"Krisss bangunnnn."
"Woiii ah elahh udah pagiii."
"hmm... 5 menit lagi , dik."
"Ah bodo amat lah, gue mau berangkat , kalo telat jangan salahin gue ya."
"Hmm sayang dika."
"Najis gay, gue bilangin cewek lo ye."
Kristas langsung terbangun dan mencari ponselnya , Ia sangat takut bila Dika akan membuka ponselnya dan melihat obrolan bersama pacarnya.
"Nah bagus bangun, gue mandi dulu."
"Sialan lo . "
Ardika masuk ke dalam kamar mandi dan membuka bajunya. Ia mulai menyalakan kran air. Baru saja membasuh badannya Ia mematikan kran air kembali.
"Kris, gue bikin sandwich di meja! Makan nya satu jangan dua duanya."
"Yah udah abis Dik."
"Eh sial lo, gue ambil nih cewek lo."
"Ga jadi dik, jumlah nya malah nambah."
Ardika tertawa dan melanjutkan mandi. Setelah selesai mandi, Ia menyikat gigi, didepan nya ada cermin kecil, nampak sedikit d**a bidang nya .
Terlintas di pikirannya apakah lebih baik Ia menjadi model saja.
"Dik, cepetan mandi nya."
"Iyaa sabar !"
Dika segera menyelesaikan kegiatan nya dan keluar dari kamar mandi dengan telanjang d**a, Ia segera mencari baju di lemari dan mengenakan pakaian.
"Gak usah pamer lo."
"Biarin,sombong kali - kali biar lo olahraga."
"Halah... btw gue ada job deh buat lo."
Ardika yang sedang berpakaian tiba -tiba berhenti dan menatap Kris.
"Job apa Kris?"
"Sebenernya gue gak mau kasih tau lo, lo pasti langsung pengen ikutan. Job nya jadi bodyguard, gabung sama perusahaan pertahanan swasta."
"Iya kalo bisa nutupin biaya kuliah gue kenapa nggak, Kris."
"Tapi terlalu berbahaya, Dik."
"Kapan seleksinya?"
"Besok subuh."
"Ah gila gue belom latihan fisik. Kenapa lo baru ngasih tau sekarang ?"
"Iya karna terlalu berbahaya."
Ardika duduk di ranjangnya dan berhadapan dengan Kristas.
"Gue tahu Kris, ini berbahaya tapi gue coba kok buat hati - hati. Gue sudah melewati wajib militer, oh ya gue mendapat sabuk hitam di taekwondo gue rasa ini cukup untuk menambah persyaratan keahlian. Oh ya lo juga sering ngajak gue ke lapangan tembak kan? Lo tau keahlian gue kan?"
Ardika kini sudah berumur 22 tahun, lebih tua tiga tahun dari Kris. Dika mengambil wajib militer setelah sekolah menegah atas Ia selesaikan, Ia sempat mempunyai cita-cita bekerja di militer. Namun sayangnya mama nya tiba-tiba menghentikan mimpi tersebut karena tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
Kris akhirnya menyerahkan selembar kertas yang berisi pengumuman perekrut an rahasia yang Ia terima melalui email. Nampak beberapa persyaratan disana. Ardika membacanya secara sekilas.
“Dapat menyesuaikan dengan kehidupan sosial.”
“Terdapat cuti.”
“Fisik dan mental yang kuat.”
“Sangat dibutuhkan ketika suasana darurat.”
"Gue tidak menyarankan lo untuk ikut itu, pasti capek banget ya walaupun sebenernya nge bosenin juga karna lo cuman berdiri di dekat orang penting, tapi latihan fisik dan kalo ada bahaya yang bisa bikin lo capek. Inget dik, mama lo pengen banget lo jadi dokter. Tapi ya kalo lo sanggup dan bisa jaga diri lo, gue silakan aja." Ucap Kristas pasrah, Ia berharap Dika tidak menanggapi serius tawaran tersebut.
***
Dika membereskan laporan kerja praktikum hari ini , jam di tembok sudah menunjukan pukul tiga sore. Dosen penanggung jawab hendak meninggalkan laboratorium , namun langkahnya terhenti secara tiba - tiba.
"Sebentar, saya minta perhatiannya sebentar. "
Laboratorium yang tadinya dipenuhi suara kertas dan buku dirapikan seketika menjadi hening.
"Saya lupa memberikan tugas untuk dikumpul minggu depan, akan saya kirim melalui asisten dan sudah tertera anggota kelompoknya. Harap dicermati dan dikerjakan dengan baik ya. Terima Kasih."
"Baik pak, terima kasih."
Suasana laboratorium menjadi kembali ribut namun kini diikuti dengan langkah para mahasiwa keluar dari laboratorium.
Dika menuju loker penyimpanan barang dan mengambil sebuah tas kain berisi baju olahraga. Ia juga meletakan tas ranselnya serta mengunci loker miliknya.
Dika menuju toilet dan mengganti pakaiannya, kemudian Ia kembali meletakan baju kemeja nya di loker. Di pintu loker terdapat foto, foto yang selalu menjadi obat ketika Dika terkena masalah dan menjadi penyemangat .
Dika menutup lokernya dan segera menuju lapangan untuk olahraga. Dika mencoba berlari sprint dan menghitung waktu yang dibutuhkan, Ia juga melakukan scot jump,push up, dll semua itu dika lakukan agar Ia bisa lolos tes besok .
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Ardika menyudahi latihannya, Ia berjalan ke salah satu kursi di pinggir lapangan dan meminum air .
Cuaca sore ini tampak cerah, Ia akhirnya berjalan menuju loker dan mengambil tasnya. Dika mengecek tas ranselnya apakah Ia membawa buku untul digunakan les privat hari ini.
"Oh damn, bukunya nggak kebawa."
Dika segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri disana, setelah selesai Ia bergegas menuju rumah susun untuk mengambil buku yang ia perlukan. Ia hanya butuh delapan menit untuk sampai di rumah susun tersebut. Ardika langsung naik ke lantai atas dan menuju kamarnya.
Dika sampai di depan kamar dan mencari kartu untuk masuk. Dika menempelkan kartu dan masuk ke dalam.
"Oh shittt, Kris..."
Dika menutup mulutnya agar umpatannya tidak terdengar. Dihadapan Dika terlihat Kris sedang tidur di ranjangnya, namun Ia tidak sendiri.
Iya tentu saja bersama pacarnya.
Dika mengambil langkah pelan-pelan dan mencari buku di meja belajarnya . Banyak buku tebal yang ada diatas meja Dika, Ia belum sempat membereskan semuanya.
Tanpa sengaja Dika menyenggol buku tentang karakter Sel, virus dan teman - teman nya yang terlihat pada bagian depan buku.
"BUKKKK."
Buku dengan 100 halaman lebih itu jatuh ke lantai dan cukup membuat keributan.
Perempuan yang ada di pelukan Kris terbangun dan menyadari kehadiran Dika disitu. Ia berteriak dan langsung mendorong Kris hingga terjatuh ke lantai.
"AAAAAAA!!!! "
BUKKKK
"Awwww.. sakit."
Dika yang membuat keributan langsung menutupi wajah nya dengan buku yang akhirnya Ia temukan.
"Kenapa kamu dorong aku sampai jatuh?"
"Itu ada Dika disini."
Mereka berdua memang 'terpergok' Dika sedang tidur siang bersama, namun mereka masih memakai pakaian yang lengkap.
"Maaf Kris, gue pergi dulu."
Dika langsung menuju keluar dan mengambil kartu masuk. Ia segera menuruni tangga dan menuju halte bus.
Dika melirik jam digital di dekat kemudi bus, menunjukan pukul setengah lima sore. Sisa lima belas menit lagi les private dimulai dan Dika baru saja menaiki bus.
Ia takut membuat Arnica,Fio dan Alven menunggu. Ia mengambil ponselnya dan membuka ruang obrolan grup mereka
AUCKLAND,SINGAPORE,ADELAIDE UNIVERSITY AMEN!!!
Dika : "Maaf nica, fio,alven aku akan sedikit terlambat, sambil menunggu bisa persiapkan tugas yang diberikan sekolah dan buku soal - soalnya ya."
Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya dan berharap bus ini akan berjalan lebih cepat lagi.
Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya Dika sampai, Ia langsung berlari masuk ke dalam perumahan dan menujur rumah Nica.
Ia sampai di depan pintu kecil rumah tersebut dan menekan bel, namun tidak ada jawaban. Ia mengirim pesan ke grup obrolan. Namun tidak ada balasan.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah Nica dan si pengemudi keluar dari mobil.
"Maaf, cari siapa?"
"Aku guru les privat Arnica, aku ingin segera masuk namun tidak ada yang membuka kan pintu."
"Oh jadi ini yang katanya orang tampan? Baiklah sebentar." Ucap perempuan tersebut sarkas.
Trisa menuju pintu besar dan menekan sebuah tombol tidak terlihat. Gagang pintu terbuka dan terdapat kata kunci yang harus di masukan.
"Masuklah."
Dika segera masuk dan Trisa kembali ke dalam mobilnya Ia melajukan mobilnya ke dalam. Dika secara inisiatif menutup pintu gerbang, padahal baru saja Trisa ingin kembali turun dari mobil.
"Terima kasih telah membuka kan pintu. Saya permisi."
Dika segera berlari masuk ke dalam melewati kolam berenang dan menuju ruang baca yang biasa digunakan untuk Ia mengajar.
Trisa segera memarkirkan mobilnya dan mengambil tas serta jas laboratorium nya. Ia menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Trisa meletakan barangnya di atas meja dan merebahkan dirinya ke tempat tidur. Ia juga membuka masker yang belum Ia lepas setelah praktikum seharian ini.
"Ahh lelah nya hari ini ."
Ia mereganggkan badan dan bangun kembali, mengingat dirinya sangat kusut dan berkeringat Ia pergi ke kamar mandi unruk membersihkan dirinya.
Trisa menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk membersihkan diri dan berendam di bak. Ia lalu mengeringkan rambutnya dan mengenakan handuk kimono. Trisa keluar dan mendapati ponsel di mejanya memiliki beberapa notifikasi. Ia membaca beberapa pesan melalui notifikasi.
Gilang_Manajemen
“Sudah sampai rumah?”
“Akhir pekan ini ada rencana kemana?”
Trisa menghela napas dan melihat pesan dari sumber lain.
KEDOKTERAN- kelas A
Ia langsung membuka grup kelas tersebut. Grup kelas yang hanya berperan untuk asisten dosen mengirimkan bahan kuliah dan tugas.
Asisten dosen Frasya :
"Halo, selamat sore, ini tugas yang dijanjikan dosen praktikum hari ini , dan ini merupakan kelompok yang saya sudah buat. Kelompok ini akan di campur antara kelas A1 dan A2. Terima kasih, selamat mengerjakan."
Fahmi : "minggu depan dikumpulnya via apa kak?"
Asisten dosen Frasya : " lewat email ya, perwakilan kelompok saja."
Hasni : "Baik kak terima kasih."
Trisa segera menekan foto yang berisikan anggota kelompok. Ia mencari namanya dan voila! Ketemu.
"Hmmm.. Gading .. kenall, Gina ? Yess! Kenal juga, Florentina? Hmm kayaknya pernah denger pernah nyapa juga, Ardika? Ini siapa ya? Kayaknya ga pernah liat asing banget namanya."
"Ah yasudah lah, sekarang join grup chat dulu."
***
"Kak? Kakak beneran gak pernah ketemu kakak aku?"
"Nggak, aku juga belum pernah dengar namanya. "
"Padahal kakak aku seumuran loh sama kakak, harusnya kan satu kelas atau satu angkatan."
"Iya mungkin, tapi maaf aku belum pernah melihatnya."
"Oh baiklah tak apa, mungkin di lain kesempatan saja bila kakak ku pulang cepat akan aku perkenalkan."
"Baiklah!"
Dika melanjutkan membahas soal - soal dan memeriksa pekerjaan mereka bertiga.
Drtt drtt
KRISTAS BRO.
Kris : "Berkas lo diterima, besok lo dateng ke perusahaan itu, pukul 4.00 seleksinya udah dimulai."
Dika hanya melihat pesan dari Kris di layar notifikasi tanpa membalasnya. Usai Kris menyerahkan selembar pengumuman Dika langsung mempersiapkan berkas. Ia sudah sangat yakin akan mengikuti pekerjaan tersebut walaupun sebenarnya ada ketakutan di dalam dirinya.