“Ra?” “Nggih Mbak?” “Dipanggil Ibuk.” Jantung Rara sontak berdetak sangat cepat. Gawat, ia tentu tau kenapa Ibuk memanggilnya. Pastinya karena kemarin dia tidak stor hafalan. Rara yang tadinya hanya rebahan sembari memejamkan mata kini terbangun sembari mencari kerudungnya yang lupa ia taruh mana. “Ada apa Mbak?” tanya Zahra sembari memasang wajah penasaran. Nada juga ada di dalam kamar, gadis itu sibuk membaca novel tak ikut penasaran seperti Zahra. “Jangan bilang Mbak Rara udah tiga kali ndak setoran.” Ucap Nada asal dengan wajah santai. “Iya.” Jawab Rara sembari membetulkan kerudungnya di depan kaca kecil yang diletakkan di samping jendela. “Haa?” sontak Zahra dan Nada terkejut. Mereka tak mengira, Mbak Rara yang mereka tau masih santri baru sudah berani bolos storan selama

