Part 4

1321 Kata
DRRRRRTTTTT DRTTTTTTT Alarm jam digital di atas nakas bergetar berguna untuk membangunkan Ardika . "Dik.. bangun dik.." "Dik alarm lo brisik banget sumpah." Kris yang terganggu tidurnya menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal agar suara alarm tidak terdengar lagi. Ia berharap Ardika segera bangun dan mematikan alarmnya, nyatanya tidak. Kris melemparkan bantal dan mengenai pundak Dika. "Woi! Gila lo ya bangun woi! Alarm udah kenceng gak bangun juga." Waktu menunjukan pukul 2.45 AM, akhirnya Dika bangun setelah mendapat serangan bantal dari Kris. Ia harus bersiap untuk seleksi pagi ini, dengan cekatan Ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah selesai Dika keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk, Ia menyalakan microwave milik Kris dan memanaskan nasi cepat saji dan ayam teriyaki yang Ia beli tadi malam. Dika melanjutkan berpakaian dan menyisir rambutnya dan memakai jam tangan digitalnya. Waktu di jam tangan sudah menunjukan pukul 3.10 AM, Dika mengeluarkan makanan dari microwave dan membuka perlahan kemasan nasi cepat saji agar udara panas cepat keluar. Beberapa saat kemudian Dika menyantap sarapan dini hari nya dan keluar dari rumah susun menuju perusahaan pengamanan ternama di negara itu. Ia menaiki bus nomor 14, jam digital menunjukan pukul 3.30, seharusnya cukup 20 menit untuk sampai ke cloud8. Setelah dua puluh menit berlalu Ia sampai pada Cloud8. Ia disambut oleh keamanan gedung itu di depan gerbang. "Ada yang bisa kami bantu?" "Saya akan mengikuti test hari ini." Ardika menyerahkan berkas yang Ia bawa, petugas keamanan itu mengecek setiap lembarnya dan mengambil pena dari saku di dadanya. "Ardika Noema?" "Iya saya." Petugas keamanan itu kemudian memasukan lembaran kertas ke dalam amplop panjang dan menyerahkan kembali kepada Ardika. "Silakan masuk ke dalam, berlarilah ke lapangan dalam satu menit." Ardika langsung mengambil berkasnya dan berlari menuju lapangan. Ia sambil melirik sebentar jam tangannya. Akhirnya Ia sampai pada lapangan beton tepat sekali di depan gedung Cloud8. Seorang wanita berpakaian rapi lengkap dengan jas hitam dan dasi hitam menghampiri Dika. "Ardika Noema? Berikan berkas nya dan segera berbaris." Dika segera menyerahkan berkas itu kepada wanita itu dan masuk ke barisan. Sudah puluhan orang berbaris disitu, mungkin sekitar 40 sampai 50 yang bisa Dika lihat. Seorang laki-laki berumur tiga puluh - an berdiri didepan barisan dan di sampingnya beberapa bodyguard. "Baik, Sekarang sudahh pukul 4 pagi. C-1 tolong katakan pada petugas di depan sana agar menutup pintu ." "C-1 untuk D-2 harap menutup gerbang depan." Bila saja Ardika terlambat sedikit, mungkin Ia tidak akan ada di tempat ini. Lihat saja Ardika peserta paling akhir datang ke lapangan Cloud8. " Baik, terima kasih C1." "Oke, selamat pagi semuanya. Kalian mengetahui untuk apa kalian disini. Selama dua jam akan ada 5 test yang akan kalian lalui. Semua test mempunyai waktu tersendiri. Bila gagal di babak awal, maka tidak dapat mengikuti babak kedua, begitu seterusnya. Mengerti?" "Siap, mengerti." Jawab seluruh peserta. "Silakan letakan barang-barang kalian di dekat pilar gedung dan kembali berbaris. Lima detik!" Dika langsung berlari menuju pilar yang sudah ditandai, pilar tersebut berada di paling ujung pintu masuk gedung. Bersiap lah Dika, dirimu akan menggunakan seluruh kekuatan hari ini. " Satu ... Dua.... Tiga... Empat..." Dika segera berlari kembali ke barisannya dan mengatur napasnya. "Lima." Semua orang sudah kembali ke tempat dan laki-laki yang memberi arahan itu kembali berbicara. "Baik , kita mulai babak satu dan dua ." Babak 1. Tercepat, terkuat. Babak 2 . Terselamatkan . Dika tidak menyadari di samping gedung terdapat jalur marathon seluas empat ratus meter. "Semua berpacu pada waktu, bukan siapa yang paling cepat sampai di setiap sesinya. Kalian memiliki waktu sepuluh menit untuk berlari satu putaran dan melepaskan VIP dari bahaya di depan sana. Setelah itu kalian mempunyai waktu empat menit untuk membawa VIP ke tempat aman. VIP tidak boleh terluka ataupun kesakitan sampai di tempat aman. Mengerti?" *VIP = VERY IMPORTANT PERSON "Siap Mengerti." Jawab semua peserta. Babak satu di bagi menjadi lima sesi, setiap sesi terdapat 10 orang. Jalur yang telah dilukis rapi pada lapangan itu tak ada artinya karena semua peserta harus sampai pada target dengan cepat. Ardika mendapat sesi ke tiga. Sesi pertama dimulai dan sepuluh orang pertama bersiap di lintasan. "Bersiap, YAK!" Sesi pertama dimulai, para peserta mulai berlari untuk mencapai satu putaran. Semua peserta nampak terlihat sangat cepat. Lima menit berlalu sudah banyak peserta yang sampai pada target. Mereka melepaskan target yang terikat pada kursi, di bawah kursi hanya di sediakan pisau pemotong yang biasa dikategorikan sebagai alat tulis. Setelah selesai, target akan dibawa ke tenda penyelamatan, namun mereka perlu berlari setengah putaran untuk sampai ke tenda. Sesi satu berlalu dan berlanjut pada sesi dua, lima belas menit berlalu dan waktunya pun pas. Ardika merasa ingin mengundurkan diri namun Ia mengingat mimpi dirinya dan Ibunya agar Dika mempunyai predikat dokter. "Kamu pasti bisa sekolah sampai tinggi, ibu akan berusaha untuk membiayai mu." Namun Ia tidak bisa melihat ibunya terus menerus berjuang sendirian. Ardika sudah turun di jalur, dibagi menjadi lima baris ke samping dan 2 ke belakang. Ardika berada pada baris kedua. "Bersiap .... YAK!" Ia segera berlari, peserta lain terlihat saling mendahului. Dika terus berlari tanpa henti sambil mengatur napasnya. Setengah putaran berlalu dan tinggal setengah lagi, nampak Ia berada di urutan ke lima. Letak VIP tidak terlihat jauh dari pandangan Dika, Ia sebentar lagi akan sampai. Tiga menit berlalu dan Ardika sampai dan Ia segera menuju VIP yang terikat. Menarik salah satu tali dan memotong simpulnya. Ia segera melepaskan tali dari tubuh VIP dan menggendongnya. Dika menggendongnya di belakang punggung. Sisa beberapa menit lagi untuk membawa target ke tenda. Akhirnya, dalam waktu dua menit Dika sampai pada tenda dan meletakan target dengan baik tanpa ada luka sedikitpun. "Ardika Noema. sepuluh menit total semua waktu ." "Iya, saya." "Silakan kembali ke tempat berbaris di awal, berjalan kaki agar kaki tidak kram." Dika berjalan menuju pinggir lapangan. Ia tidak menyangka dirinya berhasil melewati babak ini. "Baik tinggal sesi terakhir, yang sudah melewati babak satu dan lima silakan berisitirahat. " Sesi terakhir selesai dan beberapa orang berjas mendatangi laki-laki pemberi arahan. Mereka turun dari mobil pickup dan satu orang dari merka membawa laptop. Ia membuka laptopnya dan menunjukan sesuatu pada pembina itu. "Baik terima kasih D-3 , Grup D silakan dibagikan tasnya." Grup D membawa tiga puluh tas ransel berukuran sedang dan memberikan pada beberapa peserta. "Silakan D-3 dipersiapkan ." Layar hologram muncul di depan para peserta dan memperlihatkan nama - nama peserta yang lolos . Nama Ardika terdapat disana dan Ia mendapat ransel tersebut. "Baik, yang mendapat tas ransel segera masuk ke babak tiga . Berlarilah dalam waktu satu menit ke dalam gedung tiga . Cepat!' Dika segera berlari dan menuju gedung tiga, letak gedung tersebut di belakang gedung utama tempat Dika berbaris tadi. Beberapa penjaga gerbang tadi memegang tanda arah di tengah perjalanan. Babak 3. Berantas lawan. Ardika sampai di lobi gedung tiga dan terdapat kartu-kartu yang menggantung di dalam lobi. Kartu-kartu itu berisi nama dan nomor sebuah ruangan di gedung tiga. Ardika melompat dan mengambil kartu. Gatcha! Ardika langsung melihat peta di dekat tangga darurat dan Ia perlu menaiki satu lantai untuk sampai pada ruangannya. Dika segera membuka pintu darurat dan menaiki tangga. Lift tidak tersedia sebelum jam enam pagi. Ia sampai pada lantai dua dan masuk menuju lorong 1021- 1030. Nomor ruangannya ada pada 1028. Ia sampai pada depan pintu dan menekan kartu yang Ia genggam ke handle pintu. Suara tanda kartu cocok berbunyi dan pintu terbuka. Ia masuk dan di dalamnya terdapat ruangan kosong berukuran 6 x 5 meter. Sebuah layar hologram muncul ditengah ruangan dan menunjukan beberapa petunjuk. 'Silakan manfaatkan segala alat yang ada pada ransel untuk melewati babak ini." Ardika memindahkan ranselnya kedada dan mengecek apa yang ada di dalamya. Tersedia pistol, pisau, tali, hanger dan sebuah tongkat. Didalamnya juga terdapat rompi pinggang yang menampung alat-alat tadi. Dika langsung mengenakan semua alat tadi pada tubuhnya dan waktu pada layar hologram mulai menghitung mundur dari angka 5. Tiba - tiba ada banyak boneka papan berdiri didepan Ardika dan siap menembak Dika. TETTTTT…. Pertandingan dimulai. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN