Rencana liburan tahun baru di Villa milik kedua orang tua Raina, membuat Arya tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan keterkaitan liburan itu dengan mimpi Arya yang belakangan ini sering muncul menghantui hidupnya.
‘Aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata malam ini. Aku selalu teringat pada kilasan mimpi yang selalu menghantuiku. Aku benar-benar takut kalau apa yang aku lihat dalam mimpiku menjadi kenyataan. Karena yang aku lihat dalam mimpiku satu persatu dari sahabatku masuk ke dalam pusaran hitam itu saat kami berada di Villa milik Raina. Aku tidak bisa menolak ajakan mereka. Jika aku mengungkapkan apa yang ada dalam mimpiku kepada mereka, aku yakin mereka tidak akan mempercayainya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Semoga sebelum hal itu terjadi aku bisa mencegahnya! Itulah alasanku mau ikut berlibur bersama mereka di Villa milik kedua orang tua Raina,' waktu sudah menunjukkan dini hari. Namun Arya masih gelisah pikirannya tidak tenang dan selalu memikirkan keselamatan keenam sahabatnya.
Arya hanya berguling ke sana kemari. Mencoba memejamkan mata, tetapi tetap tidak bisa. Dadanya berdebar seiring teringat kembali akan mimpi buruk yang menyiratkan pesan di balik itu semua. Raganya lelah, pikirannya gundah, itulah yang dirasakan Arya malam ini. Karena esok mereka akan berangkat ke Puncak.
***
Pagi yang sangat cerah, tidak menyiratkan suasana hati Arya yang tengah dilanda gundah. Ingin menceritakan kepada ibunya, tetapi Arya tidak mau membuat ibunya khawatir. Sehingga Arya bertekad untuk mencegah peristiwa yang muncul dalam kilasan mimpinya itu.
Berbekal tas ransel yang berisi pakaian ganti serta beberapa perlengkapan milik Arya yang lain, Arya berjalan ke ruang makan. Setelah sarapan, Arya berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke Puncak dan menginap di sana satu malam.
“Bu, Ayah. Arya sekalian pamit mau menginap di villa milik orang tua Raina di Puncak. Ya besok juga sudah pulang lagi. Kita bertujuh hanya ingin menikmati suasana baru, pengalaman seru tahun baruan di Puncak.” Arya begitu terlihat bersemangat padahal yang terjadi dalam hatinya adalah rasa resah yang berkepanjangan, sampai detik ini Arya belum bisa memecahkan teka-teki yang muncul dalam mimpinya itu.
“Kalian kan sudah pada dewasa, jadi ingat! Jangan berbuat yang macam-macam! Boleh kalian menginap di villa itu, untuk sekadar menikmati suasana pergantian tahun baru. Tapi ingat! Selalu melakukan hal yang positif! No drugs! No pergaulan bebas! Ingat pesan Ibu, ya!” Sasmitha sudah memberikan peringatan kepada putranya.
“Ingat pesan Ibu kamu Arya! Ayah nggak mau kalau kamu melakukan hal yang tidak baik!” Ayahnya juga memberikan peringatan kepada Arya dan mendukung istrinya.
“Iya Ayah, Ibu, Arya janji selalu bertindak baik. Semoga malam tahun baru yang akan kami lalui bersama-sama, akan berjalan dengan hikmat dan menyenangkan.” sejujurnya dalam benak Arya, menggelayut perasaan resah yang begitu menguras energi. Dia takut kalau apa yang ada dalam mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Arya juga tidak memungkiri kalau dirinya hanya manusia biasa yang hanya meminta pertolongan dari Tuhan. Sehingga Arya terus berdoa kalau dirinya bisa mencegah peristiwa mengerikan yang ada di dalam mimpinya.
Arya mulai berjalan ke arah garasi. Dia memanaskan mesin motornya, sebelum berangkat menuju rumah Raina. Arya sedikit melamun, ketika dirinya menarik tuas gas motornya. Iya benar-benar merasa takut dan mencoba memberanikan diri untuk pergi bersama sahabat-sahabatnya.
‘Semoga semua baik-baik saja. Jika memang takdir menentukan peristiwa itu terjadi, maka aku harus bisa mencari jalan keluarnya,' ujarnya dalam hati dan bertekad untuk tetap melindungi semua sahabatnya.
***
Arya mulai Melajukan motornya membelah jalanan ibukota menuju rumah Raina. Deru aspal jalanan seolah menjadi saksi perjuangan Arya dalam memecahkan pesan yang tersirat di dalam mimpinya. Sepanjang perjalanan, Arya terus berpikir dan memfokuskan pikirannya untuk terus berusaha memecahkan pesan tersebut. Arya mencurigai salah satu dari tiga sahabat perempuannya yaitu memiliki kekuatan supranatural seperti pusaran kegelapan. Arya takut mereka masuk ke dalam dimensi lain dan tidak bisa menemukan jalan pulang. Terlebih lagi jika mereka semua berpencar di sana.
Setelah 45 menit perjalanan menuju rumah Raina. Akhirnya Arya tiba di sana diiringi sambutan penuh senyuman dari semua sahabatnya.
“Nah ini, aktor kita sudah datang!” celetuk Reno menanggapi kehadiran Arya.
“Iya, Bro! Nggak biasanya kamu datang terlambat, Bro!” Aji ikut berkomentar karena memang bukan kebiasaan Arya untuk datang terlambat.
“Maaf ya, Guys! Soalnya aku bangun kesiangan l, biasa semalaman nggak bisa tidur!” ada yang mengatakan jujur apa adanya tetapi dia tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada dirinya.
“Ehem Cieee ... nggak bisa tidur mikirin apa ya?” Reno kembali memberikan tanggapan.
“Ada deh!” Arya menanggapi seakan dirinya terlihat bercanda, padahal kenyataannya semalaman Arya terjaga dan tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
“Sssttt! Tuh kan Ngga, bener kan? Si Arya nggak bisa tidur semalaman, apalagi kalau bukan mikirin cewek!” Reno berbisik lagi kepada Angga, ia justru berpikir bahwa Arya sedang jatuh cinta.
“Kamu ini ada-ada aja! Nggak usah ikut campur lah sama kehidupan pribadi Mereka! Biarin aja si Arya mau jatuh cinta, urusan dia.” Angga malas menanggapi mengenai privasi Arya.
“Nah karena semuanya udah kumpul gimana kalau kita berangkat sekarang?” Raina terlihat sangat berbinar-binar dan bersemangat. Raina sengaja menyewa travel untuk mengantar mereka sampai di Puncak.
“Beruntung banget, Rai! Punya sahabat kayak kamu! Akhirnya aku bisa merasakan liburan malam tahun baru di Puncak, kayak orang-orang.” Dari semua personal, Reno paling terlihat bahagia. Karena dia memang belum pernah merasakan keseruan liburan malam tahun baru di Puncak.
“Rai, lebih baik kita langsung berangkat aja biar nanti nggak kena macet dan bisa lebih cepat sampai di sana.” Syila yang terlihat antusias ingin memulai petualangan mereka.
“Sebelum berangkat kita berdoa dulu sesuai dengan agama dan dan kepercayaan masing-masing! Karena kita berharap kita berangkat dengan selamat dan pulang pun dengan selamat! Liburan malam tahun baru kali ini bisa mempererat persahabatan kita.” Arya mengingatkan kepada semuanya untuk memulai perjalanan ini doa.
***
Setelah menempuh sekitar kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di villa milik orang tua Raina. Ternyata kedatangan mereka sudah disambut oleh seorang asisten rumah tangga dan suaminya yang menjadi tukang kebun di villa milik orang tua Raina.
Mereka beristirahat sembari duduk di depan teras villa itu. Beberapa dari mereka ikut membantu membawa barang bawaan mereka ke dalam Vila. Mereka adalah Raina, Syila, dan Arya.
“Ceu, tolong bantu temen Raina, ya! Untuk yang laki-laki, semua barang bawaannya dibawa ke kamar belakang ya, Ceu! Soalnya kamar belakang lebih luas dan nanti mereka bisa tidur menggunakan kasur tambahan,” perintah Raina Ceu Euis.
