Anne menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk. Darrel benar-benar menguras tenaganya sampai ia pingsan. Entah, bagaimana caranya ia berada di kamarnya sendiri. Ia tidak tahu dan tidak perduli. Bahkan jika pria itu yang memindahkannya pun ia juga tidak perduli. Anne percaya, bukan karena pria itu peduli pula. Melainkan mencegah terbongkarnya kelakuan bejatnya tentunya.
"Ugh," ringis Anne sebelum beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Pangkal pahanya terasa nyeri. Matanya pun susah terbuka. Berat. Mungkin bengkak.
"Perempuan nakal" Tubuh Anne menegang, tapi ia tidak berniat menghentikan langkah kakinya. Tidak lagi ada rasa malu. Tubuhnya, pria itu sudah melihat bahkan merasakannya. Apalagi, Anne merasa tidak ada harga dirinya, tak ubahnya seorang jalang. Jika ada sebutan lebih rendah dari itu, Anne akan memasukkan daftar namanya ke sana.
"Berhenti di sana, Anne." Tepat di depan pintu kamar mandi Anne berhenti melangkah. Mata indahnya tertutup saat derap langkah kaki menuju kearahnya.
Merasa tangan di kedua sisi kepalanya serta kecupan di bibir tiba-tiba. Anne terpaksa membuka matanya, memicing tak suka pada sosok yang sudah berdiri di depannya.
"Apa maumu?" Anne membalik tubuhnya, menatap pria yang tengah memunggunginya.
Tubuh itu bergetar, tertawa. Seolah mengejek dirinya.
"Tidak ada."
Anne menggeram, kedua tangan di masing-masing tubuhnya terkepal, "Kalau begitu, pergilah!" usir Anne.
Punggung tegap dan lebar khas pria yang selalu menjaga tubuhnya dengan berolahraga itu berbalik.
Sepasang mata menggelap, syarat akan kemarahan. Menyalurkan getaran rasa takut pada diri Anne.
"Kau..mengusirku." Perkataan penuh penekanan Anne dapatkan, ingin rasanya ia menutup pintu kamar mandi untuk menghindari pria itu. Pria yang telah mengambil paksa kesuciannya dan menjadikan dirinya seperti boneka seks. Namun, sayang. Tubuhnya mendadak kaku untuk sekedar digerakkan.
"...di rumahku sendiri." Pria itu-Darrel- menatap intens Anne. "Sulit dipercaya," lanjutnya.
Darrel melangkah, mendekat pada sosok Anne yang tak berdaya dengan dinding yang menghalau Anne bergerak mundur lebih jauh lagi.
Braakk..
Pintu kamar mandi ditutup kasar oleh Darrel. Ia kemudian menghimpit tubuh Anne.
Lalu menarik dagu wanita itu agar mendongak menatapnya. "Dengar. Apapun dan siapapun yang berada dalam wilayah ku, itu adalah milikku. Termasuk dirimu juga tubuhmu," ucap Darrel tepat di wajah Anne, mulut mereka hanya berjarak sekitar satu centi meter. Maju sedikit saja, akan kena. Percaya deh.
"Kau gila," desis Anne, ketakutannya telah hilang berganti amarah dan benci. "Aku bukan boneka mu!"
Tekanan keras di dagunya, Anne hiraukan. Ia berusaha keras menahan sakit.
"Ya, aku gila." Ujung bibir Darrel terangkat, ia menyeringai. Tapi tidak membuat jarak diantara mereka. Ia malah semakin mendekat, menekan tubuh Anne. Dorongan di d**a bukanlah apa-apa bagi Darrel. Tenaganya tentu lebih besar dari seorang perempuan. "Gila karena mu, Anne."
Lagi, mereka melakukannya lagi.
Kali ini, Anne bukan merasa takut kepergok. Ia hanya takut masuk lebih jauh ke dalam jurang dosa dengan hatinya.
Anne takut hatinya ikut terpengaruh dan bermain. Ia tak pernah memikirkan akan cinta terlarang terjadi dalam hidupnya, tidak sekalipun. Berharap akan tetap sama, sampai seseorang menawarkan uluran tangan padanya, membawa dirinya keluar dari jurang yang penuh dosa ini. adakah?
Anne terengah, nafasnya pun tercekat di tenggorokan. Gerakan liar Darrel sangat memabukkan. Membuat Anne lupa diri.
Begitu pun Darrel, ia merasakan hal yang sama. Hal yang akan membuat mereka melayang. Merasakan betapa nikmatnya surga dunia.
"Anne."
Keduanya mencapai puncak bersamaan. Bersatu padu atas kenikmatan yang dunia berikan pada keduanya.
***
Lucy memandang sendu meja makan di depannya. Sandwich buatannya diabaikan begitu saja.
Hatinya sesak. Bangun tidur seorang diri, bukan di kamar melainkan di home theater tempatnya menonton tadi malam.
Suaminya tidak memindahkannya. Sang adik pun sama. Keduanya menghilang saat ia bangun. Ia hanya bisa berfikiran positif untuk keduanya. Dua orang yang paling terdekatnya. Termasuk Darrel, suami yang dijodohkan dengannya oleh sang ayah.
Memang benar pertemuannya dengan Darrel dibilang cukup singkat. Tidak berarti Lucy tidak mengenal Darrel. Lucy cukup mengenalnya. Bagaimana tidak? Setiap halaman depan majalah, terpampang wajah Darrel dengan semua profil sekaligus aktifitasnya. Apa yang dikerjakan pria itu, selalu menjadi berita utama.
Pria dengan sejuta kesempurnaan. Para wanita menyebutnya begitu. Dalam diri Darrel hampir tidak ada celah sedikit pun, pemberitaan buruk pun tiada. Dia pria yang sempurna. Dan Lucy ingin menjadi bagian kesempurnaan Darrel. Menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak pria itu. Melengkapi kesempurnaan pria itu dengan kebahagiaan yang melimpah. Mungkinkah?
Sampai saat ini Lucy masih ragu. Statusnya memang istri seorang Darrel. Tapi ia merasa tidak seperti itu. Pikirkan, seorang istri yang masih gadis, konyol. Semua orang pasti menertawakan nasibnya.
Meski satu minggu sebelum menikah, mereka sering bertemu di jam makan siang, untuk saling mengobrol dan mengenal. Semuanya masih belum cukup, apalagi diobrolan itu hanya Lucy yang mendominasi, tidak dengan Darrel diam dan mendengar meski sesekali menanggapi singkat jika ditanya.
Layaknya manusia yang tidak pernah puas, itu lah yang Lucy rasakan. Darrel tetaplah Darrel yang sempurna, yang terasa jauh untuk dijangkau meski dekat.
Berdampingan dengan Darrel, Lucy merasa dirinya kecil. Meski begitu, ia tidak akan menyerah. Ia akan membuat dirinya pantas bersama seorang Darrel. Dan semua orang akan melihat mereka sebagai pasangan yang paling sempurna. Tak kan mudah terpisahkan. Ya, Lucy yakin ia bisa.
Bunyi langkah kaki membuyarkan lamunan Lucy, senyum terbit diwajahnya. "Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Lucy. Usai bangun tadi, ia mencari keberadaan Darrel dan adiknya. Lucy menemukan Darrel di ruang kerjanya, fokus pada pekerjaan. Sedangkan Anne, bergelung dibalik selimut.
"Hn," gumam Darrel.
Pria itu mendudukkan dirinya di ujung meja berdekatan dengan Lucy.
Gumaman singkat dari Darrel menohok hati Lucy. Lucy berfikir, Darrel akan meminta maaf padanya. Nyatanya tidak. Di meja makan pun Darrel sibuk sendiri dengan macbook nya. Tidak memperdulikan dirinya sama sekali.
Berusaha tegar, Lucy tetap mengembangkan senyumnya dan berfikir positif. Darrel lupa karena lelah dengan pekerjaannya.
"Pagi." Suara lemah itu menyapa.
"Anne, duduklah. Kita makan bersama."
Anne berdiri dengan tangan bertaut, kemudian duduk dihadapan Lucy. Jika bisa memilih, Anne ingin sekali berada di jarak jauh dari Darrel. Bukan berdekatan begini.
"Kenapa akhir-akhir ini kau memakai pakaian berleher tinggi, Anne?" pertanyaan spontan Lucy, menghentikan Anne menggigit Sandwich nya, mendadak wajahnya pucat. "Kau sakit? Matamu bengkak."
Anne bingung mencari jawaban, dari ujung matanya ia bisa melihat Darrel tersenyum licik padanya. Sangat tidak membantu.
"Ti-tidak,Kak. Aku hanya ingin saja memakai ini. Sayang, jika dibiarkan lama di lemari. Dan mataku ... Tadi malam aku mimpi buruk, mungkin tanpa sadar aku menangis," jawab Anne, disertai senyum yang dipaksakan. Benar, mimpi buruk yang tak seharusnya ada di hidupnya.
Lucy mengangguk lalu kembali memakan sarapannya sambil diam-diam menatap sang adik, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Kau tidak melupakan sesuatu, Anne?"
Anne sejenak diam, ia menatap bingung kakaknya. "Aku rasa tidak," jawab aneh tak acuh. Sejujurnya ia tidak berselera untuk terlalu banyak bicara.
Hati Lucy mencelos mendengarnya, sakit.
"Memang ada yang ku lupakan?" tanya balik Anne.
Lucy menggeleng. "Tidak." Ia berusaha tersenyum walau hatinya kecewa. Dua orang terdekatnya, melupakan dirinya. Ditinggal dalam ruangan gelap tanpa cahaya, sorotan cahaya satu-satunya berasal dari cahaya film pun telah mati. Cahaya pagi juga tidak dapat menemukan celah menembus dinding. Ia sendirian dalam gelap.
Kini dua orang yang tadi malam menemaninya, tengah berada tepat dihadapannya tidak merasa bersalah sedikitpun. Hati Lucy menjerit sakit karena kecewa.
***
Benar ya, sekali berbohong bisa keterusan.
Jangan salahkan curiga dan kepercayaan kalau gitu.
***
Jangan menerima ruang dan memberi ruang untuk orang lain masuk ke dalam rumah tanggamu.
Jika tidak mampu membahagiakan satu wanita, jangan berpikir menambah satu wanita lagi. Sikapmu hanya menyengsarakan.
Bukan tentang menjaga dan dijaga, tapi bagaimana caranya kamu mempertahankan janjimu pada Tuhan.