Semenjak potongan mimpi itu muncul lagi dalam tidur Arya. Ia merasa sangat gelisah. Sebagai pelepas penat, Arya pergi ke Puncak bersama sahabat kepompong. Dalam perjalanan mereka, awan mendung mulai menyelimuti wilayah itu. Sedangkan mereka masih harus menempuh jarak menuju Vila milik kedua orang tua Raina. Medan yang sedikit terjal tidak menyurutkan tekad mereka. Lantaran penasaran dengan apa yang Raina ceritakan.
Suara gas motor mereka seakan memberi hiburan tersendiri. Jalanan menanjak bukan menjadi halangan, justru menjadi suatu tantangan. Pemandangan gunung Gede-Pangrango seakan manjakan mata siapa saja yang melihatnya. Hamparan hijau seakan menyejukkan jiwa mereka.
“Gileee ... cakep bener suasananya!” Reno yang berboncengan dengan Syila merasa sangat bahagia bisa mengenal Raina dan diajak ke Vila milik kedua orang tua Raina.
“Aku juga baru pertama kali ke sini, Ren,” sahut Syila dengan mata berbinar.
‘Tempat ini ... seakan mengingatkanku pada suatu tempat,’ ujar Syila mengingat kenangan lalu. Tempat yang masih melekat dalam memori Syila, walau dirinya tidak mengetahui pasti di mana tempat itu.
‘Indah banget! Seindah pemandangan yang dulu pernah ada dalam hidupku!’ ujar Mikha dalam hatinya, sembari menatap indahnya cakrawala yang berbaur alami bersama dengan nyiur pepohonan. Ia teringat akan kenangan masa lalu. Kenangan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
‘Tempat ini sepertinya ... pernah hadir dalam mimpiku? Atau ... salah satu puzzle mimpiku itu adalah benar-benar tempat ini?’ Arya yang kurang fokus mengendarai motor membuatnya sedikit oleng. Lantaran teringat akan sebuah mimpi yang menjadi sebuah firasat. Puzzle mimpi yang datang secara tiba-tiba yang sering membuat Arya kebingungan bahkan ketakutan. Sering Arya menolak dan pada akhirnya si gadis misterius datang lagi untuk menolong Arya.
Motor Arya semakin oleng, Raina menepuk-nepuk bahu Arya karena takut akan terjatuh di tanjakan terjal itu.
“Arya, Awas!” Raina mengingatkan Arya untuk kembali fokus. Beruntungnya kendala itu masih bisa diatasi oleh Arya.
“Huft, syukurlah!” Arya menghentikan laju motornya.
“Kamu nggak apa-apa?” Raina dengan jantung yang masih berdebar, tangan yang masih gemetar, mencoba untuk menanyakan keadaan Arya yang terlihat kurang fokus.
“Maaf ya, Rai! Gara-gara aku nggak fokus, hampir saja celaka!” Arya menyesal dan meminta maaf kepada Raina.
“Iya, aku nggak apa-apa kok!” Raina mencoba menenangkan keadaan Arya.
“Kenapa, Bro? Oleng?” Angga berusaha untuk memeriksa keadaan mereka, sedangkan Reno yang melesat jauh di depan sana, akhirnya putar balik untuk melihat keadaan mereka.
“Kenapa, Bro?” Reno yang tengah membonceng Syila pun merasa khawatir, setelah dirinya melihat dari kaca spion.
“Ya ... maaf, kurang fokus aja!” Arya mengulas senyum untuk menutupi ketakutannya akan puzzle mimpi yang belakangan ini datang kembali menghantui tidurnya.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju desa tempat Vila kedua orang tua Raina itu berada.
***
“Rai! Sumpah indah banget!” Syila merasa berbunga-bunga melihat keindahan alam di sana.
“Kalau melihat pemandangan seperti ini, rasanya ingin mendaki gunung Gede-Pangrango.” Aji si pencinta alam pun, ikut merasakan aura keindahan al di Vila itu.
“Jangankan aku, Guys! Pasti si Angga yang anak pantai aja suka sama pemandangan indah ini, ya kan?” Aji masih duduk di teras Vila bersama dengan teman-temannya yang tengah beristirahat.
“Nah ... gimana? Sejuk dan indah bukan?” Raina keluar dari dalam Vila dengan membawa enam gelas berisi teh manis hangat.
“Ni diminum dulu! Cocok sebagai pelepas lelah! Kalau mau air mineral masuk saja ke dalam ya! Anggap saja seperti rumah kalian!” Raina dengan ramah menyambut mereka.
“Kamu sering ke sini?” tanya Mikha yang dikenal pendiam.
“Kalau dibilang sering ya ... lumayanlah. Apa lagi kalau lagi bad mood. Bisa bikin mood naik.
“Kamu dulu tinggal di sini?” Syila penasaran karena menurutnya rumah itu sangat mirip dengan rumah yang ada dalam ingatan Syila.
“Enggak, sih. Aku tinggal di kota terus. Cuma ... aku ngrasa betah aja di sini.” Raina tidak pernah berlama-lama tinggal di sana, karena memang Vila itu hanya sesekali didatangi saat Weekend.
Perbincangan semua teman-teman Arya sama sekali tidak Arya dengarkan. Ia hanya fokus pada bangunan itu. Sebuah Vila yang ada dalam mimpinya belakangan ini. Arya melamun memikirkan semua yang ada dalam mimpinya.
“Woy! Ngelamun!” tegas Reno sembari menepuk bahu Arya.
“Eh! Iya ... enggak! Cuma agak capek aja!” Arya berusaha menutupi kemampuan supranaturalnya dari keenam sahabatnya.
“Kalau kamu capek, istirahat saja dulu! Di sana kamar tamunya!” Raina menunjukkan sebuah kamar tidur.
“Oh, enggak, Rai! Aku hanya butuh duduk-duduk saja!” Arya yang sedang menghindari tidurnya, dengan tegas menolak tawaran Raina.
“Atau mau pada makan apa, nih? Bakso? Mau? Enak loh! Dingin-dingin berkabut gini, kan? Gimana?” Raina beranjak dari kursi dan ia menawarkan makanan yang sulit untuk ditolak.
“Rai, jangan kan ditawarin, suruh beli sendiri aja doyan kita! Dua mangkok!” celetuk Angga membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Wah, si Angga ternyata doyan makan?” Reno hampir tidak percaya, lantaran body Angga benar-benar sixpack dan keren. Angga hanya meringis malu, walau kenyataannya di antara cowok-cowok itu, Angga memang terlihat paling Hot. Sedangkan Arya tipikal cowok pendiam yang memang sedang menyimpan sebuah misteri.
***
Satu mangkok bakso sudah habis dilahap Arya. Kali ini, suasana hati dan pikiran Arya terasa lebih fresh. Ia duduk di balai-balai depan Vila. Beberapa sahabat Arya juga terlihat sedang duduk sembari menikmati suasana.
Arya menatap jauh ke arah gunung yang menjulang kokoh di depan sana. Pikirannya berjalan mengitari kilasan mimpi yang kembali muncul dalam penglihatannya. Trauma akan masa lalu mengenai kemampuannya itu, membuat Arya menutup diri akan pertemanan dengan orang-orang sekitar. Setelah hampir satu semester Arya mendapatkan pengalaman baru, bersama teman-teman barunya. Namun sungguh sangat tidak terduga, Arya kembali mendapatkan penglihatan kilasan peristiwa masa yang akan datang, melalui mimpinya.
Tatapan mata Arya beralih ke arah langit yang terlihat mendung. Awan gelap menggumpal seakan ingin melahap semua yang ada di Bumi. Arya pun mengajak Reno dan Aji untuk kembali ke dalam Vila milik kedua orang tua Raina. Paling tidak, duduk di teras Vila sembari menikmati secangkir kopi.
Namun, apa yang terjadi ketika baru saja mereka beranjak dan melangkahkan kaki. Arya melihat gumpalan awan gelap itu dengan cepat turun ke Bumi diiringi tiupan angin yang sangat kencang membentuk sebuah pusaran besar yang mampu menghisap apa saja hingga masuk ke dalamnya.
“Awas! Lari!” Arya berteriak mengingatkan semua sahabatnya untuk berlindung dan lari dari sana. Namun, upaya Arya tampaknya terlambat. Ia melihat Reno dan Aji tersedot masuk ke dalam pusaran itu.
“Arya ....” teriakan Aji dan Reno terdengar membahana ke telinga Arya.
“Astaga! Reno! Aji!” Arya hanya dapat mematung menatap semua itu. Dirinya pun bingung di antara ingin menolong tapi tidak mengerti bagaimana caranya.
Tak lama berselang, semua sahabat Arya masuk ke dalam pusaran hitam itu. Arya merasa semua yang masuk ke sana seperti memasuki suatu lorong waktu, yang akan mengabtarkan mereka sampai ke dimensi negeri antah berantah.
Arya kembali berteriak, mengejar pusaran itu, hingga dirinya terkejut.
“Arya!” suara Syila membangunkan Arya dari mimpinya.
Mata Arya terbelalak bersama deru napas yang masih memburu. Ia terkejut lantaran melihat semua teman-temannya menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Kamu ngelindur? Mimpi buruk?” Syila penasaran dengan apa yang terjadi dengan Arya.
“A—aku? Mimpi buruk.” Arya berusaha mengatur napasnya.
***
Bersambung ...
Apa yang sebenarnya terjadi dengan puzzle mimpi itu? Apakah Arya bisa mengungkapkan pesan yang tersirat dalam puzzles mimpi itu?