Puzzles 12. Rencana Liburan Tahun Baru

1831 Kata
Setelah lelah karena semalaman Arya menyelami masa lalu keenam sahabatnya, hari ini Dia terlihat sangat lesu ketika pergi ke kampus. Keenam sahabatnya menyadari ada sesuatu yang berbeda dari diri Arya. Mereka mencoba menghibur Arya yang terlihat lebih diam dari biasanya. Namun Arya menanggapi dengan biasa, bukan karena tidak menyukai hiburan yang disuguhkan oleh keenam sahabatnya. Melainkan dia merasa takut kalau puzzle mimpi yang selalu hadir dalam tidurnya menjadi kenyataan. Arya sedang mencari tahu bagaimana latar belakang dari ketiga sahabat perempuannya itu. Melalui data yang ada di arsip perpustakaan kampus. Di sana tidak terlalu banyak keterangan mengenai data diri pribadi mereka. Hanya ada alamat rumah tempat tinggal mereka. Sedangkan Arya sudah mengetahui rumah Raina, dia memang tinggal seorang diri bersama asisten rumah tangga yang selalu menemaninya, karena kedua orang tua Raina sibuk bekerja di luar negeri. Kemudian Arya mencoba mencari tahu keberadaan rumah Syila. Tempat tinggalnya masih di Jakarta, lumayan jauh dari kediaman Raina. Ternyata Syila juga sering kesepian dan merasa sendirian di rumahnya, karena hanya ditemani seorang asisten rumah tangga dan tukang kebun yang merupakan sepasang suami istri. Kedua orang tuanya sibuk bekerja. Kedua orang tua Syila memang bekerja di Jakarta. Namun, mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing. Ayah Syila menjadi seorang pimpinan perusahaan, salah satu anak cabang perusahaan milik kakek Syila. Sedangkan ibunya pemilik butik. Beliau sangat sibuk mengurusi butiknya serta pelanggan yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Sehingga Syila sering tinggal di rumah sendirian dan ditemani asisten rumah tangganya. Arya juga menyelidiki tempat tinggal Mikha. Ternyata dia tinggal di sebuah panti asuhan di luar kota. Sedangkan di Jakarta, Mikha hanya tinggal di sebuah rumah kos yang sederhana. Arya juga tidak menyangka kalau ternyata Mikha memiliki masa lalu yang menyedihkan, karena kedua orang tuanya sudah tidak ada, sehingga dia harus tinggal di panti asuhan. Arya menyelidiki latar belakang mereka, karena dalam mimpinya, ketiga sahabat perempuannya itu menyimpan sebuah misteri yang sulit untuk Arya pecahkan. Ketiganya diduga memiliki latar belakang kekuatan supranatural. Sehingga Arya terjun langsung melihat kenyataan untuk menelisik masa lalu mereka secara diam-diam. *** Perubahan sikap Arya dirasakan oleh keenam sahabatnya hingga mereka selesai melaksanakan ujian semester ganjil. Seperti hari ini yang merupakan hari terakhir mereka melaksanakan ujian semester. Ketujuh muda-mudi yang tengah berasap di kepalanya, mencoba beristirahat di kantin, tidak terkecuali Arya. Mereka berada dalam formasi lengkap tujuh Sahabat Kepompong. Hiruk pikuk mahasiswa yang tengah beristirahat sembari menyantap beberapa kudapan di kantin, membuat Arya leluasa untuk mengamati gerak-gerik ketiga sahabat perempuannya itu. Namun hal itu disadari oleh Reno. “Sssttt!” bisik Reno kepada Angga. “Apaan, Ren?” Jawab Angga dengan wajah polosnya. “Kamu lihat deh! Si Arya! Sejak kita pergi ke Puncak waktu itu, dia jadi sering melamun, jadi pendiam, seperti orang yang sedang galau! Kamu nyadar kan?” bisik Reno pada Angga lagi. “Ya ... iya sih. Sejak pulang dari Puncak memang si Arya jadi agak berubah gitu. Tapi lagi nggak ada urusan sama kamu kan?” Angga mencurigai sesuatu, kalau tabiat Reno yang suka meminjam barang teman-temannya membuat Arya merasa kesal. “Ya, enggak dong! Aku memang tukang minjem barang orang, tapi aku nggak ngeselin kok! Justru aku lagi ngasih tahu kamu! Kalau si Arya, kelihatan kayak orang lagi jatuh cinta!” bisik Reno kepada Angga sembari memperhatikan gerak-gerik Arya. “Jatuh cinta bagaimana? Jangan ngadi-ngadi deh!” Angga merasa kesal terhadap Reno yang sering menebak-nebak perasaan orang. “Tuh, lihat deh! Si Arya dari tadi