“Aku mau jujur.” Susah payah kubunuh rasa ketakutanku untuk mengucapkan itu. Dan menatapmu yang kini masih tertunduk di hadapanku. Aku tau, kau pasti tengah menerkah-nerkah apa yang akan aku katakan. kau pasti takut jika kejujuranku menyakiti hatimu. sama! aku juga takut Ra..sebenarnya aku juga tak ingin mengatakannya. Aku ingin memendam dalam masa laluku saja. tapi nyatanya, semesta seolah berusaha membawanya kehadapanmu. Jadi sebelum segalanya menjadi runyam, lebih baik aku yang memberi tahu. Jadi maafkan aku jika setelah ini kau akan merasakan sakit. Tapi bolehkah aku sedikit egosi? “Jujur apa Gus?” tanyamu dengan menyembunyikan wajah kekhawatiranmu. Kau mencoba untuk tenang. Aku meraih tanganmu, dan mengenggamnya erat. Seolah tak ingin kulepas sampai kapanpun. “Tapi kamu harus

