaf mik.” Ucap Rara di dalam pelukan Umik. “Jadi kamu mau kan nikah sama Al?” Tanya Umik ketika Rara sudah tenang dan behenti menangis. “Nggih Mik.” “Kamu siap kan nikah muda?” Rara terdiam, “nikah muda?” “Iya, jadi kalau kamu siap. Al akan lamar kamu bulan depan. Terus nikahnya bisa tahun depan.” “Secepat itu?” Umik terkekeh, “nduk itu sudah dilama-lamakan loh. Kalau dicepetin itu besok atau nggak ya bulan depan kamu menikah.” “Duh, mboten Mik. Pun tahun depan saja nikahnya.” “Beda banget sama Al!” “Gus Al kenapa?” “Dia mintaknya cepet-cepet nikah sama kamu, nggak sabaran emang.” Rara tertawa pelan, “mungkin dia takut Umik berubah pikiran.” “Nggak, dia takut kamu dinikahi orang lain.” Rara jadi malu, secinta itu ya Al bayhaqi itu padanya? “Sudah, Umik Cuma mau ngomong itu. Rara bisa kembali ke kamar, untuk masalah lamarannya, nanti Al kasih tau kamu.” Rara mengangguk, ia kemudian teringat papa dan mamanya. Apa Papa dan Mamanya akan menerima ini semua? Mereka berdua kan mengirimnya kesini untuk belajar, kenapa malah dia akan meniikah? “Mik, Rara boleh izin pulang?” ya, lebih baik Rara pulang dan bicara dengan kedua orang tuanya dulu. “Nggih, tapi tetap pada aturan ya? Cuma tiga hari, paling lama satu minggu.” “Nggih Mik,” “Minta antar Al aja biar kedua orang tua kamu bisa tau Al dulu.” “Boleh Mik?” “Boleh, tapi ya jangan beduaan. Nanti kamu ajak temen kamu, terus Al juga minta antar temannya.” “Nggih Mik.” “Mau pulang kapan? besok?” “Nggih Mik, lebih cepat lebih baik.” “Yasudah, nanti Umik bilang ke Al. Dia pasti seneng banget.” Rara tersenyum, “Rara ke kamar ya Mik.” “Iya.” Rara pun kembali ke kamar, ia meninggalkan kamar Umik dengan perasaan senang. dan sangat terkejut karena ternyata Gus Al masih ada di depan kamar Umik. Ia tengah  berdiri sembari memainkan ponselnya. “Loh kok masih disini?” tanya Rara. “Ini, mau ngasi kamu ini,” Lelaki itu menyerahkan sebuah ponsel kepada Rara. “Ha?” “Aku masih mau ngobrol banyak sama kamu. Dan umik pasti marah kalau kita ketemu terus, bawa ini dulu. bira kita bisa komunikasi.” Rara mengambil ponsel itu, sembari mengangguk. “Oke.” “Yaudah, sampai kamar langsung tidur.” Rara mengangguk, “ya, kamu juga.” Rara meninggalkan Gus Al dan menuju dapur, ia ingat kalau ada Diana yang menunggunya. Dan benar saja, Diana kini tengah tertidur sembari menelungkupkan kepalanya di meja yang ada di sana. Membuat Rara merasa tersentuh. Temannya yang satu ini memang baik sekali. “Di, kita tidur di kamar aja yuk.” Rara menggoyangkan tubuh Diana pelan. Diana sontak bangun dari tidurnya, ia menguap. “Uda selesai?” Rara menatap temannya itu dengan tatapan sayang, “uda. Lama banget ya? kok nggak kembali aja sii ke kamar??” “Aku ketiduran Ra, tadi padahal aku baru aja duduk eh langsung ngerasa ngantuk.” “Yauda, ayo kita bubuk di kamar.” “Umik marahin kamu?” “Nggak, “Terus umik ngomong apa?” “Udah besok aja ceritanya, sekarang aku ngantuk bangettt.” Dan keduanya pun menuju kamar mereka, Diana langsung tidur, namun tidak dengan Rara. Gadis itu sibuk dengan benda pipih yang diberikan Gus Al padanya. Untung saja semua teman-temannya sudah tidur, jadi tidak ada yang mencurigainya karena tiba-tiba punya HP. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN