Ternyata, bukan mantan sekelas keturunan Yeosman yang membuat aku minder, melainkan seorang gadis sangat sedergana dan anggun seperti si Amira-Amira ini. Aku bisa lihat gambaran pasangan sempurna hanya dengan melihat mereka berdua ngobrol santai hadap-hadapan. Dua-duanya sederhana, dua-duanya kelihatan kalem, dua-duanya kelihatan cerdas, dua-duanya kelihatan nyambung. Huh, apalah yang kalau ngobrol sama Pak Anggit kadang dibikin salah paham dulu, meskipun sudah nggak separah dulu salah pahamnya. Pak Anggit pasti capek banget menghadapi tingkahku yang suka sengaja sok ngambek biar dia perhatian. Aku juga nggak pintar-pintar amat buat diajak tukar pikiran topik tertentu, buktinya tadi dia dengan entengnya bilang 'kamu nggak perlu tahu'. Ngenes, sih. Tapi aku kembali ke keyakinan, kalau pa

