Aku duduk di salah satu kursi yang ada di sudut ruang makan, sembari menatap Rayyan yang kini sibuk menggoreng telur. Entah bagaimana rasa telur itu, yang jelas Rayyan menolak ketika aku menawarkan bantuan. Katanya biar aku duduk saja, dia mau buat masakan yang benar-benar hasil karyanya sendiri. tapi bukan kenapa sii, aku takut perutku sakit karena makan makanan nggak jelas buatannya. Karena sekalipun dia bilang masak, gerak-geriknya sedari tadi sudah menjelaskan jika dia tak bisa sama sekali. “Ra,” ucapnya sembari sibuk dengan kompor di hadapannya. Aku tak bisa melihat wajahnya, karena kini ia membelakangiku. “Iya?” jawabku. Sembari masih memperhatikan punggung Rayyan. dari belakang, suamiku itu cakep banget. Andai saja dia tak mengecewakanku, pasti sekarang aku uda meluk tubuhnya