“Muhun atuh, Neng. Biar nanti kang Juned yang bantu saya. Neng sama teman-temannya istirahat saja! Sudah saya siapin camilan sama teh manis hangatnya, kan neng Raina baru sampai. Biar nanti Eceu sama Kang Juned yang melaksanakan tugas.” Euis merasa bertanggung jawab mengemban tugasnya sebagai asisten rumah tangga.
“Ceu! Ya sudah kalau begitu, tas yang ini punya sahabat Raina yang perempuan dibawa ke kamar depan ya! Nanti Ceu Euis siapin juga perlengkapan yang buat bakar-bakaran. Sama yang lain-lain juga ya nanti Ceu Euis sama kang Juned tidur di sini ya nemenin Raina sama temen-temen!” Rina merasa aman jika kedua asisten rumah tangganya ikut menginap malam itu.
“Muhun, Neng! Kalau begitu saya permisi dulu buat nyiapin semuanya.” Ceu Euis langsung melaksanakan tugasnya.
“Rai, yang lain suruh masuk ke dalam?” Syila merasa betah berada di vila itu. Dia juga merasa dekat dengan Raina dan juga Mikha.
‘Dari semua sahabat perempuanku yang terlihat pasif hanya Mikha. Tapi aku rasa Dia seolah memperhatikan kegiatan kita, atau jangan-jangan ... Sudahlah mengapa aku jadi mencurigai sahabat sahabatku sendiri? Ini yang aku takutkan ketika aku sudah membuka hati untuk memulai pertemanan baru tapi justru puzzles mimpi tentang suatu peristiwa yang akan terjadi muncul lagi dalam tidurku, akhirnya aku mencurigai orang-orang terdekat sebagai dalang atau penyebabnya. Sebenarnya aku tidak mau menduga-duga seperti itu, tapi kehadiran mimpi yang muncul belakangan ini membuatku merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Tapi sebaiknya aku tidak mencurigai mereka terlalu berlebihan. Aku menikmati saja momen kebersamaan ini daripada aku terus dihantui perasaan takut,' gumam Arya dalam hatinya sembari melirik ke arah Mikha.
“Arya? Ngapain lihatin aku kayak gitu?” Mikha menyadari kalau area memperhatikan dirinya seolah-olah sedang menerawang masa lalunya.
“Oh!! Enggak! Nggak apa-apa kok!” Arya langsung pergi menjauh dari mereka. Mika dan Syila hanya saling menatap, lalu tersenyum karena kelakuan aneh Arya.
Arya berusaha melepas penat yang beberapa waktu ini terus mengganggunya. Arya merasa ide Raina untuk liburan bersama sahabat kepompong, sangat berguna untuk Arya yang memang sedang ingin melepas kepenatan setelah Puzzles mimpi itu datang lagi menghantuinya.
Arya berjalan-jalan menyusuri setiap jengkal villa milik kedua orang tua Raina. Di lantai satu, terdapat tiga kamar, ruang makan yang langsung tehubung ke arah taman di samping villa. Terdapat dua buah kamar mandi, dapur ruang keluarga, dan ruang tamu. Sedangkan di lantai dua terdapat satu kamar, ruang baca, dan juga taman kecil di balkon atas. villa yang lumayan besar dengan bangunan yang eksotis juga pemandangan yang asri membuat Arya sedikit bisa melupakan puzzle mimpi yang belakangan ini datang menghantuinya.
***
Siang telah berganti malam, mereka sudah siap untuk mengadakan acara barbeque di taman sebelah ruang makan villa itu. Mereka semua sibuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan masak yang dibakar saat mereka menunggu pergantian tahun baru.
Raina terlihat sangat bahagia. Roman mukanya menyiratkan kebahagiaan yang telah lama ia rindukan. Syila Si Gadis ceria terlihat sangat antusias untuk ikut membakar beberapa jagung yang sudah disiapkan oleh Angga. Mikha si gadis Kanebo yang biasanya cuek dan jarang tersenyum, malam itu memperlihatkan senyuman manisnya, ketika melihat Raina tersenyum bahagia, serta melihat tingkah kocak Reno dan Aji. Arya memperhatikan mereka satu persatu.
‘Melihat kebersamaan kami, membuat aku merasa kalau mereka semua tidak memiliki kekuatan supranatural yang berbahaya yang bisa membahayakan kita semua. Melihat Mereka ceria membuatku merasa tenang. Mungkin aku terlalu naif dan aku terlalu jahat kalau sampai menduga salah satu dari kita adalah penyebabnya. Penyebab petaka yang membawa kita semua ke dalam sebuah pusaran gelap menuju ke dimensi lain. Atau mungkin mimpi itu datang, karena rasa ketakutanku? Takut kehilangan sahabat terdekat seperti waktu aku kehilangan Nikita. Ya! Mungkin benar, karena ketakutanku saja. Buktinya semua baik-baik saja, bahkan keceriaan justru menyelimuti suasana hati kami,' Arya kembali berbicara dalam hatinya sembari memperhatikan semua sahabat yang tengah berbahagia menikmati suasana menjelang pergantian malam tahun baru itu. Tidak terasa bibir Arya mengulas senyum ketika melihat keseruan mereka.
Waktu terus berjalan mendekati dini hari. Acara barbeque masih berjalan sembari mereka menunggu kembang api yang biasanya terdengar dan berpendar indah di antara langit malam. Arya menghirup napas lega karena setelah sekian lama mereka berada di sana, buktinya mereka baik-baik saja.
Arya menatap langit malam yang bertabur bintang membuat hatinya merasa damai. Semilir angin malam bersama kabut tipis yang sedikit turun dari pegunungan, menambah keasrian suasana. Arya merasa nyaman dan betah berada di sana. Arya kembali menghirup napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Arya! Tolong ambilkan bumbu barbeque yang ada di dapur! Jangan lama-lama ya!” Mikha Si Gadis Kanebo tiba-tiba datang ke hadapan Arya untuk meminta tolong kepadanya agar mengambilkan bumbu barbeque yang sudah habis.
“Oh oke deh! Ada Ceu Euis kan?” Arya tidak tahu tempat penyimpanan bumbu barbeque itu.
“Ada di belakang!” Mikha pergi begitu saja, seperti biasanya tanpa senyuman seperti yang tadi Arya lihat.
‘Memang aneh! Baiklah aku akan mengambilkan bumbu barbeque itu biar mereka bahagia dan semakin seru,' batinnya sembari bergegas membawa mangkok ke dapur.
Arya berjalan menuju dapur. Langkahnya mengantarkan Arya ke ruang dapur di villa itu. Di sana ada Ceu Euis dan kang Juned yang sedang menonton acara televisi. Arya meminta bantuan mereka untuk mengambil bumbu barbeque itu, karena Arya tidak mengetahui tempat penyimpanannya.
“Ceu, maaf mau tanya ... kalau bumbu barbeque di mana ya? Soalnya masih mau barbeque-an tapi sausnya habis.” dengan ramah Arya meminta bantuan Ceu Euis.
“Kadieu, Den! Tong cicing ulah kamana-mana! Biar saya ambilkan dulu ya!” Euis mengambilkan bumbu itu di dapur. Kemudian kang Juned berpamitan kepada sang istri untuk kembali ke rumah karena ponsel kang Juned Tertinggal. Sehingga Ceu Euis ada di ruang belakang villa itu sendirian, setelah Arya kembali berjalan ke taman samping ruang makan itu.
“Kok sepi ... pada kemana?” Arya melihat suasana taman itu menjadi sepi, hanya menyisakan bahan makanan yang masih belum selesai dimasak semua. Arya terlihat bingung. Dia berdiri di depan pintu ruang makan. Pandangannya mengedar menelisik keberadaan teman-temannya yang tiba-tiba hilang misterius.
***
Bersambung ...
Kira-kira ke mana perginya mereka? Apakah mimpi Arya menjadi kenyataan?