memperhatikan tiga cewek sahabat kita! Kayaknya nih, ada something sama mereka bertiga tuh si Arya. Bisa jadi nih, ada cinta segi empat tuh di antara mereka!” Reno yang berusaha meyakinkan Angga dengan jalan pikirannya. “Hus! Ngawur kamu! Kan kalau si Arya lagi ada masalah bukan berarti si Arya lagi jatuh cinta sama ketiganya dong! Atau mau aku tanyain aja nih?” Angga paling malas jika harus menebak-nebak sesuatu. “Ya ampun, Angga! Ya jangan nanya juga, kali, Angga! Ini kan aku lagi mengira-ira gitu loh! Soalnya si Arya sikapnya beda banget, nggak seperti pas awal kita kenal dia,' sahut Reno lagi. “Ya kan, nggak semua permasalahan mereka bisa di ceritakan ke kita begitu saja! Setiap orang kan punya privasi, Ren! Jangan berpikir negatif dulu! mungkin saja si Arya punya masalah di rumah, terus kebetulan si Arya lagi memperhatikan sahabat kita yang cewek-cewek itu! Ya nggak melulu jatuh cinta sih, tapi kalau memang jatuh cinta beneran, terus kamu kenapa? Masalah? Keberatan?” Angga justru merasa curiga kalau Reno yang memiliki perasaan kepada salah satu dari sahabat perempuan mereka itu. Angga melirik tajam ke arah Reno. “Soalnya, Ngga! dari yang udah-udah kalau kita sahabatan sama cewek, satu geng pula, kayak kita gini, terus di antara kita ada yang jatuh cinta atau punya perasaan ke salah satunya itu, ujung-ujungnya enggak enak jadinya! Pasti nanti ada perselisihan! Aku nggak mau lah kalau kita sampai berselisih kayak gitu! Iya kan, Angga?” Reno kembali memberi penjelasan apa yang dimaksud oleh Reno. “Iya juga sih! Tapi semoga saja masalah yang sedang Arya hadapi, bukan masalah cinta segitiga sama cewek-cewek di geng kita, ya!” Angga juga berharap kalau Arya tidak memiliki masalah dengan sahabat satu geng mereka. “Amin! Semoga aja sih bukan masalah itu ya, Bro! Soalnya Arya orangnya tertutup sih, nggak kayak aku apa-apa curhat deh sama kalian!” Reno menggaruk kepalanya karena terasa gatal mendadak. “Yah! itu sih kamu, Ren! Kalau nggak kayak gitu namanya bukan Reno! Tapi Arya!” Angga justru tertawa melihat ekspresi Reno yang terkejut dengan pernyataan Angga. Mereka terus bercerita satu sama lain. Namun Arya masih terlihat diam dan seakan memikirkan sesuatu hal. Mereka menyadari hal itu tapi enggan untuk ikut campur karena Arya tidak menceritakan kepada mereka. Padahal sikap Arya berubah bukan tanpa alasan. Melainkan kan dia merasa harus memecahkan suatu teka-teki karena dia tidak mau hal buruk menimpa keenam sahabatnya. Itulah alasannya Arya menjadi lebih diam dari sebelumnya. Raina adalah salah satu sahabat paling dekat dengan Arya. Dia mulai menyadari perubahan sikap Arya yang lebih tertutup dan diam belum lama ini. Raina memiliki sebuah inisiatif untuk keenam sahabatnya. ‘Arya sebenarnya kenapa sih? Belakangan ini aku menyadari perubahan sikapnya. Mungkin temen-temen butuh refreshing?’ Raina memiliki ide yang muncul begitu saja dalam pikirannya. “Hai, Guys! Liburan semester ini kalian ada acara apa?” Raina berusaha memancing perbincangan seputar liburan mereka. “Liburanku ya paling mudik ke kampung, Rai! Balik lagi jadi tukang kebun sama merawat burung perkutut piaraan Bapak. Ya begitulah kalau aku pulang ke kampung, gimana lagi!” ujar Reno setengah berputus asa. “Udah, Ren! Nikmati aja! Pahala loh bantuin orang tua.” Aji menahan tawa karena melihat ekspresi Reno. “Bantuin orang tua sih aku nggak masalah, Tapi ya rutinitasnya ... yang seperti itu- aja! Monoton di rumah terus ditambah kantong tipis, Guys!” Reno tertawa dan mengatakan jujur apa adanya. “Kalau aku sih liburan pasti senang banget! Apalagi menjelang tahun baru seperti saat ini! Banyak turis yang datang ke tempatku! Aku biasa jadi guide buat mereka untuk belajar berselancar di pantai. Lumayan ngasilin cuan!” Angga justru merasa senang berbalik 180 derajat dengan Reno. “Kalau kalian nggak ada acara pasti aku bakal nyari paket liburan ke wilayah Semeru, pokoknya aku pengen banget bermalam di danau Ranu Kumbolo.” Aji Sang petualang justru bersemangat untuk mencari paket liburan ke wilayah gunung Semeru. “Kalau aku sih mungkin di rumah aja, nunggu Mama sama Papa pulang, itu juga kalau mereka nggak sibuk. Biasanya akhir tahun kantor mereka selalu sibuk buat rekap tutup buku tahunan, paling ya ... nonton TV lah lumayan kan banyak acara seru tuh musik dan film.” Syila gadis periang dengan hati yang begitu lembut. Berencana untuk di rumah saja. “Kalau aku nggak ada acara,'” tegas Mikha si gadis Kanebo. ‘Kenapa Raina menanyakan hal itu sama kita? Jujur puzzle mimpi yang belakangan ini selalu muncul dalam tidurku, benar-benar membuatku takut, dan bingung tentang pesan yang tersirat di dalamnya. Apa maksud dari mimpi itu? Sampai detik ini aku belum menemukan titik terang. Namun satu hal yang pasti, kekuatan besar itu berasal dari salah satu di antara kita,' ucap Arya dalam hatinya sembari melamun dengan tatapan yang kosong. “Bro! Situ mau ke mana? Liburan tahun baru ini, hah? Perasaan kamu sering melamun belakangan ini? kenapa sih?” Reno merasa gemas melihat perubahan sikap Arya. Karena Reno dan semua sahabat Arya tidak ada yang mengetahui kemampuan supranatural Arya yang dapat menyelami masa lalu mereka dan orang lain melalui mimpinya, ia juga dapat melihat kilasan peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang yang akan melibatkan orang lain yang muncul dalam mimpinya itu. Hal ini menjadi di beban dalam benak Arya. Itulah mengapa Arya menjadi memilih diam. “Aku nggak kenapa-napa sih, belum ada rencana apa-apa juga,” jawab Arya dengan singkat dan jujur. “Sebenarnya aku punya satu rencana, tapi kalau kalian setuju sih!” ucap Raina dengan wajah yang penuh harap kalau keenam sahabatnya menyetujui dan mau ikut dengan rencana Raina. “Rencana apaan?” Reno merasa penasaran dan karena Reno memang tidak ada acara lain menjelang tahun baru ini. “Rencananya Aku mau ngajakin kalian tahun baruan di Villa kemarin yang ada di Puncak, Villa milik papaku. Itu sih kalau kalian mau, nanti kita pergi ke sana pas tanggal 31 pagi biar nggak kena macet. Terus kita malam tahun baruan di Villa! Bisa barbeque-an, karaokean, main game, banyak deh! Nanti asisten rumah tangga yang mengurus Villla bisa menemani kita selama kita ada di sana. Bakar bakaran jagung kayaknya seru tuh! Tapi kalau kalian setuju sih!” Raina mengungkapkan gagasannya kepada semua sahabatnya tentang rencana liburan tahun baru di Villa milik Papanya yang berada di Puncak yang pernah mereka kunjungi waktu itu. “Wah ide bagus tuh kebetulan banget aku nggak ada rencana apa-apa sih! kalau aku sih, yes! gimana yang lain?” Reno berharap yang lain juga ikut mendukung rencana Raina. “Aku yes! karena mungkin trip ke gunung Semeru bisa lain kali tapi kalau momen kebersamaan tahun baru sama kalian itu bakal sulit untuk aku tolak.” Aji menyetujui juga rencana dari Raina. “Aku juga setuju, cari cuan bisa setelah itu pasti banyak kok turis yang bakal datang ke tempatku lumayan untuk mengisi waktu liburan dengan hal positif.” Angga sang idola juga menyetujui rencana Raina. “Kita juga mau, ya kan, Mikha?” Syila merasa senang dengan rencana Raina untuk malam tahun baruan di Puncak. “Kalau kamu gimana, Arya?” tanya Raina lirih. “Aku?” Arya menghentikan ucapannya sejenak. ‘Aku benar-benar takut kalau apa yang ada dalam mimpiku akan terjadi!’ Arya kembali melamun dengan tatapan yang kosong dan belum menjawab apa pun yang lebih pasti atas pertanyaan Raina. “Arya?” Raina kembali memanggil Arya yang terlihat melamun. “Oh? aku iya! Iya Rai aku ikut!” Arya tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui rencana Raina. Karena Arya takut di sanalah tempat terjadinya sebuah petaka itu. *** Bersambung .... Apakah kilasan penglihatan di dalam mimpi Arya benar-benar menjadi kenyataan? Lalu apa yang akan terjadi saat liburan tahun baru itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN