Rara bahagia sekali pagi ini, menginggat percakapannya dengan Gus Al semalam yang berjalan mulus seperti p****t bayi. sekalipun Gus Al masih belum mengingatnya, Rara tetap bahagia. Karena setidaknya, dia dan Gus Al tidak bertengkar. Pagi ini, setelah beres-beres kamar, melaksanakan piket harian di asrama, dan menghafalkan beberapa ayat untuk nanti sore disetorkan, Rara segera menuju ndalem. Ia akan bertemu Umik dan mengatakan isi hatinya. Ia juga penasaran kira-kira apa yang dikatakan Umik padanya, sampai-sampai Rara dipanggil dan harus menemui umik di ndalem. Rara khawatir, jangan-jangan apa yang dikatakan Umik adalah berita buruk. Namun gadis itu menepis firasatnya dan berusaha berpikiran postif. Setibanya di ndalem, ia disambut beberapa perempuan yang sibuk membersihkan halaman depa

